IHSG Terkoreksi? Cek Rekomendasi Saham Selasa Ini!

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terjerembap pada awal pekan perdagangan. Pada Senin (12/1/2026), IHSG ditutup melemah signifikan 0,58% ke level 8.884,72, setelah sebelumnya sempat menunjukkan potensi pemulihan dengan menyentuh kembali area psikologis 9.000 di sesi perdagangan.

Pelemahan IHSG ini dianalisis oleh Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, yang mengungkapkan bahwa tekanan jual didominasi oleh aksi profit taking pada saham-saham konglomerasi. Saham-saham tersebut sebelumnya menjadi motor utama penguatan indeks dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini diperparah dengan munculnya panic selling saat IHSG mencapai titik terendah harian di level 8.715.

Alrich menjelaskan, kegagalan IHSG untuk bertahan di atas level krusial 9.000 memicu gelombang profit taking yang masif. Sentimen negatif ini juga diperkuat oleh antisipasi pasar terhadap kebijakan baru terkait perhitungan free float oleh MSCI, yang dijadwalkan akan diumumkan pada akhir bulan ini.

Saham Big Bank Kompak Menguat, Hanya BBCA yang Terlempar ke Zona Merah

Secara teknikal, Alrich menambahkan bahwa tekanan jual yang kuat telah menyeret IHSG turun di bawah indikator MA5. Lebih lanjut, indikator teknikal seperti MACD dan Stochastic RSI turut memberikan sinyal potensi koreksi lanjutan, yang diperkuat oleh peningkatan volume penjualan saham di pasar.

Melihat kondisi tersebut, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (13/1/2026). Indeks berpeluang menguji area support kuat di rentang 8.725-8.800. Sementara itu, level resistance terdekat berada di 8.950, dengan titik pivot di 8.900.

“Selama IHSG belum mampu kembali menembus dan bertahan di atas level 8.950, risiko untuk kembali menguji area support di bawah masih sangat terbuka,” tegas Alrich.

Dari sisi makro domestik, data menunjukkan gambaran yang beragam. Penjualan ritel Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,3% secara tahunan pada November 2025, meningkat signifikan dari 4,3% pada Oktober dan menjadi laju tercepat sejak Maret 2024. Namun, sentimen positif ini terbebani oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang tergerus hingga menyentuh Rp16.855 per dolar AS, menambah tekanan psikologis bagi pasar modal.

Menurut Alrich, depresiasi rupiah ini disebabkan oleh kombinasi ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik. Tak hanya itu, konflik internal di Iran yang berpotensi memicu eskalasi geopolitik juga turut membebani sentimen pasar, terutama setelah Presiden Trump menyatakan kemungkinan intervensi.

Dari arena eksternal, bursa Eropa dibuka melemah pada Senin (12/1), diikuti oleh pergerakan negatif pada indeks futures Wall Street. Pasar global juga merespons pembukaan penyelidikan kriminal oleh Departemen Kehakiman AS terhadap Chairman The Fed, Jerome Powell, terkait kesaksiannya di Kongres, memicu kegelisahan di kalangan investor.

Investor Asia Sudah Overweight AI, HSBC Nilai Rotasi ke Pasar Lain Mulai Terbuka

“Pasar menilai langkah penyelidikan ini sebagai bentuk tekanan signifikan terhadap bank sentral Amerika Serikat. Ada kekhawatiran bahwa proses ini berpotensi mempercepat pergantian Ketua The Fed sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei 2026,” ujar Alrich mengamati reaksi pasar.

Untuk perdagangan hari Selasa (13/1/2026), Alrich Paskalis Tambolang merekomendasikan beberapa saham pilihan yang patut dicermati, di antaranya adalah TLKM, KLBF, ASII, BTPS, dan MBMA.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan 0,58% ke level 8.884,72 pada Senin (12/1/2026), didorong oleh aksi ambil untung pada saham-saham konglomerasi dan munculnya panic selling. Kegagalan IHSG bertahan di atas level psikologis 9.000 serta antisipasi kebijakan baru MSCI mengenai free float turut memperkuat tekanan jual. Secara teknikal, indikator menunjukkan potensi koreksi lanjutan.

Untuk perdagangan Selasa (13/1/2026), IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah, berpeluang menguji area support 8.725-8.800. Sentimen pasar terbebani oleh depresiasi rupiah ke Rp16.855 per dolar AS dan kekhawatiran global terkait penyelidikan Ketua The Fed. Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham pilihan seperti TLKM, KLBF, ASII, BTPS, dan MBMA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *