Jasindo Syariah: Kenapa Kami Tak Investasi Saham? Ini Alasannya!

PT Asuransi Jasindo Syariah memilih strategi investasi yang berhati-hati dengan tidak menempatkan dana di instrumen saham. Wahyudi, Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasindo Syariah, mengungkapkan alasan di balik keputusan ini adalah untuk meminimalisir risiko dalam pengelolaan investasi.

“Saat ini, perusahaan belum memiliki portofolio investasi dalam bentuk saham. Kami menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan investasi dan investasi dalam saham memiliki eksposur risiko yang cukup besar,” jelas Wahyudi kepada Kontan, Kamis (5/2/2026). Pernyataan ini menegaskan komitmen perusahaan terhadap pengelolaan risiko yang terukur.

Sebagai gantinya, Jasindo Syariah akan terus mengandalkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai instrumen investasi utama di tahun 2026. Wahyudi menjelaskan bahwa SBSN menawarkan sejumlah keunggulan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

“Instrumen SBSN dinilai relatif aman, memiliki imbal hasil yang menarik, serta pemilihan tenor yang dapat disesuaikan dengan durasi liabilitas perusahaan,” imbuhnya. Fleksibilitas dan keamanan yang ditawarkan SBSN menjadi daya tarik utama bagi Jasindo Syariah.

Pada tahun 2025, penempatan investasi perusahaan di instrumen SBSN mencapai 35% dari total portofolio investasi. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 50%. Wahyudi menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh faktor jatuh tempo SBSN.

Kendati demikian, penempatan investasi, termasuk pada instrumen SBSN, merupakan bagian dari strategi penempatan investasi secara aktif dengan risiko terukur, patuh terhadap aturan, dan berkelanjutan berdasarkan Risk Base Investment (RBI).

Lebih lanjut, perusahaan akan menyesuaikan strategi penempatan portofolio investasi dengan memperhatikan Asset Liability Management (ALM) dan Liability Driven Investment (LDI). Hal ini berarti perusahaan berupaya untuk menyeimbangkan aset investasi dengan kewajiban yang dimiliki, demi memberikan proteksi dan kelancaran pembayaran klaim.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi industri asuransi syariah mencapai Rp 40,20 triliun per November 2025, meningkat 12,42% secara *year-on-year* (YoY).

Penempatan investasi di SBSN pada periode yang sama mencapai Rp 17,26 triliun, naik 19,86% YoY, dengan porsi 42,93% terhadap total portofolio investasi. Sementara itu, investasi di saham mencapai Rp 7,80 triliun per November 2025, meningkat 19,81% YoY.

Ringkasan

PT Asuransi Jasindo Syariah memilih untuk tidak berinvestasi pada saham karena dianggap memiliki eksposur risiko yang cukup besar. Sebagai gantinya, perusahaan mengandalkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai instrumen investasi utama karena dinilai relatif aman dan memiliki imbal hasil yang menarik.

Penempatan investasi Jasindo Syariah di SBSN pada tahun 2025 mencapai 35% dari total portofolio investasi. Perusahaan menyesuaikan strategi penempatan portofolio investasi dengan memperhatikan Asset Liability Management (ALM) dan Liability Driven Investment (LDI) untuk menyeimbangkan aset dan kewajiban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *