Shoesmart.co.id – JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (6/3/2026) terpantau melemah. Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Saat pembukaan pasar, IHSG langsung tertekan, turun 11,07 poin atau 0,14 persen ke level 7.699,47. Senada dengan IHSG, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 1,61 poin atau 0,20 persen ke posisi 786,21.
“Kiwoom Research memproyeksikan bahwa technical rebound yang terjadi kemarin kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Secara teknikal, IHSG berada tepat di ambang batas resistance kritikal di level 7.712-7.720. Kami menyarankan para investor untuk meningkatkan posisi cash menjelang akhir pekan ini sebagai langkah antisipasi terhadap potensi high volatility during weekend,” ungkap Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Eskalasi konflik geopolitik, khususnya antara Iran, AS, dan Israel, menjadi perhatian utama. Konflik yang telah memasuki hari keenam ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi energi dan berdampak pada ketidakpastian kebijakan moneter The Fed.
Bank sentral AS dijadwalkan akan menggelar pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret 2026 mendatang untuk membahas dan menentukan kebijakan suku bunga acuannya.
“Saat ini, pasar memperkirakan adanya potensi pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 bps sepanjang tahun 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya, yaitu sekitar 50 bps, sebelum konflik ini dimulai,” jelas Liza.
Intensitas konflik semakin meningkat dengan adanya laporan bahwa Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel. Sementara itu, jet tempur AS dan Israel dilaporkan terus melakukan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Selain itu, serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk dan aktivitas drone Iran yang memasuki wilayah Azerbaijan semakin meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara produsen energi lainnya.
Presiden Donald Trump bahkan menyatakan bahwa AS berkeinginan untuk terlibat dalam proses penentuan pemimpin Iran di masa depan.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi menguji ketahanan ekonomi global dan dapat memicu tekanan inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah mendorong harga minyak mentah melonjak tajam. Harga minyak mentah Brent naik 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel, sementara harga minyak mentah US WTI melonjak 8,51 persen menjadi 81,01 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, perlambatan ekonomi China, sebagaimana yang disampaikan dalam forum Two Sessions, berpotensi memberikan tekanan terhadap ekonomi Indonesia. China merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia, dengan kontribusi sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada tahun 2025 yang mencapai nilai sekitar 64,82 miliar dolar AS.
Oleh karena itu, penurunan aktivitas industri di China dapat menyebabkan penurunan permintaan terhadap komoditas dan bahan baku dari Indonesia.
Selain sektor perdagangan, dampak perlambatan ekonomi China juga berpotensi dirasakan pada sektor investasi. China merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia, dengan realisasi investasi sekitar 7,5 miliar dolar AS pada tahun 2025. Secara historis, setiap perlambatan 1 persen pada ekonomi China dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.
Pada perdagangan Kamis (5/3), bursa saham Eropa menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan. Euro Stoxx 50 melemah 1,46 persen, indeks FTSE 100 Inggris turun 1,45 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,61 persen, dan indeks CAC juga mengalami penurunan sebesar 1,49 persen.
Bursa saham AS di Wall Street juga mengalami tren penurunan pada hari Kamis (5/3). Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,61 persen ke level 47.954,74, indeks S&P 500 melemah 0,56 persen ke 6.830,71, dan Nasdaq Composite turun 0,26 persen ke 22.748,99.
Sementara itu, pergerakan bursa saham regional Asia pagi ini menunjukkan variasi. Indeks Nikkei menguat 80,59 poin atau 0,15 persen ke level 55.358,69, indeks Hang Seng naik 263,59 poin atau 1,04 persen ke posisi 25.58493, dan indeks Shanghai menguat 0,33 poin atau 0,01 persen ke 4.108,90. Di sisi lain, indeks Strait Times melemah 17,90 poin atau 0,37 persen ke 4.828,66.
Ringkasan
IHSG pada perdagangan Jumat (6/3/2026) mengalami pelemahan akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Konflik geopolitik ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi energi dan berdampak pada ketidakpastian kebijakan moneter The Fed, yang akan mengadakan pertemuan FOMC pada 17-18 Maret 2026. Kiwoom Sekuritas menyarankan investor untuk meningkatkan posisi cash sebagai antisipasi terhadap potensi volatilitas tinggi.
Selain faktor eksternal, perlambatan ekonomi China juga berpotensi memberikan tekanan terhadap ekonomi Indonesia sebagai mitra dagang utama. Pasar saham global juga menunjukkan tren penurunan, dengan bursa Eropa dan Wall Street melemah. Harga minyak mentah melonjak akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.