KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Awal pekan ini menjadi mimpi buruk bagi para investor di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan, ditutup anjlok 4,88% ke level 7.922,73 pada perdagangan Senin (2/2/2026).
Menurut Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, kombinasi beberapa faktor menjadi penyebab utama koreksi tajam ini. Sentimen negatif datang dari penurunan harga komoditas, tekanan pada saham-saham berbasis emas, dan sikap *wait and see* investor terhadap agenda yang akan diambil oleh otoritas pasar modal.
“Pasar tampaknya masih menantikan hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan MSCI terkait aturan transparansi data *free float*,” jelas Alrich kepada Kontan. “Selain itu, IHSG juga terbebani oleh tekanan dari emiten-emiten konglomerasi dan emiten yang terkait dengan sektor emas, seiring dengan koreksi harga emas dunia.”
Dari sisi makroekonomi domestik, pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang mencapai Rp16.798 per dolar AS di pasar spot. Namun, di tengah sentimen negatif tersebut, ada secercah harapan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan peningkatan ke level 52,6 pada Januari 2026, naik dari 51,2 pada bulan sebelumnya. Ini menandakan bahwa aktivitas pabrik terus berekspansi selama enam bulan berturut-turut.
IHSG Anjlok Lebih dari 5% di Perdagangan Senin (2/2), Begini Kata Pandu Sjahrir
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia juga mengalami peningkatan menjadi US$2,52 miliar pada Desember 2025, didorong oleh pertumbuhan ekspor yang mencapai 11,64% secara tahunan. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat mengalami akselerasi menjadi 3,55% pada Januari 2026, meskipun secara bulanan masih terjadi deflasi sebesar 0,15%.
Tidak hanya di dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari pasar global. Sebagian besar bursa saham di Asia ditutup dalam zona merah. Tekanan terutama datang dari anjloknya indeks Kospi Korea Selatan yang bahkan sempat memicu *trading halt*, kekhawatiran akan terjadinya *bubble* di sektor kecerdasan buatan (AI), serta aksi jual yang berkelanjutan pada komoditas emas dan perak seiring dengan penguatan nilai tukar dolar AS.
Dari perspektif teknikal, Alrich melihat bahwa tekanan jual masih akan mendominasi pergerakan IHSG. Melebarnya histogram negatif MACD mengindikasikan adanya pola distribusi, sementara Stochastic RSI telah berada di area *oversold* namun belum memberikan sinyal adanya potensi pembalikan arah.
“Saat ini, IHSG masih mampu bertahan di atas MA200 di sekitar level 7.786. Selama indeks masih berada di bawah level 8.000, peluang untuk menguji area *support* tersebut masih sangat terbuka,” jelasnya lebih lanjut.
Untuk strategi perdagangan pada hari Selasa (3/2/2026), Alrich merekomendasikan beberapa saham yang menarik untuk dicermati, antara lain AADI, MYOR, ICBP, INDF, dan JSMR.
IHSG Ambruk 4,88% ke 7.922, Top Losers LQ45: MBMA, MDKA dan EMTK, Senin (2/2)
Senada dengan Alrich, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, juga berpendapat bahwa pertemuan antara BEI dan MSCI turut menjadi faktor yang membuat para investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
“Pasar saat ini masih berada dalam mode *wait and see*, menantikan perkembangan dari agenda BEI dan MSCI terkait reformasi transparansi pasar modal. Hal ini diperburuk oleh tekanan dari saham-saham konglomerasi serta emiten berbasis emas yang mengalami koreksi seiring dengan penurunan harga emas dunia,” ungkap Herditya.
Herditya menambahkan, secara teknikal, IHSG masih rentan terhadap koreksi meskipun terdapat potensi penguatan terbatas pada perdagangan selanjutnya.
“Untuk hari Selasa, IHSG berpeluang mengalami penguatan terbatas dengan level *support* di 7.828 dan *resistance* di 8.031,” pungkasnya.
Adapun beberapa saham yang dapat menjadi perhatian investor antara lain AADI di kisaran harga Rp8.150-Rp8.350, INCO di Rp6.425-Rp6.850, serta JSMR di Rp3.650-Rp3.680.
IHSG Anjlok 5,31% ke 7.887 pada Sesi I Senin (2/2), MDKA, BRPT, BUMI Top Losers LQ45
Ringkasan
IHSG mengalami koreksi tajam sebesar 4,88% pada awal pekan, dipicu oleh penurunan harga komoditas, tekanan pada saham berbasis emas, dan sikap wait and see investor terhadap agenda pertemuan BEI dengan MSCI terkait transparansi data free float. Selain itu, pelemahan rupiah dan sentimen negatif dari bursa global turut membebani pergerakan indeks. Meskipun demikian, indeks PMI Manufaktur Indonesia meningkat dan neraca perdagangan surplus.
Analis merekomendasikan beberapa saham yang menarik untuk dicermati dalam perdagangan selanjutnya, termasuk AADI, MYOR, ICBP, INDF, dan JSMR. Secara teknikal, IHSG masih rentan terhadap koreksi, namun terdapat potensi penguatan terbatas dengan level support dan resistance yang perlu diperhatikan. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.