IHSG Terjun Bebas! Saham Tambang Jadi Biang Kerok?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami koreksi tajam pada penutupan perdagangan hari Jumat, terperosok 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang melanda pasar saham.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG sejalan dengan tren penurunan yang terjadi di sebagian besar bursa global. Faktor eksternal, khususnya tekanan pada saham-saham sektor pertambangan, menjadi katalis utama koreksi ini.

“Kondisi ini selaras dengan koreksi yang terjadi di mayoritas bursa global dan regional Asia. Salah satu pemicunya adalah belum adanya titik temu dalam perundingan antara AS dan Iran. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga kembali menunjukkan pelemahan,” ungkap Herditya di Jakarta, Jumat. Lebih lanjut, Herditya menambahkan bahwa secara teknikal, IHSG masih berpotensi melanjutkan tren penurunan.

Selain sentimen global, tekanan signifikan juga berasal dari emiten berbasis metal mining. Hal ini dipicu oleh usulan pemerintah terkait kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba) yang bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara.

Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengusulkan skema royalti progresif baru untuk sejumlah komoditas mineral unggulan. “Skema ini mencakup kenaikan batas atas royalti serta penyesuaian rentang harga untuk mengoptimalkan penerimaan negara saat harga komoditas mengalami kenaikan,” jelas Herditya.

Dalam usulan tersebut, terdapat beberapa poin penting. Royalti konsentrat tembaga direvisi dari sebelumnya flat 7-10 persen menjadi 9-13 persen. Sementara itu, royalti katoda tembaga mengalami kenaikan dari 4-7 persen menjadi 7-10 persen. Kenaikan juga diusulkan untuk royalti emas, dari 7-16 persen menjadi 14-20 persen, dengan penambahan rentang harga baru hingga di atas 5.000 dolar AS per ons.

Perubahan juga terjadi pada royalti perak, dari flat 5 persen menjadi progresif 5-8 persen. Royalti timah pun mengalami kenaikan dari 3-10 persen menjadi progresif 5-20 persen.

Untuk bijih nikel, meskipun tarif royalti tetap berada di kisaran 14-19 persen, interval harga disesuaikan lebih rendah sehingga potensi kenaikan tarif dapat terjadi lebih cepat.

Sentimen negatif ini tercermin jelas pada kinerja sektor-sektor utama di BEI. Sektor bahan baku komoditas atau IDXBASIC mengalami penurunan paling signifikan, yaitu sebesar 7,80 persen. Sektor energi atau IDXENERGY menyusul dengan penurunan sebesar 4,59 persen, serta sektor transportasi atau IDXTRANS yang melemah 5,72 persen.

Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan pada hari tersebut menunjukkan dominasi sentimen negatif. Tercatat sebanyak 138 saham mengalami penguatan, sementara 607 saham mengalami penurunan, dan 214 saham stagnan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp12.405 triliun.

Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebanyak 54,39 miliar saham yang berpindah tangan melalui 2,8 juta transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp36,07 triliun.

Ringkasan

IHSG mengalami penurunan tajam sebesar 2,86% ke level 6.969,40 pada penutupan perdagangan hari Jumat, sejalan dengan koreksi di bursa global dan regional Asia. Tekanan pada saham sektor pertambangan menjadi katalis utama, diperburuk oleh belum adanya titik temu perundingan AS-Iran dan pelemahan rupiah.

Usulan pemerintah mengenai kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba) untuk meningkatkan penerimaan negara semakin menekan sektor pertambangan. Kenaikan royalti diusulkan untuk berbagai komoditas seperti tembaga, emas, perak, timah, dan nikel, mengakibatkan penurunan signifikan pada sektor bahan baku komoditas dan energi di BEI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *