Shoesmart.co.id, JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan depan diperkirakan akan cenderung terbatas, dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta dampak lanjutan dari rebalancing indeks MSCI.
Menurut proyeksi tim riset Phintraco Sekuritas, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan rentang antara 6.000 hingga 6.300. Prediksi ini didasarkan pada kemampuan indeks dalam menahan tekanan jual selama momentum rebalancing MSCI hingga akhir Mei 2026.
“IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6.000-6.300 pada perdagangan pekan depan,” demikian pernyataan tim riset Phintraco, seperti dikutip pada hari Sabtu (29/5/2026).
Baca Juga: Daftar Saham Top Losers Pekan Ini, dari AMRT hingga FORE Terpuruk
Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5), IHSG mengalami pelemahan tipis sebesar 0,05% dan berakhir pada level 6.127,38. Sebelumnya, indeks sempat menunjukkan penguatan hingga mencapai level 6.230 sebelum akhirnya terkoreksi menjelang akhir sesi perdagangan.
Phintraco Sekuritas menilai bahwa tekanan jual yang timbul akibat keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI ternyata tidak separah kekhawatiran pasar sebelumnya. Bahkan, beberapa saham justru berhasil mencatatkan penguatan yang cukup signifikan.
Baca Juga: IHSG Sepekan Melemah 0,56% ke Level 6.127,38, Investor Asing Catatkan Net Sell Rp53,97 Triliun
Kondisi ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar telah mengantisipasi rebalancing MSCI, sehingga aksi jual yang terjadi relatif lebih terukur.
“Meskipun ada tekanan jual pada beberapa saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI, koreksi yang terjadi tidak terlalu dalam karena rebalancing ini sudah diantisipasi oleh para investor,” jelas Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Baca Juga: Saham Prajogo Pangestu Pimpin Daftar Top Gainers Pekan Ini, BREN hingga PTRO Melesat Tajam
Dari sisi eksternal, sentimen pasar turut didukung oleh penguatan mayoritas indeks saham di Asia, yang mengikuti reli saham teknologi di Wall Street. Penguatan saham teknologi di Amerika Serikat menjadi katalis positif bagi pasar regional, meskipun tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.
Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia juga dinilai membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi tekanan inflasi global.
Namun, pasar domestik masih dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan spot Jumat (29/5), rupiah kembali menyentuh level terendah di Rp17.881 per dolar AS. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membatasi potensi penguatan IHSG dalam jangka pendek.
Secara sektoral, saham sektor kesehatan mencatatkan penurunan terdalam dengan koreksi sebesar 1,49%. Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi penopang utama indeks setelah mengalami penguatan sebesar 2,89% sepanjang perdagangan.
Pada pekan depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati arah pergerakan arus dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, serta perkembangan sentimen global, terutama yang berkaitan dengan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.
Jika tekanan eksternal mereda dan nilai tukar rupiah mulai stabil, IHSG berpotensi untuk kembali menguji area resistance di level 6.300. Sebaliknya, jika tekanan jual dari investor asing terus berlanjut dan rupiah terus melemah, indeks berisiko kembali mendekati area support psikologis di level 6.000.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
IHSG pada pekan depan diperkirakan bergerak sideways antara 6.000-6.300, dipengaruhi sentimen global, pelemahan rupiah, dan rebalancing indeks MSCI. Meskipun ada tekanan jual akibat keluarnya saham dari indeks MSCI, koreksi tidak terlalu dalam karena sudah diantisipasi investor. Sentimen positif datang dari penguatan bursa Asia dan penurunan harga minyak dunia.
Namun, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian karena menyentuh level Rp17.881 per dolar AS. Pasar akan mencermati pergerakan dana asing, stabilitas rupiah, dan sentimen global, termasuk geopolitik dan kebijakan suku bunga AS. IHSG berpotensi menguji resistance 6.300 jika tekanan eksternal mereda, atau kembali ke support 6.000 jika tekanan jual dan pelemahan rupiah berlanjut.