Irwan Hidayat Ajak Masyarakat Investasi Saham: Cara Tingkatkan Partisipasi?

Partisipasi masyarakat Indonesia dalam pasar modal masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Data Gallup (2024) menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, kepemilikan saham telah merambah ke 62 persen populasi dewasa.

Kontras dengan kondisi tersebut, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa jumlah investor di Indonesia baru mencapai 20,3 juta orang. Kesenjangan yang signifikan ini menjadi sorotan serius bagi Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat.

Menurut Irwan Hidayat, rendahnya tingkat literasi keuangan di masyarakat menjadi akar permasalahan. Hal ini mendorong banyak orang untuk memilih cara konvensional dalam menyimpan uang, alih-alih berinvestasi pada aset yang lebih produktif. “Di Indonesia, baru sekitar 7,5 persen dari total populasi yang berinvestasi di saham, yaitu sekitar 20 juta orang. Sementara di Amerika Serikat, angkanya sudah mencapai 62 persen. Padahal, mengoleksi saham perusahaan yang dikelola dengan baik jauh lebih menguntungkan daripada hanya menyimpannya ‘di bawah bantal’ atau di bank,” tegas Irwan.

Berinvestasi atau Main Saham? Perbedaan Mendasar yang Perlu Dipahami

Irwan Hidayat juga menyoroti penggunaan istilah “main saham” yang seringkali disalahartikan sebagai aktivitas spekulasi belaka. Ia menekankan bahwa investasi adalah komitmen yang serius dan terencana. “Jangan bermain saham, tapi berinvestasilah di saham. Jika hanya ‘main-main’, hasilnya tidak akan optimal. Investasi harus dilakukan dengan serius, bukan sekadar coba-coba. Pilihlah perusahaan yang dikelola dengan baik, jujur, dan memiliki fundamental yang sehat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa dengan memilih emiten yang tepat, investor dapat meraih keuntungan jangka panjang yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bunga deposito. “Jika Anda berinvestasi pada saham yang bagus, potensi keuntungannya bisa mencapai 30 hingga 40 persen dalam dua tahun. Tetapi jika Anda hanya berspekulasi atau ‘main saham’, risiko kerugiannya sangat besar,” tambahnya.

Selain keuntungan finansial pribadi, Irwan Hidayat juga memandang peningkatan jumlah investor domestik sebagai kunci penting untuk mencapai kedaulatan ekonomi nasional. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada kepemilikan saham asing. “Saat ini, pasar modal kita masih didominasi oleh investor asing karena partisipasi investor lokal masih minim,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Irwan Hidayat berharap agar partisipasi masyarakat Indonesia dalam pasar modal dapat meningkat signifikan hingga mencapai 40 persen atau setara dengan 100 juta investor. Dengan basis investor lokal yang kuat, pasar modal Indonesia akan lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global. “Bayangkan jika partisipasi investor lokal bertambah 50 juta orang lagi, wajah pasar saham kita akan jauh berbeda. Kita tidak akan terlalu bergantung pada investor asing. Jadi, pilihlah saham yang baik dan berinvestasilah di sana agar pasar modal kita semakin kuat dan maju,” pungkas Irwan.

Ringkasan

Partisipasi masyarakat Indonesia dalam pasar modal masih rendah dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 7,5% populasi Indonesia berinvestasi di saham, jauh di bawah angka 62% di AS. Rendahnya literasi keuangan menjadi penyebab utama, mendorong masyarakat memilih cara penyimpanan uang konvensional.

Irwan Hidayat menekankan pentingnya berinvestasi saham, bukan sekadar “main saham” yang bersifat spekulatif. Ia menyarankan untuk memilih perusahaan dengan fundamental yang sehat dan dikelola dengan baik untuk meraih keuntungan jangka panjang. Peningkatan partisipasi investor lokal juga dipandang krusial untuk mencapai kedaulatan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada investor asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *