JAKARTA, Shoesmart.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan arus dana asing diperkirakan akan menunjukkan dinamika yangInteresting dalam beberapa waktu mendatang. Kondisi ini mengindikasikan potensi ketidakselarasan antara data yang ada dengan kondisi fundamental pasar saham Indonesia yang sebenarnya.
S&P Global Ratings, dalam laporan Bloomberg, menyampaikan peringatan mengenai meningkatnya tekanan fiskal di Indonesia. Beban biaya layanan utang yang semakin tinggi menjadi perhatian utama, yang berpotensi meningkatkan risiko penurunan profil kredit Indonesia.
Analis S&P Global Ratings, Rain Yin, dalam sebuah webinar pada Kamis (26 Februari 2026) lalu, mengungkapkan bahwa pembayaran bunga kemungkinan telah melampaui ambang batas kritis, yaitu 15% dari pendapatan pemerintah pada tahun sebelumnya.
Menurut S&P, jika rasio ini terus berada di atas batas tersebut, pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat Indonesia bisa saja terjadi. Meskipun demikian, saat ini S&P masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat kredit BBB Indonesia.
Selain itu, pernyataan Moody’s, ditambah dengan peringatan dari MSCI mengenai reformasi pasar modal, turut memberikan sentimen negatif di mata investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Data dari RTI menunjukkan bahwa IHSG mengalami penurunan sebesar 0,44% selama sepekan terakhir. Namun, di sisi lain, tercatat aliran dana asing masuk sebesar Rp 2,49 triliun di pasar reguler pada periode yang sama.
Kendati demikian, secara year-to-date (YTD), IHSG masih terkoreksi sebesar 4,76%. Arus dana asing juga mencatatkan angka keluar yang signifikan dari pasar saham Indonesia, mencapai Rp 17,87 triliun YTD.
IHSG Ditutup Stagnan di 8.235 pada Jumat (27/2), INCO, NCKL, AMMN Top Gainers LQ45
Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan, berpendapat bahwa arus dana asing secara umum akan tetap fluktuatif, setidaknya hingga pengumuman rebalancing MSCI berikutnya pada Mei 2026.
Dalam jangka pendek, peringatan dari lembaga pemeringkat kredit, terutama S&P dan Fitch Ratings, akan semakin memperkuat volatilitas pasar. Zaidan menambahkan bahwa pasar surat berharga negara (SBN) berpotensi mengalami dampak yang lebih besar dibandingkan pasar saham jika terjadi penurunan outlook dari lembaga pemeringkat.
Aliran modal asing di pasar saham dinilai tidak se-sensitif aliran dana di pasar SBN terhadap penilaian dari lembaga pemeringkat.
“Namun, perlu diperhatikan bahwa keluarnya dana asing tidak terjadi dalam jumlah besar dan dalam rentang waktu yang singkat,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Volatilitas nilai tukar rupiah yang cukup tinggi juga akan memengaruhi pergerakan arus modal asing, seiring dengan perubahan spread antara imbal hasil US Treasuries (UST) dan imbal hasil SBN.
Zaidan juga menyoroti bahwa arus modal asing mencatatkan net outflow secara YTD tidak hanya di pasar saham, tetapi juga di pasar SBN. Sebaliknya, pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru mengalami net inflow.
“Hal ini sejalan dengan upaya Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui penerbitan SRBI dalam jumlah yang relatif besar dengan imbal hasil yang menarik,” paparnya.
IHSG Turun 0,31% ke 8.209 Sesi I, Top Losers LQ45: UNTR, INDF dan ASII, Jumat (27/2)
Saat ini, belum ada kepastian apakah sovereign bond rating Indonesia akan diturunkan oleh S&P Global maupun Fitch Rating. Pasar masih menunggu realisasi APBN sepanjang tahun 2026.
Namun, potensi penurunan outlook, seperti yang dilakukan oleh Moody’s, masih cukup besar, sejalan dengan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Contohnya, besaran belanja negara yang diikuti oleh keseimbangan primer APBN yang negatif, yang mendorong penerbitan utang baru untuk menutupi utang lama.
“Akibatnya, potensi pembayaran bunga utang akan kembali meningkat. Sementara itu, performa pendapatan negara masih menjadi katalis positif ke depannya,” ungkapnya.
Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, menilai bahwa penilaian S&P dan Fitch biasanya memiliki kemiripan. Mereka melihat adanya risiko, tetapi belum menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
“Mereka juga tidak menurunkan rating Indonesia, sehingga sentimen negatifnya terbatas saja,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Dalam sepekan terakhir, dana asing masuk karena adanya optimisme bahwa Bursa Indonesia tidak akan diturunkan ke frontier market (FM) oleh MSCI. Langkah-langkah yang diambil oleh OJK dan SRO dinilai akan memenuhi permintaan MSCI.
“Ketika net buy asing terjadi, dana bisa masuk ke bank-bank besar, seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, TLKM, dan ASII,” ungkapnya.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, berpendapat bahwa penilaian Fitch Ratings kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan keputusan dari lembaga pemeringkat lainnya.
Dengan kondisi saat ini, Teguh melihat IHSG seharusnya berada di kisaran 6.000, bukan di kisaran 8.000. Hal ini disebabkan karena pergerakan IHSG masih didukung oleh saham-saham konglomerasi yang kenaikannya bersifat spekulatif, dan bukan didorong oleh saham-saham blue chip.
Asing Kembali Net Buy Saat IHSG Turun 1,04% Kemarin, Cek Saham yang Banyak Diborong
“Kalau pun nanti naik, pasti ditopang saham konglomerasi. Tapi, asing bisa saja masih terus melakukan penjualan. Ini artinya fundamental IHSG kurang baik, karena pergerakan saham-saham blue chip masih belum bagus,” katanya kepada Kontan, Jumat.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa peringatan dari S&P dapat menjadi sinyal yang bisa menghentikan inflow asing dalam jangka pendek, tetapi tidak secara total.
Investor asing biasanya lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dibandingkan dengan outlook dari lembaga pemeringkat, selama belum terjadi downgrade rating. Valuasi IHSG juga masih dianggap wajar di level 13-14x forward price to earning (PER).
“Fitch mungkin akan memiliki pandangan yang sama karena semua lembaga pemeringkat memantau matriks makro yang sama, terutama terkait rasio utang terhadap PDB di bawah program pemerintahan baru,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Wafi melihat adanya kemungkinan investor asing melakukan rotasi ke aset SUN/SBN. Sementara itu, net outflow dari Bursa Indonesia kemungkinan akan kembali ke Bursa Amerika Serikat (AS) yang masih menunjukkan kinerja baik karena euforia sektor teknologi.
IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas pada Jumat (27/2), Simak Rekomendasi Saham Berikut
“Selain bursa AS, investor juga bisa beralih ke Bursa India yang menawarkan growth story yang lebih agresif,” katanya.
Secara keseluruhan, kondisi Indonesia masih baik, dengan investment grade Indonesia yang masih berada di level BBB.
Fundamental makroekonomi Indonesia, dengan inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, dinilai jauh lebih stabil dibandingkan dengan bursa emerging market lainnya.
“Namun, memang ekonomi Indonesia saat ini sedang minim katalis baru,” tuturnya.
Menurut Wafi, sektor perbankan dan telekomunikasi selalu menjadi sektor yang paling pertama dibeli maupun dijual oleh investor asing. Hal ini disebabkan karena proksi ekonomi, kapitalisasi pasar, kondisi fundamental, dan profil return sesuai dengan persyaratan investor asing.
Wafi pun merekomendasikan pembelian saham BMRI, BBRI, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 7.200 per saham, Rp 5.600 per saham, dan Rp 4.300 per saham.
IHSG Dibuka Turun ke 8.160, Top Losers LQ45: BREN, DSSA & BRPT, Jumat (27/2)
Ringkasan
IHSG dan arus dana asing menunjukkan dinamika menarik pasca peringatan S&P Global Ratings mengenai tekanan fiskal Indonesia. Peringatan ini, ditambah sentimen negatif dari Moody’s dan MSCI, memicu kekhawatiran investor asing, meskipun S&P masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat kredit BBB Indonesia. Analis melihat potensi volatilitas pasar jangka pendek, terutama pada pasar SBN jika lembaga pemeringkat menurunkan outlook.
Meskipun IHSG mengalami penurunan mingguan, terdapat aliran dana asing masuk, namun secara year-to-date (YTD) masih mencatatkan outflow signifikan. Volatilitas rupiah dan spread imbal hasil UST-SBN juga mempengaruhi arus modal asing. Para ahli berpendapat bahwa fundamental IHSG kurang baik dan pergerakannya didukung oleh saham-saham konglomerasi yang bersifat spekulatif.