IHSG Tertekan Pasca Libur? Peluang Buy on Weakness untuk Investor!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami tekanan setelah libur panjang. Kekhawatiran ini dipicu oleh tensi geopolitik yang masih tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada penutupan perdagangan terakhir, Selasa (17/3), IHSG berhasil mencatatkan penguatan sebesar 1,2% atau naik 84,55 poin, mencapai level 7.106,83. Namun, secara keseluruhan, sepanjang tahun 2026 berjalan, IHSG telah terkoreksi cukup dalam, yaitu sebesar 17,81%.

Hans Kwee, pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, menjelaskan bahwa pasar keuangan global saat ini sedang dilanda volatilitas yang tinggi akibat ketidakpastian yang ditimbulkan oleh potensi konflik bersenjata.

Pasca-Lebaran, IHSG Diproyeksi Masih Bergejolak Dipengaruhi Ketegangan Global

Ketegangan ini semakin meningkat setelah Presiden AS saat itu, Donald Trump, secara mendadak menunda serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari pada tanggal 23 Maret 2025. Penundaan ini diumumkan hanya beberapa jam sebelum berakhirnya ultimatum yang sebelumnya diberikan oleh Trump.

Sebelumnya, Iran telah mengeluarkan pernyataan keras bahwa mereka akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz. Teheran juga mengancam akan menargetkan fasilitas energi di Israel dan negara-negara Teluk, yang semakin memperkeruh suasana.

Hans Kwee menekankan bahwa kawasan Uni Eropa dan Asia sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi karena ketergantungan mereka pada impor yang melewati Selat Hormuz. “Artinya, potensi perang ini akan berdampak jangka panjang terhadap pasokan minyak dan gas dunia,” jelasnya.

Menurut Hans, pembukaan perdagangan IHSG pada Selasa (24/3) dibayangi oleh potensi aksi jual. Meskipun demikian, pemulihan pasar keuangan setelah penundaan serangan memberikan peluang bagi IHSG untuk bergerak terbatas.

Ia memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang yang terbatas, dengan level support di antara 7.000 hingga 7.100. Sementara itu, level resistance yang berpotensi diuji berada di kisaran 7.250 hingga 7.349.

“Namun, dengan narasi yang dibangun oleh Trump, ada potensi bahwa perang dapat dihindari. Ini adalah momentum yang tepat untuk buy on weakness karena penurunan harga saham diperkirakan akan terbatas,” pungkas Hans.

Ringkasan

IHSG diperkirakan akan mengalami tekanan pasca libur panjang akibat tensi geopolitik antara AS dan Iran. Ketidakpastian global ini memicu volatilitas pasar keuangan, terutama karena potensi dampak konflik terhadap pasokan energi dunia yang melewati Selat Hormuz.

Meskipun demikian, penundaan serangan oleh AS memberikan peluang terbatas bagi IHSG untuk bergerak. Analis memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas dengan potensi buy on weakness karena penurunan harga saham diperkirakan tidak akan signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *