
Shoesmart.co.id JAKARTA. Bergulirnya gelombang investor ritel baru menandai era positif bagi geliat pasar modal Indonesia. Fenomena ini, meski menjanjikan potensi pertumbuhan, tak lepas dari bayangan tantangan, utamanya peningkatan risiko praktik saham gorengan. Saham gorengan merujuk pada saham yang pergerakan harganya sengaja dimanipulasi untuk mendulang keuntungan jangka pendek, seringkali tanpa didukung fundamental yang kuat.
Melihat kondisi ini, Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menekankan urgensi untuk membentengi pasar modal dengan mekanisme pencegahan yang lebih tangguh terhadap praktik spekulatif tersebut. Tujuannya jelas: agar momentum pertumbuhan investor tetap sehat, berkelanjutan, dan tidak terjebak dalam euforia sesaat yang berujung pada kerugian.
Ilya Avianti, Board of Trustees Prasasti, menegaskan bahwa esensi pertumbuhan jumlah investor haruslah selaras dengan peningkatan kualitas. Baginya, pasar modal yang kokoh berdiri di atas fondasi nilai fundamental perusahaan, bukan sekadar fluktuasi harga dalam jangka pendek. “Fondasi pasar modal itu fundamental, bukan teknikal semata,” ujarnya melalui keterangannya pada Jumat (23/1/2026), menegaskan prinsip investasi yang berorientasi pada nilai intrinsik.
Untuk menekan meluasnya praktik saham gorengan, Ilya menguraikan tiga langkah krusial. Langkah pertama adalah memperkuat transparansi pasar modal. Emiten dituntut untuk disiplin dalam menyampaikan laporan keuangan dan informasi material secara tepat waktu, serta dengan format yang mudah dipahami oleh para investor. “Kalau informasi perusahaan terbuka dan mudah dibaca, ruang untuk memainkan persepsi pasar akan semakin sempit,” jelas Ilya, menyoroti bagaimana keterbukaan dapat meminimalisir manipulasi persepsi.
IHSG Anjlok 1,37% ke 8.951 dalam Sepekan, Cermati Faktor Pemicunya
Langkah kedua berfokus pada pengetatan pengawasan transaksi. Pola perdagangan yang tidak wajar, seperti lonjakan harga dan volume secara tiba-tiba tanpa ditopang oleh kinerja perusahaan yang relevan, harus cepat terdeteksi dan segera ditindaklanjuti. Ilya menegaskan, “Harga saham seharusnya mencerminkan nilai perusahaan, bukan sekadar hasil tarik-menarik jangka pendek,” menggarisbawahi pentingnya harga saham yang rasional.
IHSG Melemah 1,37% Selama Sepekan, Ini Sentimen Pemberatnya
Ketiga, edukasi investor menjadi benteng terpenting. Investor perlu dibekali kemampuan mumpuni dalam membaca laporan keuangan, memahami model bisnis suatu perusahaan, dan menilai prospek usaha secara rasional dan objektif. “Kalau investor mau belajar fundamental, mereka tidak mudah terjebak saham gorengan,” terang Ilya, menekankan bahwa pengetahuan adalah kunci utama perlindungan diri bagi investor.
Tidak hanya regulator dan investor, Ilya juga menyoroti peran krusial dari para pelaku pasar lainnya, termasuk broker, analis, dan media ekonomi. Mereka diharapkan turut serta mendorong budaya investasi yang berbasis data dan kinerja, bukan sekadar sensasi pergerakan harga sesaat. Rekomendasi yang bertanggung jawab dan analisis yang mendalam akan sangat membantu membentuk perilaku pasar yang lebih matang dan dewasa.
Bidik Pertumbuhan Kinerja di 2026, Simak Strategi Sinar Eka Selaras (ERAL)
Maka dari itu, Prasasti merekomendasikan sebuah pendekatan terpadu untuk menekan praktik saham gorengan. Pendekatan ini mencakup penguatan transparansi, pengetatan pengawasan, peningkatan edukasi investor, hingga tanggung jawab kolektif para pelaku pasar. Strategi komprehensif ini dinilai esensial agar pertumbuhan investor di pasar modal Indonesia tidak hanya sekadar bersifat kuantitatif, melainkan juga secara fundamental memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang yang vital bagi perekonomian nasional.
Ringkasan
Lonjakan investor ritel baru di pasar modal Indonesia membawa potensi pertumbuhan namun juga meningkatkan risiko praktik saham gorengan, yaitu saham yang pergerakan harganya dimanipulasi tanpa dukungan fundamental kuat. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menekankan urgensi untuk memperkuat mekanisme pencegahan terhadap spekulasi ini guna menjaga pertumbuhan investor yang sehat dan berkelanjutan. Ilya Avianti dari Prasasti menegaskan bahwa fondasi pasar modal haruslah nilai fundamental perusahaan, bukan sekadar fluktuasi harga jangka pendek.
Untuk menekan meluasnya praktik saham gorengan, Prasasti menguraikan tiga langkah krusial: memperkuat transparansi emiten dalam menyampaikan informasi keuangan, mengetatkan pengawasan transaksi untuk mendeteksi pola perdagangan tidak wajar, dan meningkatkan edukasi investor agar mampu menganalisis fundamental perusahaan. Selain itu, para pelaku pasar lainnya juga diharapkan turut mendorong budaya investasi berbasis data. Pendekatan terpadu ini dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan investor berkualitas dan memperkuat fungsi pasar modal bagi perekonomian nasional.