INCO 2026: Rekomendasi Saham, Proyeksi, dan Analisis Lengkap

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berhasil membukukan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025, ditopang oleh peningkatan produksi dan efisiensi biaya.

Laporan keuangan INCO menunjukkan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta pada tahun 2025, meningkat 4,18% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan dengan US$ 950,38 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan dan beradaptasi dengan dinamika pasar.

Meskipun pendapatan meningkat, beban pokok pendapatan juga mengalami kenaikan menjadi US$ 879,34 juta dari US$ 842,16 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan perlu terus berupaya untuk mengoptimalkan biaya produksi guna meningkatkan profitabilitas.

Dari sisi operasional, beban usaha tercatat meningkat signifikan menjadi US$ 52,18 juta dibandingkan US$ 38,25 juta sebelumnya. Beban lainnya juga naik menjadi US$ 12,71 juta dari US$ 9,87 juta. Namun, di sisi lain, pendapatan lainnya tercatat naik tipis menjadi US$ 3,92 juta dari US$ 3,72 juta.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (21/3): Tak Bergerak di Posisi Rp 2.893.000 Per Gram

Akibatnya, laba usaha INCO mengalami penurunan menjadi US$ 41,43 juta dari US$ 63,82 juta. Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan dari sisi operasional yang perlu menjadi perhatian perusahaan di masa mendatang.

Namun demikian, kinerja bottom line INCO tetap menunjukkan perbaikan yang menggembirakan. Hal ini didukung oleh beberapa faktor non-operasional, termasuk keuntungan dari pengakuan nilai wajar aset derivatif yang berbalik positif menjadi US$ 16,57 juta dari sebelumnya rugi US$ 19,94 juta.

Selain itu, pendapatan keuangan juga meningkat menjadi US$ 37,26 juta dari US$ 36,2 juta. INCO juga mencatatkan keuntungan dari pengakuan nilai wajar investasi saham sebesar US$ 6,68 juta serta kontribusi laba dari entitas asosiasi sebesar US$ 607.000.

Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, laba sebelum pajak INCO meningkat menjadi US$ 94,53 juta dari US$ 74,06 juta. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar US$ 18,47, laba tahun berjalan alias laba bersih INCO mencapai US$ 76,06 juta, melesat 31,68% dari US$ 57,76 juta pada periode sebelumnya. Peningkatan laba bersih ini menjadi bukti ketahanan INCO dalam menghadapi tantangan pasar.

Kinerja Tahun 2025

Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto menjelaskan bahwa kinerja operasional perusahaan sepanjang tahun lalu tumbuh dengan baik. Produksi nikel matte mencapai 72.027 metrik ton sepanjang tahun 2025, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 71.311 ton.

Secara triwulanan, produksi nikel dalam matte pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 17.052 ton, sekitar 12% lebih rendah dibandingkan 19.391 ton pada triwulan III-2025.

Penurunan ini disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026. Jika dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2024, ketika produksi mencapai 18.528 ton, hasil produksi pada kuartal IV-2025 tercatat sedikit lebih rendah. Namun, secara keseluruhan, produksi sepanjang tahun tetap lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

 
INCO Chart by TradingView
 

“Hasil ini mencerminkan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga keandalan operasional dan mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun,” kata Bernardus dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).

Selain itu, produksi nikel matte Vale juga terus mencatat pertumbuhan secara komersial, terutama penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Pada 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan volume bulanan tertinggi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Secara keseluruhan, Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.

Pengiriman nikel matte Vale juga mencatat kenaikan moderat pada 2025, mencapai 73.093 ton dibandingkan 72.625 ton di 2024. Hal ini mendukung Vale untuk mempertahankan EBITDA yang solid sebesar US$ 228,2 juta sepanjang tahun lalu, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA yang stabil menunjukkan fundamental perusahaan yang kuat.

Adapun harga realisasi rata-rata nikel matte pada tahun 2025 tercatat sebesar US$ 12.157 per ton, turun 7% dibandingkan US$ 13.086 per ton pada tahun sebelumnya. Penurunan harga ini menjadi tantangan yang berhasil diatasi oleh INCO melalui peningkatan volume penjualan.

Meskipun berada dalam kondisi harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat *payability* nikel matte yang mulai berlaku pada Juli tahun lalu, serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan.

Bitcoin Terkoreksi ke US$ 70.000 Usai FOMC, Tertekan Sentimen Suku Bunga Tinggi

Secara triwulanan, pendapatan mencapai US$ 284,8 juta, naik 2% dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel yang moderat. Pemulihan harga nikel memberikan angin segar bagi kinerja keuangan perusahaan.

“Hal ini menegaskan komitmen kuat perusahaan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang serta keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri,” ucap Bernardus. Pernyataan ini mencerminkan optimisme perusahaan terhadap masa depan industri nikel.

Dari sisi biaya, meskipun INCO telah melaksanakan pemeliharaan besar pada salah satu *furnace* dan berhasil mempertahankan unit biaya kas penjualan yang kompetitif sebesar US$ 9.339 per ton pada tahun 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada tahun sebelumnya.

Peningkatan ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat serta menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar US$ 11.201 per ton pada tahun 2022. Efisiensi biaya menjadi salah satu kunci keberhasilan INCO dalam meningkatkan profitabilitas.

Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Vale Indonesia tetap stabil pada kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran.

Angka ini mencerminkan bijih yang sepenuhnya bersumber dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan *bulk sampling test*. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan dimulai pada tahun 2026.

Vale Indonesia juga memaparkan, laba bersih yang meningkat 32% secara tahunan menjadi US$ 76,1 juta mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, level produksi yang lebih kuat, serta pendekatan yang disiplin dalam efisiensi biaya. Kombinasi faktor-faktor ini menjadi pendorong utama peningkatan laba bersih perusahaan.

Pada triwulan 4 tahun lalu, konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara menurun sejalan dengan volume produksi yang lebih rendah, seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sebagai upaya untuk menjaga kapasitas produksi di masa depan dan memastikan keselamatan operasional. Selama triwulan tersebut, harga HSFO turun sebesar 4%, sementara harga diesel dan batu bara masing-masing mengalami kenaikan moderat sebesar 6% dan 1%.

Sepanjang tahun, Vale Indonesia mengalokasikan sekitar US$ 485,9 juta untuk belanja modal, meningkat 46% dibandingkan US$ 332,1 juta pada tahun sebelumnya.

Peningkatan ini terutama mencerminkan belanja untuk proyek-proyek pengembangan serta kebutuhan modal *sustaining*. Investasi ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan bisnis dan meningkatkan kapasitas produksi.

Wall Street Ditutup Anjlok: S&P 500 Sentuh Level Terendah 6 Bulan

Ke depan, Bernardus menyebutkan INCO semakin mempertajam fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Khusus di Pomalaa, proyek pertambangan perusahaan telah mencapai kemajuan sekitar 60%, dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk tahap awal operasi berhasil diselesaikan. Proyek ini menjadi salah satu prioritas utama perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL yang telah mencapai sekitar 50% tahap konstruksi serta mencatatkan tonggak penting dengan kedatangan empat unit *autoclave* dan pemasangan unit pertama.

Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026. Penyelesaian proyek ini akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan INCO di masa depan.

“Seluruh inisiatif strategis tersebut terus dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen yang teguh terhadap keberlanjutan jangka panjang,” tutupnya. Komitmen terhadap keberlanjutan menjadi landasan penting bagi strategi bisnis INCO.

Equity Analyst MNC Sekuritas, Raka Junico menilai penjualan bijih nikel menjadi penyelamat kinerja INCO. Menurutnya, perusahaan mampu mengimbangi tekanan penurunan harga nikel global dengan mencatatkan penjualan bijih nikel mentah sebesar US$ 102 juta.

“Strategi ini efektif dalam menjaga pertumbuhan pendapatan perusahaan,” tulis Raka dalam risetnya, Selasa (17/3/2026). Diversifikasi pendapatan melalui penjualan bijih nikel menjadi strategi jitu INCO dalam menghadapi volatilitas harga.

Di sisi lain, INCO juga dinilai berhasil mengendalikan biaya produksi. Meski tengah melakukan perbaikan fasilitas pabrik, khususnya Furnace 3, perusahaan tetap mampu menjaga efisiensi operasional dengan baik. Pengendalian biaya produksi menjadi kunci untuk meningkatkan margin keuntungan perusahaan.

Barito Renewables (BREN) Kantongi Laba Bersih US$ 132 Juta di 2025, Naik 8,3%

Untuk jangka panjang, INCO tengah mengembangkan proyek besar di Pomalaa dan Sorowako yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat dengan target rampung pada 2029. Ekspansi kapasitas produksi ini akan memperkuat posisi INCO sebagai salah satu pemain utama di industri nikel global.

Raka pun melihat prospek INCO pada 2026 lebih positif. Ia menilai INCO diperkirakan akan mengoptimalkan kuota penjualan bijih nikel serta berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga jual rata-rata nikel global. Optimisme ini didasarkan pada strategi perusahaan yang solid dan potensi pemulihan harga nikel.

Dihubungi terpisah, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama menilai secara teknikal pergerakan saham INCO masih berada dalam tren naik. Namun, dalam jangka pendek saham ini tengah mengalami fase koreksi.

“Koreksi diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area *support* di kisaran Rp4.800–Rp5.000 per saham,” ujar Reyhan. Analisis teknikal ini memberikan gambaran tentang potensi pergerakan harga saham INCO dalam jangka pendek.

Ia pun merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see, setidaknya hingga fase koreksi mereda atau harga telah mendekati area *support* tersebut. Rekomendasi ini memberikan panduan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi terkait saham INCO.

Ringkasan

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja solid di tahun 2025 dengan pendapatan US$ 990,19 juta, naik 4,18% yoy. Peningkatan produksi dan efisiensi biaya menjadi faktor pendorong utama. Laba bersih INCO juga melesat 31,68% menjadi US$ 76,06 juta, didukung oleh keuntungan dari pengakuan nilai wajar aset derivatif dan peningkatan pendapatan keuangan.

Produksi nikel matte INCO mencapai 72.027 metrik ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun ada penurunan produksi pada triwulan IV akibat pembangunan kembali Furnace 3. Perusahaan optimis dengan prospek di tahun 2026, didukung oleh strategi diversifikasi pendapatan melalui penjualan bijih nikel dan pengendalian biaya produksi. Ekspansi kapasitas produksi yang ditargetkan selesai pada tahun 2029 akan memperkuat posisi INCO di industri nikel global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *