IHSG Terburuk di Asia? Anjlok 18% di 2026, Ini Penyebabnya!

JAKARTA, Shoesmart.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja terburuk di antara bursa saham kawasan Asia Pasifik. Pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026, IHSG ditutup melemah sebesar 1,61% ke level 7.022,28.

Secara keseluruhan, IHSG telah terkoreksi sebesar 18,79%. Bahkan, performa IHSG masih di bawah indeks bursa India, S&P BSE Sensex Index, yang telah melemah 11,40% sepanjang tahun 2025.

Tekanan terhadap IHSG diperparah oleh aksi jual investor asing. Tercatat, sejak awal tahun hingga 16 Maret 2026, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 7,83 triliun.

IHSG Melemah Jelang Libur Panjang, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Selasa (17/3)

Padahal, sentimen global yang memengaruhi pasar saham Indonesia relatif serupa dengan bursa regional lainnya. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi terus mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menjelaskan bahwa tekanan pada IHSG bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa sentimen negatif yang muncul secara berdekatan.

Menurutnya, konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama karena mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian di pasar global.

“IHSG juga tertekan oleh isu MSCI terkait struktur pasar domestik serta penurunan outlook rating oleh lembaga pemeringkat global,” ujarnya kepada Kontan, Senin (16/3/2026).

Di tengah kondisi yang kurang menggembirakan ini, Ekky menilai pasar dalam negeri tidak memiliki sentimen positif yang dapat menahan penurunan, seperti yang pernah terjadi di periode sebelumnya.

“Namun saat ini, di tengah isu MSCI dan penguatan regulasi dari otoritas pasar modal, ruang pergerakan saham-saham konglomerasi tersebut juga menjadi lebih terbatas,” imbuhnya.

Selain itu, saham-saham big caps lain di sektor perbankan juga menghadapi tekanan sentimen negatif setelah outlook beberapa bank diturunkan akibat meningkatnya persepsi risiko, termasuk risiko politik dan makroekonomi.

“Karena itu, dalam momentum seperti sekarang, memang belum banyak alasan kuat bagi IHSG untuk langsung berbalik naik,” pungkas Ekky.

Multi Bintang (MLBI) Raih Kenaikan Kinerja di Tahun 2025, Intip Prospeknya

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa pelemahan IHSG merupakan kombinasi dari tekanan global dan sensitivitas domestik terkait energi, fiskal, dan dinamika pasar modal.

Liza menyatakan bahwa saat ini investor cenderung melihat pasar China sebagai alternatif yang lebih stabil dalam menghadapi guncangan energi, karena China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran.

“Bahkan, beberapa laporan internasional juga menyebutkan transaksi minyak Iran ke China banyak dilakukan menggunakan Chinese Yuan di luar sistem keuangan Barat,” jelasnya.

Dalam catatan Kiwoom Sekuritas, Price Earning (P/E) IHSG berada di level 17,8 kali. Sementara P/E Hang Seng berada di kisaran 13 kali, dan P/E Shanghai Composite di level 19,56 kali.

Namun, jika harga energi tetap tinggi dan kebijakan terkait Bahan Bakar Minyak (BBM) atau defisit fiskal harus disesuaikan, Liza memproyeksikan tekanan terhadap rupiah, obligasi, dan IHSG dapat berlanjut.

Sebaliknya, jika konflik mereda dan harga minyak kembali stabil di bawah US$ 100 per barel, Liza menilai sebagian tekanan terhadap pasar Indonesia berpotensi mereda dan IHSG berpotensi melambung dari level 7.000.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mencermati bahwa saat ini support kuat IHSG berada di level 7.000.

“Jika IHSG mengalami penurunan dari level 7.000, mungkin level berikutnya dengan tingkat probabilitas sebesar 63% berpotensi menuju 6.890,” ucapnya.

Senada, Ekky juga menyampaikan bahwa area support IHSG berada di kisaran 7.000, kemudian di 6.800 hingga ke level 6.500. Jika penurunan mencapai area 6.500, kemungkinan akan mulai banyak investor yang melihatnya sebagai area akumulasi yang menarik.

Harga Aluminium Melesat, Begini Efeknya Bagi Emiten Sektor Tersebut

Ringkasan

IHSG mencatatkan kinerja terburuk di Asia Pasifik dengan penurunan 18,79% hingga 16 Maret 2026, ditutup pada level 7.022,28. Tekanan ini diperparah oleh aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 7,83 triliun. Sentimen global seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperburuk keadaan, namun faktor domestik juga berperan.

Beberapa analis menyebutkan bahwa tekanan pada IHSG disebabkan oleh kombinasi faktor, termasuk konflik di Timur Tengah, isu MSCI, penurunan outlook rating oleh lembaga pemeringkat global, dan kurangnya sentimen positif domestik. Level support IHSG berada di kisaran 7.000, dan jika tembus, berpotensi menuju 6.890 bahkan 6.500.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *