IPO 2026: Mampukah Mendorong IHSG Lebih Tinggi? Ini Analisanya!

Jakarta, IDN Times – Gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2026 diproyeksikan akan menjadi motor penggerak positif bagi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Demikian pandangan yang disampaikan oleh pengamat pasar modal, Reydi Octa. Menurut Reydi, masuknya sejumlah emiten dengan kapitalisasi pasar besar melalui IPO berpotensi signifikan untuk memperkaya kapitalisasi pasar secara keseluruhan dan sekaligus meningkatkan likuiditas indeks.

“Dengan pipeline yang semakin bervariasi, meliputi sektor keuangan, energi, konsumer, hingga teknologi, gelombang IPO pada tahun 2026 diyakini dapat menciptakan sentimen positif jangka menengah yang kuat bagi pergerakan IHSG,” ujar Reydi kepada IDN Times, seperti yang dikutip pada Minggu (11/1/2026).

1. Dukungan sentimen lain

Aktivitas IPO yang semarak di tahun ini bukan satu-satunya faktor yang berpotensi mendongkrak IHSG. Reydi juga menyoroti adanya sentimen pendukung lain yang dinilai mampu menjadikan pasar modal Indonesia semakin menarik di mata investor, menciptakan daya tarik investasi yang lebih luas.

“Beberapa dukungan sentimen makro, seperti stabilisasi ekonomi global yang semakin menguat serta peluang pelonggaran suku bunga acuan, turut berkontribusi menjadikan pasar kita sangat atraktif bagi para investor,” jelasnya.

2. Ada enam perusahan lighthouse siap IPO tahun ini

Sejalan dengan optimisme tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memproyeksikan adanya enam perusahaan lighthouse yang siap melantai di bursa melalui IPO pada tahun ini. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam radar lighthouse ini masih dalam tahap persiapan teknis yang intensif. Sebagai informasi, kategori lighthouse merujuk pada perusahaan-perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari Rp3 triliun, mengindikasikan skala dan potensi besar mereka di pasar.

“Ada enam perusahaan (lighthouse) yang sedang dalam proses,” kata Iman saat ditemui setelah acara pembukaan perdagangan BEI 2026, pada Jumat (2/1/2026).

Lebih lanjut, Iman juga mengklarifikasi bahwa daftar antrean perusahaan lighthouse tersebut tidak mencakup emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini mengindikasikan bahwa gelombang IPO skala besar pada tahun 2026 kemungkinan besar masih akan didominasi oleh perusahaan-perusahaan dari sektor swasta.

“Dari BUMN belum ada, sejauh ini belum ada proses yang masuk,” tegas Iman.

3. BEI targetkan pencatatan 50 saham baru

Meskipun demikian, Iman mengungkapkan bahwa BEI telah menyusun sejumlah asumsi target berdasarkan proyeksi kondisi makroekonomi nasional dan global sepanjang tahun 2026. Dengan keyakinan penuh, Iman optimistis bahwa BEI mampu meraih target-target ambisius yang telah dicanangkan untuk memperkuat pasar modal Indonesia.

Salah satu target utama BEI adalah mencatat 50 saham baru pada tahun 2026, sebuah angka yang lebih tinggi dibandingkan target tahun 2025 yang sebanyak 45 saham baru, menunjukkan percepatan dalam pengembangan pasar.

“BEI mengasumsikan nilai Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) 2026 akan mencapai angka Rp15 triliun. Dari sisi pencatatan efek, kami menargetkan total 555 pencatatan efek pada 2026, di antaranya adalah 50 saham baru. BEI juga akan terus mengoptimalkan berbagai saluran dan kanal distribusi informasi untuk mencapai target pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia sebanyak dua juta investor baru di tahun 2026,” papar Iman, menjelaskan secara rinci rencana dan harapan BEI untuk tahun tersebut.

Ringkasan

Pengamat pasar modal Reydi Octa memproyeksikan gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2026 akan menjadi pendorong positif bagi kinerja IHSG. Masuknya emiten berkapitalisasi besar dari berbagai sektor seperti keuangan, energi, dan teknologi, diharapkan dapat memperkaya kapitalisasi pasar dan meningkatkan likuiditas indeks. Sentimen positif ini juga didukung oleh stabilisasi ekonomi global dan potensi pelonggaran suku bunga acuan, yang menjadikan pasar modal Indonesia semakin menarik bagi investor.

Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis dengan menargetkan pencatatan 50 saham baru pada tahun 2026, lebih tinggi dari target tahun sebelumnya. Direktur Utama BEI Iman Rachman menyebutkan ada enam perusahaan “lighthouse” dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp3 triliun yang sedang dalam proses persiapan IPO, didominasi oleh sektor swasta. Selain itu, BEI juga menargetkan nilai transaksi harian rata-rata Rp15 triliun dan penambahan dua juta investor baru di tahun yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *