Kabar tentang kapal ‘Zombie’ di Selat Hormuz menjadi sorotan utama kumparanBISNIS pada hari Senin (23/3). Selain itu, performa saham Asia yang merosot juga menarik perhatian banyak pihak.
Berikut rangkuman berita populer selengkapnya:
Kapal ‘Zombie’ Kembali Hantui Selat Hormuz, Gunakan Identitas Palsu?
Fenomena kapal ‘zombie’ kembali menimbulkan keresahan di jalur maritim Selat Hormuz, urat nadi vital bagi perdagangan minyak dunia. Sebuah kapal yang dicurigai menggunakan identitas palsu, dengan nama ‘Nabiin’, terdeteksi melintas di perairan Teluk Persia dan Teluk Oman pada Minggu (22/3) dan Senin (23/3).
Menurut laporan Bloomberg News, kapal asli bernama Nabiin telah dibongkar di Bangladesh lima tahun silam. Fakta ini mengindikasikan bahwa kapal yang muncul kembali ini adalah entitas ilegal yang beroperasi dengan mencatut identitas kapal yang sudah tidak aktif. Kejadian ini mengindikasikan adanya upaya sistematis untuk menghindari pengawasan dan sanksi di tengah tensi geopolitik yang memanas.
Kemunculan kapal ‘zombie’ ini bukan kali pertama. Sebelumnya, kapal bernama Jamal juga terpantau beroperasi dengan modus serupa setelah didokumentasikan di tempat pembongkaran kapal di India tahun lalu. Modus operandi yang umum digunakan adalah pemalsuan identitas dan pemadaman sinyal geolokasi. Hal ini menunjukkan tantangan besar bagi otoritas maritim dalam menegakkan regulasi dan menjaga keamanan di perairan internasional yang strategis.
Situasi semakin rumit dengan adanya gangguan elektronik yang parah pada sinyal transmisi kapal. Kondisi ini mempersulit pelacakan dan memungkinkan kapal-kapal tersebut mengangkut kargo, yang kemungkinan besar berupa minyak mentah, tanpa tujuan yang jelas atau pengawasan yang memadai.
Aktivitas kapal-kapal ‘zombie’ ini diduga kuat terkait dengan upaya para pemilik kapal untuk menyelundupkan kargo melewati Selat Hormuz, terutama setelah terjadinya serangan AS-Israel terhadap Iran yang membuat kawasan tersebut semakin tegang.
Saham Asia Berguguran Setelah Ultimatum Trump kepada Iran Soal Selat Hormuz
Pasar saham Asia mengalami tekanan berat pada awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, atau menghadapi konsekuensi serius, memicu kekhawatiran di kalangan investor global. Akibatnya, imbal hasil obligasi AS melonjak ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Indeks Nikkei Jepang anjlok sebesar 3,9 persen, memperburuk penurunan bulanan menjadi lebih dari 13 persen. Bursa saham Korea Selatan juga mengalami pelemahan signifikan, yaitu sebesar 4,5 persen, dengan akumulasi penurunan bulanan mencapai 12 persen. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang juga terkoreksi sebesar 1,2 persen, mencerminkan sentimen pasar yang sangat bearish.
Ringkasan
Berita utama meliputi kembalinya fenomena kapal ‘zombie’ di Selat Hormuz, di mana sebuah kapal bernama ‘Nabiin’ diduga menggunakan identitas palsu kapal yang telah dibongkar. Aktivitas ini diduga terkait dengan upaya penyelundupan kargo dan menghindari pengawasan di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan tersebut. Gangguan elektronik pada sinyal kapal semakin mempersulit pelacakan dan pengawasan.
Selain itu, pasar saham Asia mengalami penurunan signifikan akibat ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Ultimatum ini meningkatkan kekhawatiran investor, menyebabkan imbal hasil obligasi AS melonjak dan indeks saham seperti Nikkei Jepang dan bursa saham Korea Selatan mengalami penurunan yang tajam.