Jakarta, Shoesmart.co.id – Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Dalam sepekan terakhir, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 7,89%, hingga mencapai level 7.585,69 pada penutupan perdagangan Jumat (6/3). Bahkan, pada hari itu saja, IHSG terkoreksi sebesar 1,62%.
Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menjelaskan bahwa penurunan tajam IHSG sepanjang minggu ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran, memicu sentimen risk-off secara global. Kedua, penurunan proyeksi (outlook) Indonesia oleh Fitch Ratings menyebabkan arus modal asing keluar (capital outflow) secara masif. Ketiga, pelemahan nilai tukar rupiah yang hampir menembus level Rp 17.000 per dolar AS turut memperburuk keadaan.
“Depresiasi rupiah dan tingginya yield US Treasury memberikan tekanan pada saham-saham big caps,” ujarnya pada hari Jumat (6/3/2026).
Cinema XXI (CNMA) Cetak Laba Bersih Rp 776,2 Miliar di 2025
Untuk pekan depan, IHSG diperkirakan masih akan melanjutkan konsolidasi bearish. Sentimen negatif utama yang membayangi IHSG adalah kelanjutan aksi jual oleh investor asing, volatilitas nilai tukar rupiah, dan antisipasi terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat.
Meskipun demikian, IHSG masih memiliki peluang untuk mengalami rebound teknikal. Namun, hal ini sangat bergantung pada dampak rilis data cadangan devisa domestik yang diumumkan hari ini dan efektivitas intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar uang.
Kiswoyo Adi Joe, Co-Founder AP Trading Insight Singapore, berpendapat bahwa pelaku pasar diyakini sudah mampu mengantisipasi efek lanjutan dari konflik geopolitik di Timur Tengah pada pekan mendatang. Oleh karena itu, pengaruhnya terhadap IHSG diperkirakan tidak akan sebesar pekan sebelumnya. “Sebenarnya sentimen-sentimen negatif yang membebani IHSG sudah keluar semua pada pekan ini,” imbuhnya, Jumat (6/3).
Arah pergerakan IHSG pada pekan depan juga akan sangat ditentukan oleh hasil kinerja keuangan emiten pada tahun 2025, terutama emiten dengan kapitalisasi pasar besar. Rilis laporan keuangan ini biasanya menjadi acuan bagi investor dalam menentukan pembagian dividen tahunan.
Kiswoyo memprediksi bahwa IHSG akan bergerak dalam kisaran 7.250 hingga 8.000 sepanjang pekan depan. Sementara itu, menurut Wafi, IHSG berpotensi bergerak di rentang support 7.400 dan resistance di level 7.700 pada pekan yang sama.
Sejumlah saham berbasis komoditas dan sektor defensif dapat menjadi pilihan menarik bagi investor pada pekan depan. Beberapa di antaranya adalah MEDC, ANTM, dan ICBP.
Kinerja Cinema XXI (CNMA) Stabil pada 2025, Begini Rekomendasi Sahamnya
Dalam risetnya, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak terbatas di kisaran 7.500-7.600 pada pekan depan. Dari sisi teknikal, IHSG berada di bawah MA5 dan MA20, yang mengindikasikan bahwa tekanan jangka pendek masih akan berlanjut. Hal ini diperkuat oleh pelebaran negatif slope pada MACD.
Terdapat beberapa saham yang layak diperhatikan oleh investor pada pekan depan, antara lain WIIM, DOOH, NCKL, MEDC, BREN, dan TPIA.
Ringkasan
IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 7,89% dalam sepekan terakhir, mencapai level 7.585,69 pada penutupan perdagangan Jumat (6/3). Penurunan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, penurunan proyeksi Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu capital outflow, dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar AS.
Untuk pekan depan, IHSG diperkirakan masih akan mengalami konsolidasi bearish dengan sentimen negatif dari aksi jual investor asing, volatilitas rupiah, dan antisipasi data inflasi AS. Meskipun demikian, potensi rebound teknikal mungkin terjadi, bergantung pada data cadangan devisa domestik dan intervensi Bank Indonesia. Kisaran pergerakan IHSG diperkirakan antara 7.250-8.000, dengan fokus pada kinerja keuangan emiten dan saham berbasis komoditas serta sektor defensif.