Shoesmart.co.id WASHINGTON. Wall Street mengalami koreksi pada perdagangan Selasa malam setelah rilis data inflasi AS yang melampaui ekspektasi pasar. Sentimen negatif juga diperkuat oleh menipisnya harapan akan resolusi damai yang cepat di Timur Tengah.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite harus rela turun dari rekor tertinggi yang baru saja dicetak sehari sebelumnya. Kekhawatiran investor kini tertuju pada potensi kebijakan The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, seiring dengan inflasi yang masih persisten.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa inflasi tahunan, yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK), naik menjadi 3,8% pada bulan April. Angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang memprediksi 3,7%. Kenaikan inflasi ini merupakan kali kedua berturut-turut dan terutama didorong oleh lonjakan harga energi dan pangan.
Minat Investasi Reksadana Dolar AS Diprediksi Terus Naik di Tengah Pelemahan Rupiah
Doug Beath, seorang analis dari Wells Fargo Investment Institute, berpendapat bahwa pasar mungkin belum sepenuhnya mengantisipasi dampak ekonomi dari kenaikan harga minyak dan bahan baku global.
“Kenaikan harga minyak, energi, dan bahan mentah memiliki potensi untuk mempercepat inflasi global dan memberikan tekanan ekonomi yang lebih besar,” jelasnya.
Ketegangan di Timur Tengah juga semakin membebani sentimen pasar. Presiden AS saat itu, Donald Trump, menyatakan bahwa peluang gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “kritis” setelah Teheran menolak proposal perdamaian dari Washington. Situasi ini diperparah dengan masih berlangsungnya penutupan Selat Hormuz, yang terus menjaga harga minyak tetap tinggi.
Sebelum konflik Timur Tengah kembali memanas, pasar sempat memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini. Namun, kini para pelaku pasar mulai meyakini bahwa suku bunga kemungkinan besar akan tetap bertahan hingga akhir tahun.
Pada perdagangan Selasa pagi waktu New York, atau Selasa malam Waktu Indonesia Barat (WIB), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 297,98 poin atau 0,60% ke level 49.406,49. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,57% menjadi 7.368,86 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,92% ke posisi 26.038,27.
Sektor teknologi, yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli pasar berkat optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI), turut merasakan tekanan. Saham Nvidia masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,7%, namun saham Intel justru turun 2% setelah mengalami reli tajam dalam dua sesi sebelumnya. Bahkan, saham Qualcomm anjlok 6% setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi.
Rupiah Ditutup Rp 17.529 per Dolar AS, Terburuk Sepanjang Sejarah
Di luar sektor teknologi, terdapat beberapa pergerakan saham yang menarik. Saham Zebra Technologies melonjak 15% setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunan, didorong oleh tingginya permintaan perangkat otomasi industri. Di sisi lain, saham Hims & Hers Health anjlok 12,3% setelah melaporkan pendapatan kuartalan di bawah ekspektasi dan mencatatkan kerugian yang tidak terduga.
Sementara itu, saham Venture Global naik 4,7% setelah perusahaan meningkatkan proyeksi laba inti tahunan.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan jauh lebih banyak dibandingkan dengan saham yang naik di Bursa New York dan Nasdaq. Hal ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi dan geopolitik global yang saat ini penuh dengan ketidakpastian.
Ringkasan
Wall Street mengalami koreksi akibat rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, mencapai 3,8% pada bulan April. Hal ini memicu kekhawatiran investor bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ketegangan di Timur Tengah, terutama potensi konflik dengan Iran dan penutupan Selat Hormuz, juga memperburuk sentimen pasar dan menekan indeks saham utama.
Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite mengalami penurunan signifikan. Sektor teknologi, termasuk saham Qualcomm, merasakan dampak negatifnya meskipun Nvidia masih mencatatkan kenaikan tipis. Sentimen pasar secara keseluruhan mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi dan geopolitik global yang penuh dengan ketidakpastian.