Shoesmart.co.id, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak terbatas atau sideways secara teknikal pada pekan depan, dengan proyeksi rentang antara 7.000 hingga 7.200. Pergerakan IHSG ini akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi penting yang dinantikan oleh pelaku pasar.
Tim riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa fokus investor pada pekan mendatang tertuju pada sejumlah pengumuman data ekonomi. Beberapa data kunci tersebut meliputi indeks S&P Global Manufacturing PMI Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, dan data inflasi Maret 2026. Data-data ini diyakini akan menjadi penentu utama arah pergerakan IHSG selanjutnya.
Di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global, investor diperkirakan masih akan mengambil sikap wait and see. “Investor akan menantikan sejumlah data ekonomi domestik pada pekan depan. Level resistance IHSG diperkirakan berada di 7.200 dan support di 7.000,” tulis tim Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (27/2/2026).
Adapun beberapa saham yang direkomendasikan oleh Tim Phintraco Sekuritas untuk dicermati pada pekan depan antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Petrosea Tbk. (PTRO), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN). Rekomendasi ini didasarkan pada potensi pergerakan harga komoditas dan dinamika pasar global yang dapat memengaruhi kinerja saham-saham tersebut.
Pada perdagangan Jumat (27/3), IHSG ditutup melemah, tertekan oleh sentimen global yang masih diwarnai ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Secara spesifik, IHSG parkir di level 7.097,06 pada penutupan perdagangan, turun 0,94% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan di pasar dipicu oleh pernyataan yang saling bertentangan antara AS dan Iran terkait upaya diplomatik untuk meredakan konflik. Situasi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Kondisi ini diperburuk oleh lonjakan harga minyak mentah dan gas alam, yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi mendorong inflasi, baik secara global maupun domestik, sehingga semakin menambah tekanan pada pasar keuangan.
Senada dengan pelemahan IHSG, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah sebesar 0,45% ke level Rp16.980 per dolar AS di pasar spot. Hal ini mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap aset-aset berisiko di Indonesia.
Secara sektoral, saham-saham infrastruktur mencatatkan penurunan terdalam dengan koreksi sebesar 1,29%, seiring dengan aksi jual investor pada saham-saham berbasis proyek. Di sisi lain, sektor energi menjadi penopang kinerja IHSG dengan penguatan sebesar 0,35%, yang didukung oleh kenaikan harga komoditas energi global.
Dari sisi domestik, data jumlah uang beredar (M2) menunjukkan pertumbuhan sebesar 8,7% secara tahunan pada Februari 2026. Angka ini mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10% pada Januari 2026. Pertumbuhan M2 tersebut didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4% dan uang kuasi sebesar 3,1%. Penyaluran kredit yang masih tumbuh juga turut menopang likuiditas di dalam perekonomian.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
IHSG diperkirakan akan bergerak sideways pada pekan depan dengan rentang 7.000-7.200, dipengaruhi oleh rilis data ekonomi seperti indeks S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan, dan data inflasi. Investor diperkirakan akan bersikap wait and see menantikan data-data tersebut. Level resistance IHSG diperkirakan berada di 7.200 dan support di 7.000.
Tim Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham MEDC, ENRG, PTRO, ANTM, dan CUAN untuk dicermati. Pada penutupan perdagangan terakhir, IHSG melemah akibat sentimen global dan ketidakpastian hubungan AS-Iran, serta lonjakan harga minyak. Data jumlah uang beredar (M2) menunjukkan perlambatan pertumbuhan pada Februari 2026.