DENPASAR, Shoesmart.co.id – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa inflasi di Provinsi Bali selama periode Ramadan, Nyepi, hingga Lebaran berhasil dikendalikan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari berbagai langkah strategis yang diambil oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Bali. Salah satu langkah kunci adalah penguatan koordinasi melalui High Level Meeting (HLM) menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri dan Nyepi. Koordinasi yang intensif ini memungkinkan capaian inflasi Provinsi Bali tetap berada dalam rentang target yang ditetapkan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2026, Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm), angka ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan Februari yang mencatatkan inflasi sebesar 0,70% (mtm).
Baca Juga: Inflasi Bali Januari 2026 Capai 2,58%, Ini Penyebabnya
Erwin Soeriadimadja menuturkan, “Beberapa peristiwa penting seperti perayaan HBKN Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi turut memengaruhi dinamika pergerakan inflasi secara bulanan.” Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan pers pada Kamis (2/4/2026).
Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali menunjukkan penurunan dari 3,89% (yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy) pada Maret 2026. Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota yang menjadi sampel Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan pada bulan Maret 2026.
Baca Juga: BI Sebut Musim Hujan Bakal Pengaruhi Inflasi Bali pada Awal 2026
Singaraja mencatat inflasi bulanan tertinggi, yaitu sebesar 0,90% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,40% (yoy). Kabupaten Tabanan menyusul dengan inflasi bulanan sebesar 0,63% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,67% (yoy). Sementara itu, Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,09% (yoy).
Kota Denpasar mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,42% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,02% (yoy). Berdasarkan komoditas, inflasi pada Maret 2026 didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, dan cabai merah. Di sisi lain, kenaikan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga tarif angkutan udara, emas, bawang putih, beras, dan kangkung.
Baca Juga: Harga Komoditas dan Biaya Bimbel Naik, Inflasi Bali 2,9% pada Akhir 2025
“Ke depan, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai, antara lain ketidakpastian cuaca akibat peralihan musim hujan ke kemarau yang berpotensi memicu El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, serta peningkatan permintaan menjelang HBKN Galungan dan Kuningan,” jelas Erwin.
Guna memperkuat pengendalian inflasi di masa mendatang, Bank Indonesia Provinsi Bali terus menjalin sinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali. Upaya ini difokuskan pada tiga pilar utama: menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memperkuat aspek regulasi.
Implementasi strategi ini dilakukan melalui intensifikasi operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah baik di dalam maupun di luar Bali, serta perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Perusahaan Umum Daerah (Perumda) pangan, dan koperasi. Langkah-langkah ini diperkuat melalui regulasi yang mendorong pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah.
Dengan berbagai langkah strategis yang telah dan akan terus dilakukan, inflasi tahun 2026 di Provinsi Bali diproyeksikan akan tetap terjaga dalam sasaran 2,5%±1%.
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) menyatakan inflasi di Bali terkendali selama Ramadan dan Nyepi berkat langkah strategis Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Koordinasi intensif melalui High Level Meeting (HLM) menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri dan Nyepi menjadi kunci keberhasilan ini. Meskipun terjadi beberapa peristiwa penting seperti kenaikan harga cabai dan penyesuaian harga BBM, inflasi bulanan dan tahunan di Bali menunjukkan penurunan pada bulan Maret 2026.
Inflasi Bali pada Maret 2026 sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dari Februari. Meskipun seluruh kabupaten/kota mengalami inflasi bulanan, Singaraja mencatat yang tertinggi. BI Provinsi Bali terus bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memperkuat regulasi guna mencapai target inflasi tahunan 2,5%±1%.