Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja emiten yang tergabung dalam indeks BUMN20 diprediksi memiliki prospek yang lebih cerah setelah dilakukan evaluasi ulang pada periode ini.
Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja menyelesaikan evaluasi terhadap indeks BUMN20. Evaluasi mayor ini berlaku mulai dari 4 Februari hingga 4 Agustus 2026.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan komposisi. Saham PT Timah Tbk (TINS) dikeluarkan dari indeks BUMN20, sementara saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) masuk sebagai anggota baru.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, berpendapat bahwa perubahan mayor pada IDX BUMN20 cenderung bersifat netral. Namun, ia melihat adanya potensi sebagai katalis untuk pemulihan kinerja indeks.
Rotasi dari sektor komoditas ke sektor riil, serta penyesuaian bobot emiten telekomunikasi, dinilai akan membuat komposisi indeks menjadi lebih sehat.
“Valuasi BUMN20 saat ini juga menarik dan berpotensi menjadi sektor pertama yang pulih ketika aliran dana asing kembali masuk,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (30/1).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menambahkan bahwa prospek BUMN20 pasca-evaluasi mayor tetap relatif menarik, meskipun pasar saat ini diwarnai oleh volatilitas global.
Komposisi indeks BUMN20 tetap didominasi oleh emiten dengan kapitalisasi besar dan likuid, terutama dari sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI. Sektor perbankan memiliki fundamental yang kuat, pangsa pasar yang besar, serta peran strategis dalam perekonomian nasional.
Kehadiran emiten berbasis komoditas seperti PTBA, ANTM, dan PGAS berpotensi menjadi penopang tambahan kinerja indeks, seiring dengan tren kenaikan harga komoditas global.
Sentimen positif juga datang dari potensi partisipasi investor institusi domestik dan negara yang fokus pada saham dengan *free float* minimal 15%.
“Mayoritas konstituen BUMN20 telah memenuhi kriteria tersebut,” ungkap Hari kepada Kontan, Jumat.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai bahwa *rebalancing* ini membuat BUMN20 menjadi kurang defensif dan lebih siklikal. Hal ini seiring dengan penurunan bobot TLKM dan MTEL, serta perubahan komposisi sektor.
“Penurunan harga pada saham-saham di BUMN20 juga bisa menjadi peluang untuk membeli saham dengan kondisi diskon. Sebab, secara valuasi, mayoritas harga saat ini tergolong *undervalued*,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.
Ke depan, penopang kinerja IDX BUMN20 masih akan berasal dari emiten perbankan besar. Wafi menambahkan bahwa masuknya SMBR memberikan sentimen positif bagi sinergi infrastruktur.
Di sisi lain, tekanan untuk saham TLKM dan MTEL karena penurunan bobot bersifat sementara.
“Rata-rata valuasi emiten BUMN20 masih *undervalued*, karena di bawah rata-rata *price to book value* (PBV) 5 tahun mereka,” tuturnya.
Wafi merekomendasikan beli untuk BMRI, TLKM, dan SMBR dengan target harga masing-masing Rp 5.800 per saham, Rp 5.100 per saham, dan Rp 280 per saham.
Hari melihat bahwa penopang utama BUMN20 ke depan masih berasal dari sektor perbankan dan komoditas.
Dari sektor perbankan, emiten yang bisa diperhatikan adalah BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, dan BRIS.
“Sektor ini diuntungkan dari pertumbuhan kredit yang berkelanjutan, perbaikan kualitas aset, serta posisi permodalan yang solid,” ungkapnya.
Dari sektor komoditas dan energi, emiten yang bisa diperhatikan adalah ANTM, PTBA, PGAS, dan PGEO.
“Sektor ini terdorong oleh tren harga global serta proyek strategis nasional terkait energi dan hilirisasi,” jelasnya.
Dari sisi aliran dana, BUMN20 relatif menarik bagi investor asing karena likuiditas yang tinggi, kapitalisasi yang besar, dan tingkat *free float* yang relatif memadai.
Namun demikian, sentimen negatif juga masih ada. Terutama berasal dari volatilitas global, kebijakan suku bunga, serta dinamika fiskal domestik yang perlu dicermati dalam jangka pendek.
“Secara umum, valuasi saham BUMN20 juga masih relatif mencerminkan fundamental dengan karakteristik sektoral yang beragam,” kata Hari.
Sukarno melihat bahwa penopang utama IDX BUMN20 masih berasal dari emiten bank BUMN besar (BBRI, BMRI, dan BBNI) serta emiten energi/komoditas (PGEO, PGAS, PTBA, dan ANTM). Sementara TLKM dan MTEL berperan lebih sebagai penahan volatilitas.
Sentimen positif ke emiten konstituen BUMN20 datang dari valuasi bank yang relatif murah, potensi dividen, serta proyek hilirisasi dan transisi energi.
“Sementara risikonya berasal dari volatilitas komoditas dan perlambatan global. Emiten berfundamental kuat masih berpeluang menarik dana asing,” tuturnya.
Sukarno pun merekomendasikan beli untuk TLKM, MTEL, dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham, Rp 735 per saham, dan Rp 5.300 per saham. Rekomendasi *hold* juga disematkan untuk PTBA dengan target harga Rp 2.670 per saham.
Ringkasan
Evaluasi indeks BUMN20 oleh BEI menunjukkan prospek kinerja emiten yang lebih cerah, dengan perubahan komposisi yang cenderung netral namun berpotensi menjadi katalis pemulihan. Saham TINS dikeluarkan, sementara SMBR masuk, dan rotasi dari sektor komoditas ke riil, serta penyesuaian bobot telekomunikasi, dinilai menyehatkan komposisi indeks. Valuasi BUMN20 saat ini dianggap menarik, berpotensi menjadi sektor pertama yang pulih saat dana asing kembali masuk.
Penopang utama kinerja IDX BUMN20 diperkirakan berasal dari emiten perbankan besar dan komoditas. Sektor perbankan diuntungkan pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas aset, sementara komoditas didukung tren harga global dan proyek strategis nasional. Sentimen positif juga datang dari potensi partisipasi investor institusi domestik dan negara yang fokus pada saham dengan free float minimal 15%.