Tekanan jual dari investor asing masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu. Pada penutupan perdagangan hari Jumat (30/1/2026), IHSG berada di level 8.329, terkoreksi signifikan sekitar 6,94% dibandingkan pekan sebelumnya. Data mencatat, *outflow* atau arus modal keluar asing di pasar reguler menembus angka Rp15,7 triliun.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa koreksi tajam IHSG ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif baik dari global maupun domestik yang menekan pasar secara bersamaan. Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi investor.
Dari sisi eksternal, pasar masih dihantui ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat yang kembali mencuat seiring isu Greenland Trade War. David menekankan, potensi respons dari Uni Eropa terhadap ancaman tarif yang dilontarkan Donald Trump dapat memicu volatilitas global. Hal ini juga berpotensi mendorong pergerakan aset *safe haven* seperti yen Jepang dan franc Swiss.
Rosan Ungkap Hasil Diskusi dengan Investor Asing soal Pasar Modal
Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen “MSCI effect” menjadi pemicu utama gejolak pasar. MSCI secara resmi memberlakukan *interim freeze* yang disertai peringatan penurunan bobot saham Indonesia. Lebih lanjut, bahkan terdapat risiko degradasi status pasar dari *emerging market* menjadi *frontier market* apabila tidak ada perbaikan transparansi hingga Mei 2026. Ancaman ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar.
“Sentimen ini membuat pasar domestik bergejolak, termasuk dinamika pergantian pimpinan di BEI dan OJK dalam waktu relatif singkat,” ujar David dalam keterangan resminya, Minggu (1/2/2026). Pergantian pucuk pimpinan ini menambah ketidakpastian di pasar.
Meski demikian, David melihat estafet kepemimpinan baru di BEI dan OJK justru berpotensi menjadi katalis positif untuk perbaikan jangka menengah. Hal ini didasari oleh rekam jejak profesional para pimpinan baru tersebut di sektor jasa keuangan. Dengan pengalaman yang dimiliki, diharapkan mereka dapat membawa perubahan positif.
Ke depan, pelaku pasar juga akan fokus mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025. IPOT memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berada di kisaran 5,1% hingga 5,2%. Angka ini menjadi acuan penting untuk melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
BEI dan KSEI Perluas Klasifikasi Investor Sesuai Standar Global, Paling Lambat April
“Jika realisasi di atas ekspektasi, ini bisa menjadi dorongan bagi IHSG untuk membangun support baru, bahkan membuka peluang menuju area 9.000,” jelas David. Optimisme ini didasarkan pada keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat akan menarik minat investor.
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, IPOT merekomendasikan strategi *trading* pada saham-saham yang masih menunjukkan tren kenaikan. Beberapa pilihan yang disorot antara lain PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) dengan target harga Rp1.975, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target Rp3.090, serta PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dengan target Rp1.600. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis teknikal dan fundamental perusahaan.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan reksadana saham Premier ETF Indonesia Consumer (XIIC) yang dinilai relatif defensif di tengah tekanan pasar dan didukung oleh prospek sektor konsumsi yang stabil. Sektor konsumsi dianggap lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.
David menambahkan, arah kebijakan moneter global yang cenderung *wait and see* setelah The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75% turut memberikan ruang stabilisasi pasar. Meskipun demikian, volatilitas masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter global untuk mengantisipasi dampaknya.
Ringkasan
IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 6,94% pada pekan lalu, ditutup di level 8.329, akibat tekanan jual investor asing dengan *outflow* mencapai Rp15,7 triliun. Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyebut kombinasi sentimen negatif global dan domestik, termasuk ketidakpastian kebijakan tarif AS dan sentimen “MSCI effect” yang memicu gejolak pasar, sebagai penyebabnya. Risiko penurunan status pasar Indonesia menjadi *frontier market* jika tidak ada perbaikan transparansi juga menambah tekanan.
Meskipun demikian, pergantian pimpinan di BEI dan OJK dipandang sebagai potensi katalis positif jangka menengah. IPOT memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia 2025 di kisaran 5,1-5,2% dan merekomendasikan strategi *trading* pada saham-saham yang masih *uptrend* seperti WIIM, JPFA, dan ULTJ, serta reksadana saham XIIC. Arah kebijakan moneter global yang cenderung *wait and see* juga memberikan ruang stabilisasi, meskipun volatilitas masih tinggi dalam jangka pendek.