Jakarta, IDN Times – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami koreksi tajam lebih dari 7 persen pada perdagangan 28 Januari 2026. Penurunan drastis tersebut sempat memicu kepanikan (panic selling) di kalangan investor pasar modal Indonesia. Meskipun tekanan jual masih berlanjut keesokan harinya, IHSG berhasil menahan laju pelemahannya pada 29 Januari dan justru berbalik menguat secara signifikan pada 30 Januari 2026.
Data perdagangan mencatat bahwa IHSG menyentuh titik terendahnya pada 29 Januari, sebelum akhirnya meluncurkan kembali momentum rebound yang cukup menjanjikan. Dari titik terendah tersebut hingga penutupan perdagangan 30 Januari, IHSG berhasil mencatatkan kenaikan sekitar 12 persen. Kenaikan ini didorong oleh meredanya tekanan jual dan mulai munculnya aksi beli pada saham-saham yang sebelumnya mengalami tekanan berat.
Menurut Founder & CEO Astronacci International, Gema Goeyardi, koreksi tajam IHSG pada 28 Januari 2026 sebagian besar dipicu oleh kepanikan investor ritel yang terburu-buru melepas kepemilikan sahamnya pada harga terendah. Aksi jual ini berlangsung secara masif, seiring dengan penurunan indeks yang menembus angka 7 persen dalam satu hari dan berlanjut pada sesi perdagangan berikutnya.
“Pelemahan tajam IHSG pada 28 Januari 2026 merupakan bagian dari fase akhir tekanan pasar. Bahkan, sebelum kejatuhan pasar ini terjadi, saya telah memprediksi potensi koreksi setelah IHSG menyentuh level 9.150, dengan target pelemahan minimum di sekitar 8.200,” ungkap Gema dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/1/2026).
Penurunan Tajam IHSG Pernah Terjadi Saat Pandemi COVID-19
Gema menambahkan bahwa koreksi tajam yang terjadi pada 28 Januari 2026 sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan. Penurunan ini terjadi di tengah siklus pasar tertentu yang secara historis sering muncul pada puncak tekanan pasar. Ia mencontohkan kejadian serupa yang terjadi pada 24 Maret 2020, ketika pasar global terpuruk akibat dampak pandemi COVID-19.
“Time Trading tidak hanya membantu trader bertahan saat terjadi crash, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk mengambil peluang ketika pasar berbalik arah,” jelas Gema kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).
Trader yang Panik Cenderung Menjual Saham di Titik Terendah
Gema juga menyoroti bahwa kerugian terbesar yang dialami investor ritel dalam kondisi pasar yang ekstrem seringkali dipicu oleh faktor psikologis, bukan semata-mata karena kesalahan analisis fundamental.
“Trader yang panik cenderung menjual saham di titik terendah. Sebaliknya, trader yang memahami faktor waktu justru siap ketika pasar mulai bangkit,” imbuhnya.
Seiring dengan rebound IHSG pada 30 Januari 2026, sejumlah saham yang sebelumnya tertekan berhasil mencatatkan pemulihan yang signifikan. Hal ini menandai berakhirnya fase tekanan jangka pendek setelah dua hari pasar modal domestik dilanda volatilitas tinggi. Dengan berakhirnya fase tekanan tersebut, pasar kini mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Pergerakan IHSG yang menguat pada 30 Januari, diikuti oleh rebound tajam pada sejumlah saham, mengindikasikan bahwa pasar mulai memasuki fase pemulihan setelah ketegangan yang terjadi selama dua hari sebelumnya.
IHSG Kembali Menguat pada Penutupan Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (30/1/2026). Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup menguat 97,4 poin (+1,18 persen) ke level 8.329,6 pada perdagangan hari itu. Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (29/1/2026), IHSG ditutup melemah hingga 88,35 poin (-1,06 persen) ke level 8.232,20.
Adapun level tertinggi IHSG pada hari Jumat tercatat pada posisi 8.404,3, sedangkan level terendahnya pada posisi 8.167,15. Sementara itu, investor membukukan transaksi sebesar Rp41,66 triliun dengan volume transaksi yang diperjualbelikan sebesar 57,81 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan dilakukan sebanyak 3,39 juta kali. Secara keseluruhan, sebanyak 551 saham mengalami penguatan, 194 saham melemah, dan 65 saham stagnan atau tidak mengalami perubahan.
Ringkasan
IHSG menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami koreksi tajam pada 28 Januari 2026. Penurunan sebelumnya memicu kepanikan investor, namun IHSG berhasil rebound dan mencatatkan kenaikan signifikan. Menurut Gema Goeyardi, koreksi ini adalah fase akhir tekanan pasar, dipicu kepanikan investor ritel yang menjual saham di titik terendah.
IHSG menguat pada penutupan perdagangan 30 Januari 2026, didorong oleh meredanya tekanan jual dan munculnya aksi beli. Gema Goeyardi menyoroti faktor psikologis yang mempengaruhi investor ritel saat pasar ekstrem. Pemulihan IHSG dan saham-saham yang sebelumnya tertekan menandakan berakhirnya fase tekanan jangka pendek dan stabilisasi pasar.