Shoesmart.co.id, JAKARTA – Pergerakan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring dengan kenaikan harga yang signifikan. BEI mengumumkan status Unusual Market Activity (UMA) terhadap saham INDY pada tanggal 26 Januari 2026.
Apa itu UMA? Pengumuman UMA mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas perdagangan yang tidak lazim pada suatu saham. Namun, BEI menegaskan bahwa status UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal.
Menurut data RTI, saham INDY telah melonjak 42,06% dalam sebulan terakhir. Bahkan, sejak awal tahun hingga saat ini (year to date/YTD), kenaikannya mencapai 47,77%. Lonjakan ini tentu menimbulkan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi dengan INDY?
Selain pergerakan harga saham yang mencolok, INDY juga mengumumkan pendirian perusahaan baru yang fokus pada manufaktur kendaraan listrik komersial. Langkah ini dilakukan melalui dua anak usahanya, yaitu PT Energi Makmur Buana (EMB) dan PT Mitra Motor Group (MMG), yang mendirikan PT INVI Manufaktur Andalan Indonesia (IMAI).
IMAI akan bergerak di berbagai bidang usaha, termasuk industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih (KBLI 29101), industri karoseri kendaraan bermotor roda empat atau lebih, serta industri trailer dan semitrailer (KBLI 29200). Dengan pendirian anak perusahaan ini, laporan keuangan IMAI nantinya akan terkonsolidasi dengan laporan keuangan INDY.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa kenaikan harga saham INDY yang signifikan dalam waktu singkat didorong oleh sentimen positif pasar terhadap ekspansi bisnis dan diversifikasi perusahaan ke segmen non-batubara, termasuk peluang di sektor emas dan industri baru. “Hal ini menarik minat beli investor dan memicu aktivitas transaksi cepat di pasar,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/1).
Lalu, bagaimana prospek kinerja INDY ke depan? Abida menilai prospeknya masih cenderung mixed. Sentimen positif datang dari program diversifikasi pendapatan non-batubara dan ekspansi ke sektor energi baru/emas yang berpotensi memperluas basis usaha perusahaan.
Namun, sentimen negatif juga perlu diperhatikan, terutama penurunan pendapatan dan laba akibat harga komoditas batubara yang melemah. “Profitabilitas earnings yang rendah juga masih membebani kinerja perusahaan,” tambahnya.
Menurut Abida, valuasi saham INDY saat ini kurang mencerminkan fundamental profitabilitas yang lemah. Kinerja laba yang turun drastis sementara harga saham tetap tinggi menjadi perhatian. Saat ini, price to earning ratio (PER) INDY berada di level 1.653,68x dan price to book value (PBV) 0,87x.
Artinya, saham INDY mungkin kurang ideal bagi investor berbasis fundamental, kecuali mereka memiliki keyakinan terhadap realisasi diversifikasi bisnis jangka panjang. “Namun, saham ini tetap menarik dari sisi spekulatif, tergantung strategi investasi individu,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Abida merekomendasikan “beli” untuk saham INDY dengan target harga Rp 3.600 per saham.
Ringkasan
Saham Indika Energy (INDY) menjadi sorotan setelah BEI mengumumkan status UMA akibat kenaikan harga signifikan. Kenaikan ini dipicu oleh sentimen positif terhadap ekspansi bisnis INDY ke sektor non-batubara, termasuk pendirian perusahaan baru yang fokus pada kendaraan listrik komersial, yaitu PT INVI Manufaktur Andalan Indonesia (IMAI).
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek INDY mixed, dengan sentimen positif dari diversifikasi bisnis dan ekspansi ke energi baru/emas, namun juga sentimen negatif dari penurunan harga batubara. Dengan valuasi saat ini yang kurang mencerminkan fundamental, saham INDY direkomendasikan “beli” dengan target harga Rp 3.600 per saham, terutama bagi investor yang memiliki keyakinan terhadap realisasi diversifikasi bisnis jangka panjang.