Kebutuhan Uang Tunai di Ciayumajakuning Menurun, Ini Kata BI!

CIREBON – Shoesmart.co.id – Bank Indonesia (BI) mencatat adanya kebutuhan uang tunai yang signifikan di masyarakat Ciayumajakuning selama bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri 2026. Total kebutuhan mencapai Rp3,97 triliun. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan sebesar 5,16% atau sekitar Rp216 miliar dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai Rp4,18 triliun, BI tetap memandang kebutuhan uang tunai di wilayah ini cukup tinggi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menjelaskan bahwa realisasi kebutuhan uang tunai tahun 2026 ini justru melampaui proyeksi awal. “Realisasi tahun ini mencapai 102,06% dari proyeksi sebesar Rp3,89 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan uang tunai dari masyarakat masih cukup kuat,” ungkapnya pada hari Rabu, 8 April 2026.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama di tahun sebelumnya, melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2025, realisasi kebutuhan uang tunai bahkan mencapai Rp4,18 triliun atau setara dengan 102,23% dari proyeksi yang ditetapkan.

Untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat, Bank Indonesia membuka layanan penukaran uang melalui aplikasi PINTAR dalam dua periode, mulai dari 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Layanan ini didukung oleh 99 titik penukaran yang tersebar di seluruh wilayah Ciayumajakuning, dengan total kuota mencapai 14.900 paket penukaran.

Menurut Rengganis, penyediaan layanan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan uang tunai yang layak edar di masyarakat. Selain itu, langkah ini juga sebagai antisipasi terhadap lonjakan permintaan uang pecahan kecil yang biasanya meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri. “Kami berupaya mendistribusikan layanan ini secara merata agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses penukaran uang dengan aman dan tertib,” tambahnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia mengamati adanya perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi. Penurunan kebutuhan uang tunai pada tahun 2026 ini sejalan dengan semakin populernya penggunaan kanal pembayaran digital.

Rengganis mengungkapkan bahwa sebagian kebutuhan uang masyarakat kini mulai beralih ke layanan tarik tunai tanpa kartu (TUKAB). “Sekitar 35% pemenuhan kebutuhan uang tunai masyarakat dilakukan melalui layanan TUKAB. Ini menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor keuangan mulai memberikan dampak yang signifikan,” jelasnya.

Meskipun demikian, Bank Indonesia tetap mengakui bahwa uang tunai masih memegang peranan penting, terutama dalam mendukung tradisi masyarakat selama bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri.

Kebutuhan akan uang pecahan kecil untuk keperluan bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) dan berbagai aktivitas sosial lainnya masih menjadi faktor utama tingginya permintaan uang tunai.

“Kami akan terus menjaga keseimbangan antara penyediaan uang tunai dan penguatan ekosistem pembayaran digital. Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi distribusi uang rupiah serta edukasi kepada masyarakat untuk menggunakan transaksi non-tunai secara lebih luas,” pungkasnya.

Ringkasan

Bank Indonesia (BI) mencatat kebutuhan uang tunai di Ciayumajakuning selama Ramadan dan Idulfitri 2026 mencapai Rp3,97 triliun, sedikit menurun dari tahun sebelumnya namun melampaui proyeksi awal BI. BI menyediakan layanan penukaran uang melalui aplikasi PINTAR yang didukung 99 titik penukaran dengan total kuota 14.900 paket.

Penurunan kebutuhan uang tunai ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan kanal pembayaran digital, termasuk layanan tarik tunai tanpa kartu (TUKAB) yang memenuhi sekitar 35% kebutuhan uang tunai masyarakat. Meskipun demikian, BI mengakui uang tunai masih penting, terutama untuk tradisi Ramadan dan Idulfitri, serta terus menjaga keseimbangan antara penyediaan uang tunai dan penguatan pembayaran digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *