IHSG Menguat Terbatas Senin? Ini Rekomendasi Saham dari Analis!

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah tertekan cukup dalam sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mencoba bangkit dengan pergerakan yang cenderung terbatas pada awal pekan perdagangan, Senin (9/2/2026).

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG harus mengakui keunggulan sentimen negatif dengan pelemahan sebesar 2,08% atau setara dengan penurunan 168,62 poin, menutup hari di level 7.935,26. Kombinasi antara sentimen eksternal yang kurang menggembirakan dan sikap hati-hati dari investor asing menjadi faktor utama yang membebani laju indeks.

Herditya Wicaksana, Head of Research MNC Sekuritas, memproyeksikan bahwa IHSG memiliki peluang untuk menguat, meskipun terbatas. Ia menetapkan level support di 7.854 dan resistance di 8.214 sebagai acuan pergerakan indeks pada awal pekan ini.

“Untuk hari Senin, IHSG masih berpotensi mengalami penguatan yang terbatas. Namun, investor akan terus memantau perkembangan terkait dengan tinjauan MSCI, potensi penurunan peringkat dari beberapa lembaga asing, serta pergerakan harga komoditas global,” jelas Herditya kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

OJK Unjuk Gigi! Jatuhkan Sanksi dan Denda ke REAL, UOB Kay Hian Sekuritas dan PIPA

Herditya menambahkan bahwa sorotan MSCI terhadap aspek free float dan transparansi emiten masih menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar. Kondisi ini berdampak pada kehati-hatian investor asing, yang berpotensi menahan diri untuk mengalirkan dana ke pasar saham Indonesia.

Untuk saham-saham yang layak diperhatikan pada awal pekan ini, Herditya merekomendasikan beberapa pilihan, antara lain AMRT dengan rentang harga Rp1.935–Rp1.995, AUTO di Rp2.700–Rp2.790, serta NCKL di Rp1.385–Rp1.430.

Senada dengan pandangan tersebut, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai bahwa IHSG akan bergerak terbatas dengan volatilitas yang cukup tinggi. Ia memproyeksikan area support IHSG berada di antara 7.700–7.858 dan resistance di kisaran 8.050–8.200.

“Sentimen yang dominan masih berasal dari tekanan jual yang dilakukan oleh investor asing, seiring dengan isu MSCI yang terus berlanjut serta penurunan outlook untuk Indonesia oleh lembaga pemeringkat dan sejumlah investment bank global. Kondisi ini mendorong pasar untuk cenderung berada dalam fase risk-off,” jelas Reza.

Dari sisi domestik, Reza berpendapat bahwa pelaku pasar akan mencermati serangkaian rilis data ekonomi penting, mulai dari tingkat kepercayaan konsumen (consumer confidence), data penjualan ritel, hingga data penjualan kendaraan bermotor. Data-data ini akan menjadi indikator awal untuk mengukur daya beli dan momentum konsumsi di dalam negeri.

 
AUTO Chart by TradingView

Sementara itu, dari kancah global, perhatian investor akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, seperti Non-Farm Payrolls, tingkat pengangguran, serta data inflasi. Selain itu, perkembangan geopolitik global, terutama agenda diskusi antara Amerika Serikat dan Iran, juga berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Dalam situasi pasar yang masih diwarnai ketidakpastian, Reza menyarankan investor untuk menerapkan strategi yang selektif dan defensif. Investor sebaiknya fokus pada saham-saham dengan valuasi yang relatif terdiskon, fundamental yang solid, serta dividend yield yang menarik, sembari tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko.

“Untuk menghadapi pekan depan, saham-saham seperti PTBA, UNVR, dan ACES dapat dipertimbangkan karena memiliki kombinasi fundamental yang relatif kuat dan lebih defensif di tengah volatilitas pasar,” pungkas Reza.

Ringkasan

IHSG diperkirakan akan menguat terbatas pada awal pekan, Senin (9/2/2026), setelah tertekan cukup dalam pekan lalu. Sentimen negatif eksternal dan kehati-hatian investor asing masih menjadi faktor utama. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas merekomendasikan saham AMRT, AUTO, dan NCKL untuk diperhatikan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, juga memprediksi IHSG bergerak terbatas dengan volatilitas tinggi, dipengaruhi tekanan jual asing dan isu MSCI. Reza menyarankan strategi selektif dan defensif, dengan fokus pada saham seperti PTBA, UNVR, dan ACES yang memiliki fundamental kuat dan dividend yield menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *