Shoesmart.co.id JAKARTA. Reformasi dan akselerasi pasar modal terus digenjot. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan kapitalisasi pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp 25.000 triliun pada tahun 2031.
Target ambisius ini diungkapkan oleh Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK. Menurutnya, angka tersebut setara dengan 80% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sebuah kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia.
Dalam pertemuan dengan Komisi XI DPR RI pada Rabu (11/3) lalu, Hasan juga memproyeksikan peningkatan jumlah investor pasar modal hingga 30 juta orang. Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di pasar modal diharapkan dapat mencapai Rp 35 triliun per hari, mencerminkan aktivitas perdagangan yang semakin dinamis.
Deretan Emiten Ini Umumkan Rencana Buyback Saham, Begini Prospek Sahamnya
Lebih lanjut, Hasan Fawzi menambahkan, “Sejalan dengan target-target tersebut, kami juga mengharapkan peningkatan jumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, serta peningkatan dana kelolaan investor di pasar modal.”
Sebagai perbandingan, data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) per 13 Maret 2026 menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar saat ini berada di angka Rp 12.678 triliun. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun 2026 adalah sebesar Rp 28,54 triliun.
Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), berpendapat bahwa target tersebut pada awalnya realistis. Namun, kebijakan baru terkait self regulatory organization (SRO) mengenai minimum free float sebesar 15% dan pengungkapan pemegang saham hingga 1% dapat menjadi tantangan tersendiri.
Di sisi lain, Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana, justru menilai target tersebut sangat realistis dan berpotensi besar untuk dicapai. Ia optimis bahwa peningkatan kapitalisasi pasar dalam lima tahun mendatang dapat didorong oleh kenaikan harga saham secara fundamental dan masuknya emiten baru dengan kapitalisasi besar.
“Pengetatan aturan reformasi pasar modal saat ini memang berpotensi mengurangi jumlah IPO. Akan tetapi, kita berharap IPO yang ada akan lebih berkualitas dengan kapitalisasi pasar yang tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (13/3/2026).
Senada dengan Hans Kwee, Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan, berpandangan bahwa jika dilihat dari pertumbuhan historis, target tersebut sangatlah realistis. Menurutnya, kapitalisasi pasar yang mencapai Rp 25.000 triliun dalam lima tahun ke depan mengindikasikan pertumbuhan CAGR (Compound Annual Growth Rate) per tahun sebesar 10%.
“Sementara pertumbuhan CAGR dalam 5 tahun terakhir berada di kisaran 17,8% per tahun,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (13/3).
Alfred menambahkan bahwa kenaikan kapitalisasi pasar Bursa ke depan dapat berasal dari dua sumber utama: kenaikan harga saham dan penambahan jumlah emiten. Kedua hal ini akan bermuara pada peningkatan investasi, baik dari investor lokal maupun asing, serta investor ritel maupun institusi. Dengan demikian, upaya ini sejalan dengan penyehatan pasar modal secara keseluruhan.
5 Situs Trading Terbaik di 2026: Fitur, Biaya, dan Kelebihannya
“Semakin sehat pasar modal, maka animo investor untuk berinvestasi di pasar akan semakin tinggi. Kualitas Bursa akan menjadi penentu tercapainya target tersebut,” ungkapnya.
Untuk mendorong peningkatan kapitalisasi pasar Bursa secara sehat, Budi Frensidy melihat setidaknya ada empat hal utama yang perlu digalakkan.
Pertama, mendorong lebih banyak emiten dalam negeri untuk masuk ke indeks global. Kedua, menarik emiten asing untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Ketiga, mengajak korporasi Indonesia yang tercatat di bursa luar negeri untuk melakukan listing di dalam negeri. Keempat, mendorong korporasi-korporasi besar Indonesia untuk melantai di BEI.
“Jangan juga membuat aturan yang mengada-ada, seperti FCA (free cash flow to assets), suspensi tanpa aturan yang jelas, dan lainnya,” tegasnya.
Hans Kwee menambahkan bahwa aksi reformasi dari SRO dapat mendorong kenaikan jumlah investor ritel dan membuka peluang bagi MSCI (Morgan Stanley Capital International) untuk meningkatkan bobot Bursa Indonesia di masa yang akan datang. Kondisi ini pada gilirannya akan mendukung peningkatan kapitalisasi pasar saham Indonesia.
Ke depan, tantangan peningkatan kapitalisasi pasar ini berasal dari kondisi global yang sangat fluktuatif, terutama terkait kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta perlambatan ekonomi China.
“Selain itu, pemerintah perlu menjaga anggaran APBN yang sehat agar investor asing percaya dengan Indonesia,” paparnya.
Alfred Nainggolan merinci setidaknya ada empat cara untuk meningkatkan kapitalisasi pasar Bursa secara sehat.
Pertama, melalui kenaikan harga saham yang fundamental. Secara teoritis, kenaikan harga saham berasal dari kenaikan nilai atau kinerja perusahaan, sehingga kondisi fundamental dan kondisi makroekonomi menjadi faktor terbesarnya. Target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang ambisius juga sejalan dengan target OJK tersebut.
PT PP (PTPP) Dapat Rating idBBB+ dengan Outlook Negatif dari Pefindo
Pada kondisi Bursa saat ini, terdapat ketidakcocokan antara nilai perusahaan dan harga saham. Ada saham yang harganya irasional (cornering), serta ada juga saham yang harganya jauh di bawah nilai bahkan tidak likuid.
“Kondisi ini yang menandakan sehat atau tidaknya suatu emiten. Di poin ini, kuncinya adalah keterbukaan informasi,” katanya.
Kedua, dengan penambahan jumlah emiten. Selain berkontribusi terhadap total kapitalisasi, penambahan emiten juga menambah jumlah instrumen atau pilihan bagi pasar, sehingga daya tarik bursa semakin tinggi.
“Jumlah emiten per Januari 2026 sebanyak 958 emiten dengan CAGR rerata lima tahunan 6%. Artinya, rata-rata penambahan 50 emiten per tahun,” ungkapnya.
Ketiga, dengan penambahan jumlah investor. Kenaikan harga saham dan masuknya emiten baru sangat ditentukan oleh permintaan dari investor, baik domestik, asing, ritel, maupun institusi. Oleh karena itu, penambahan jumlah investor akan semakin menambah kemampuan penyerapan atau pembelian saham.
Menurut perhitungan Alfred, jumlah investor di akhir tahun 2025 sebanyak 20,3 juta, tumbuh 23% per tahun (CAGR 10Y) atau bertambah 1,7 juta investor per tahun.
“Jika melihat populasi Indonesia, peluangnya masih sangat besar. Apalagi ditambah dengan potensi investor asing,” katanya.
Terakhir, infrastruktur pasar. Ketertarikan investor dan calon emiten sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur pasar modal, baik dari segi regulasi, sistem perdagangan, hingga regulatornya sendiri.
Ke depan, setidaknya ada dua tantangan besar yang harus diantisipasi agar target pertumbuhan kapitalisasi pasar Rp 25.000 triliun tercapai.
Prospek Kinerja Metrodata (MTDL) Ditopang Solusi Cloud & AI, Ini Rekomendasi Sahamnya
Pertama, faktor gejolak eksternal yang di luar kendali, seperti perekonomian global. Oleh karena itu, komunikasi dan koordinasi yang baik antara Pemerintah dan regulator bursa menjadi krusial.
Kedua, upaya membangun kepercayaan pasar. Menurut Alfred, pekerjaan rumah besar Bursa Indonesia adalah lemahnya pengawasan dan transparansi oleh regulator.
Praktik pengaturan harga saham yang masih terjadi menunjukkan lemahnya pengawasan. “Kebijakan-kebijakan atau keputusan regulator masih banyak dipertanyakan oleh investor, yang mengindikasikan kurangnya komunikasi dan keterbukaan,” paparnya.
Ringkasan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan kapitalisasi pasar saham Indonesia mencapai Rp 25.000 triliun pada tahun 2031, setara dengan 80% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Target ini juga mencakup peningkatan jumlah investor menjadi 30 juta orang dan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp 35 triliun per hari. Beberapa analis pasar modal menilai target ini realistis dan dapat dicapai dengan mendorong kenaikan harga saham secara fundamental dan masuknya emiten baru dengan kapitalisasi besar.
Untuk mencapai target tersebut, beberapa hal perlu digalakkan, termasuk mendorong emiten dalam negeri untuk masuk ke indeks global dan menarik emiten asing untuk mencatatkan sahamnya di BEI. Tantangan utama meliputi gejolak eksternal seperti perekonomian global dan perlunya membangun kepercayaan pasar melalui pengawasan yang kuat dan transparansi regulator.