
Shoesmart.co.id – Pergerakan pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan tren terbatas pada perdagangan Selasa (20/1). Suasana pasar yang hati-hati ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kembali mencuatnya ancaman tarif Amerika Serikat (AS), kali ini terkait dengan isu Greenland yang memanas.
Ketegangan geopolitik akibat isu Greenland telah memicu kekhawatiran serius mengenai semakin lebarnya jarak dalam hubungan AS-Eropa. Berbagai negara di Eropa dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi respons, mulai dari pengenaan tarif balasan hingga langkah-langkah ekonomi represif lainnya, sebagai tanggapan atas ancaman tarif baru yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah-langkah ini berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik yang sudah sensitif terkait status Greenland.
Donald Trump pada Sabtu pekan lalu secara mengejutkan mengumumkan bahwa ekspor dari delapan negara Eropa tertentu akan dikenakan tarif awal sebesar 10% yang efektif mulai 1 Februari. Ancaman ini akan meningkat tajam hingga 25% pada 1 Juni, apabila perundingan yang tengah berlangsung gagal mencapai kesepakatan yang memungkinkan Amerika Serikat untuk mengambil alih kendali atas Greenland. Wilayah ini merupakan pulau semi-otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark, dikenal kaya akan sumber daya mineral yang strategis.
Harga Bitcoin: Sinyal Beli di US$92.000, Siap Menuju US$100.000?
Di kawasan Asia, sentimen pasar yang berhati-hati juga terasa. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong tercatat di level 26.640, menunjukkan sedikit penguatan dibandingkan penutupan terakhir indeks Hang Seng yang berada di posisi 26.563,9.
Saham Barsama Zatta (ZATA) Terbang 34%, Rencana RUPSLB Jadi Sorotan
Pelaku pasar di Jepang juga mencermati perkembangan politik internal. Sebelumnya, Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan pada Senin bahwa ia berencana membubarkan parlemen dan menggelar pemilihan umum lebih awal (snap election) yang dijadwalkan pada 8 Februari mendatang. Berita ini turut memengaruhi performa pasar, di mana indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,7%, sementara indeks Topix turun 0,52%.
Di wilayah lain Asia, pasar juga menunjukkan pelemahan. Di Korea Selatan, indeks Kospi terkoreksi sebesar 0,41%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq menunjukkan pergerakan yang stagnan. Tren penurunan serupa terlihat di Australia, dengan indeks S&P/ASX 200 yang merosot 0,46%.
Dijaga orang Terkaya Indonesia, Penurunan Harga Dua Saham Ini Berbalik Arah
Sementara itu, indikator kontrak berjangka saham Amerika Serikat mengisyaratkan pembukaan yang melemah di Wall Street. Hal ini tak lain merupakan cerminan dari meningkatnya ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh pernyataan Donald Trump yang semakin agresif terkait isu Greenland, menambah lapisan kompleksitas pada dinamika ekonomi dan geopolitik global.
Ringkasan
Pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan terbatas pada Selasa (20/1) karena kekhawatiran investor terhadap ancaman tarif baru Amerika Serikat terkait isu Greenland. Presiden AS Donald Trump mengumumkan potensi tarif awal 10% (efektif 1 Februari) pada ekspor delapan negara Eropa, yang dapat meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika AS tidak dapat mengambil alih Greenland, sebuah wilayah kaya mineral strategis di bawah Denmark. Isu ini memperkeruh hubungan AS-Eropa dan memicu pertimbangan tarif balasan dari negara-negara Eropa.
Sentimen hati-hati ini tercermin di bursa Asia, dengan indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,7% dan Kospi Korea Selatan terkoreksi 0,41%. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga merosot 0,46%, sementara kontrak berjangka saham AS mengisyaratkan pembukaan yang lemah di Wall Street. Perkembangan geopolitik ini menambah ketidakpastian pada dinamika ekonomi global.