KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar modal di kawasan Asia Tenggara menunjukkan geliat positif pada tahun 2025, terutama dalam aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO). Laporan terbaru dari Deloitte berjudul “Southeast Asia IPO Capital Market 2025 Full Year Report” yang dirilis pada Januari 2026, mengungkapkan bahwa total dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai angka yang signifikan, yaitu US$ 6,5 miliar.
Meskipun jumlah perusahaan yang melakukan IPO atau melantai di bursa sedikit menurun, dari 136 emiten pada tahun 2024 menjadi 120 emiten di tahun 2025, nilai dana yang terkumpul justru mengalami lonjakan yang cukup fantastis. Kenaikan sebesar 76% secara tahunan (YoY) ini didorong oleh kehadiran beberapa IPO dengan nilai yang sangat besar atau dikenal dengan istilah blockbuster deal.
Hwee Ling Tay, Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia, menjelaskan bahwa pemulihan pasar IPO di kawasan ini didorong oleh meningkatnya kepercayaan investor, terutama terhadap emiten-emiten berskala besar dan yang bergerak di sektor-sektor strategis yang menjanjikan.
Multi Bintang (MLBI) Berencana Akuisisi 99,9% Saham PT Karya Distilindo Sejahtera
“Pasar IPO Asia Tenggara memperlihatkan kebangkitan yang kuat di tahun 2025. Transaksi-transaksi besar menjadi pendorong utama dalam penghimpunan dana, meskipun jumlah perusahaan yang melakukan IPO mengalami sedikit penurunan,” ungkap Hwee Ling Tay dalam laporan tersebut, seperti dikutip Kontan pada Selasa (27/1/2026).
Deloitte juga mencatat adanya peningkatan signifikan pada rata-rata nilai transaksi IPO di kawasan ini. Angka tersebut hampir dua kali lipat, dari sekitar US$ 27 juta pada tahun 2024 menjadi US$ 54 juta pada tahun 2025. Peningkatan ini mengindikasikan minat investor yang semakin besar terhadap IPO di Asia Tenggara.
Dari segi sektor, properti (real estat), energi dan sumber daya, serta jasa keuangan muncul sebagai kontributor utama dalam penghimpunan dana IPO. Sektor properti menyumbang sekitar 28% dari total dana yang terkumpul, terutama didorong oleh aset-aset yang terkait dengan pusat data dan akomodasi. Sementara itu, sektor energi dan sumber daya berkontribusi sebesar 21%, sejalan dengan meningkatnya permintaan akan listrik dan perkembangan rantai pasok energi bersih.
Jika dilihat dari sisi regional, Singapura berhasil menjadi negara dengan perolehan dana IPO terbesar, dengan total US$ 2,0 miliar dari 13 IPO. Pencapaian ini didorong oleh dua IPO Real Estate Investment Trust (REIT) berskala besar, yaitu NTT DC REIT dan Centurion Accommodation REIT.
Sementara itu, Malaysia mencatatkan jumlah IPO terbanyak, yaitu 59 emiten. Ini merupakan angka tertinggi sejak tahun 2006, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai US$ 1,4 miliar.
Indonesia sendiri membukukan 26 IPO dengan total dana sebesar US$ 1,1 miliar. Menurut catatan Deloitte, sektor energi menjadi penggerak utama, dengan IPO terbesar berasal dari PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) senilai US$ 279 juta dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebesar US$ 144 juta.
Vietnam juga mencatatkan lonjakan tajam dalam nilai IPO menjadi US$ 1,0 miliar, meskipun hanya ada dua emiten baru yang melantai di bursa. Hal ini terutama didorong oleh sektor jasa keuangan. Di sisi lain, Filipina mencatatkan kenaikan sebesar 194% berkat IPO Maynilad Water Services, Inc. senilai US$ 584 juta.
Berbanding terbalik, Thailand hanya berhasil menghimpun dana sebesar US$ 374 juta. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakpastian politik yang terjadi di negara tersebut dan tingginya tingkat utang rumah tangga. Meskipun demikian, Hwee Ling Tay tetap optimis dan menilai prospek pasar IPO di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan masih konstruktif ke depannya.
Harga Emas Dunia Bertahan di Level US$ 5.000, Intip Rekomendasi Saham Emiten Emas
“Dengan dukungan dari reformasi regulasi serta munculnya berbagai peluang pasar baru di berbagai negara, kami memperkirakan bahwa minat investor terhadap IPO di Asia Tenggara akan tetap terjaga dan menunjukkan tren yang positif,” pungkasnya.
Ringkasan
Pasar IPO Asia Tenggara menunjukkan kebangkitan pada tahun 2025, dengan total dana yang dihimpun mencapai US$ 6,5 miliar. Meskipun jumlah emiten yang IPO menurun, nilai dana yang terkumpul melonjak 76% YoY, didorong oleh blockbuster deal. Sektor properti, energi dan sumber daya, serta jasa keuangan menjadi kontributor utama, dengan Singapura memimpin perolehan dana IPO dan Malaysia mencatatkan jumlah IPO terbanyak.
Indonesia membukukan 26 IPO dengan total dana US$ 1,1 miliar, di mana sektor energi menjadi penggerak utama dengan IPO dari PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Prospek pasar IPO di Asia Tenggara secara keseluruhan dinilai positif karena dukungan reformasi regulasi dan peluang pasar baru, sehingga minat investor diharapkan tetap terjaga.