Shoesmart.co.id – JAKARTA — Analis Ekonomi Bursa Efek Indonesia (BEI), Anita Kesia Zonebia, meyakini bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal tahun 2026 bersifat sementara. Optimisme ini didasarkan pada keyakinan bahwa IHSG memiliki potensi untuk kembali menguat, bahkan melampaui level 10.000, berkat fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih kokoh.
“Jika ditanya apakah kami optimis, tentu saja kami optimis. Pengalaman menunjukkan bahwa volatilitas pasar, seperti yang terjadi pada tahun 2018 akibat perang dagang (trade war 1.0) dan pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19, biasanya hanya bersifat jangka pendek hingga menengah, bukan jangka panjang,” ungkap Anita, seperti dikutip pada Jumat (13/3/2026).
Lebih lanjut, Anita menjelaskan bahwa keyakinannya terhadap penguatan IHSG didorong oleh stabilitas perekonomian Indonesia dan fundamental perusahaan atau emiten yang masih solid. Faktor pendukung lainnya adalah pertumbuhan berkelanjutan jumlah investor di pasar modal.
“Menurut saya, IHSG masih berpotensi untuk terus meningkat. Hal ini ditopang oleh fundamental ekonomi yang relatif kuat, kinerja perusahaan tercatat yang masih positif, serta pertumbuhan jumlah investor yang signifikan. Kombinasi faktor-faktor ini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan IHSG di masa depan,” jelasnya.
Pada awal tahun 2026, IHSG sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level 9.134,7 pada tanggal 20 Januari 2026. Namun, setelah itu, indeks mengalami koreksi yang cukup signifikan hingga bergerak di kisaran 7.000-an akibat sentimen eksternal yang beragam.
Salah satu faktor yang memicu pelemahan IHSG adalah pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan proses rebalancing saham-saham Indonesia pada tanggal 28 Januari 2026.
Selain itu, pandangan pesimis dari sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, UBS, dan Nomura turut memberikan tekanan pada pasar. Lembaga pemeringkat Moody’s dan Fitch juga menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Sentimen global lainnya yang mempengaruhi IHSG adalah konflik geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik pada tanggal 28 Februari 2026, yang melibatkan serangan militer oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, menyebabkan gejolak di pasar saham global, termasuk Indonesia.
Akibatnya, IHSG terus mengalami tren penurunan dan, per tanggal 12 Maret 2026, berada di level 7.362.
Meskipun pasar modal mengalami tekanan, BEI mencatat pertumbuhan positif dalam jumlah investor. Hingga awal Maret 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 23,47 juta.
Angka ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa, yaitu sekitar enam kali lipat dibandingkan tahun 2020 yang hanya mencatat sekitar 3,88 juta investor.
Ringkasan
Analis BEI optimis terhadap prospek IHSG, meyakini pelemahan di awal tahun 2026 bersifat sementara dan berpotensi melampaui level 10.000. Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi domestik yang kokoh, kinerja emiten yang positif, dan pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang signifikan.
Meskipun IHSG sempat mencatatkan rekor tertinggi, sentimen eksternal seperti pengumuman MSCI, pandangan pesimis lembaga keuangan global, konflik geopolitik, dan penurunan outlook peringkat Indonesia memberikan tekanan. Namun, BEI mencatat pertumbuhan investor yang pesat, mencapai 23,47 juta di awal Maret 2026, naik signifikan dari 3,88 juta pada tahun 2020.