Shoesmart.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Jumat sore dengan kenaikan tipis. Para pelaku pasar tampaknya memilih untuk bersikap hati-hati, menantikan rilis data ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri yang dijadwalkan pada pekan depan.
IHSG berhasil menguat tipis sebesar 0,23 poin atau 0,00 persen, berakhir di level 8.235,49. Namun, berbeda dengan IHSG, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 justru mengalami penurunan sebesar 3,53 poin atau 0,42 persen, berada di posisi 834,36.
Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, dalam kajiannya di Jakarta pada hari Jumat, mengungkapkan bahwa pasar saat ini tengah “menantikan sejumlah data indikator ekonomi penting yang akan dirilis pada pekan depan.”
Sebelumnya, IHSG sempat tertekan hampir sepanjang sesi perdagangan akibat sentimen negatif yang dipicu oleh beberapa faktor. Ketidakpastian terkait tarif di Amerika Serikat (AS), peringatan dari S&P Global Ratings mengenai potensi peningkatan tekanan fiskal di Indonesia, serta rebalancing MSCI di akhir bulan turut membebani pergerakan indeks.
Pada pekan mendatang, kalender ekonomi domestik akan diramaikan dengan rilis beberapa data penting. Di antaranya adalah S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari 2026, dan inflasi Februari 2026. Ketiga data ini dijadwalkan untuk dirilis pada hari Senin, 2 Maret.
Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati data cadangan devisa periode Februari 2026 yang akan diumumkan pada hari Jumat, 6 Maret.
Harapan Tinggi Bonek ke Persebaya Surabaya! Ngeyel, Fokus, dan Wani Hadapi Persib Bandung di Gelora Bung Tomo
Dari Amerika Serikat, sejumlah data ekonomi penting juga menjadi perhatian pasar, termasuk indeks ISM Manufacturing, ISM non-manufacturing, ADP Employment change, Nonfarm Payrolls (NFP), tingkat pengangguran (unemployment rate), dan data penjualan ritel (Retail Sales).
Di tingkat global, investor akan fokus pada rilis data inflasi periode Februari 2026 di kawasan Euro, indeks manufaktur dan jasa dari Tiongkok, tingkat kepercayaan konsumen (consumer confidence) dari Jepang, serta data penjualan ritel (retail sales) dari kawasan Euro.
Meskipun dibuka dengan pelemahan, IHSG cenderung betah berada di zona negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan. Namun, pada sesi kedua, indeks berhasil berbalik arah dan bergerak ke zona hijau menjelang penutupan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor berhasil mencatatkan kenaikan. Sektor industri memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 4,41 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor barang baku yang masing-masing naik sebesar 3,42 persen dan 1,84 persen.
Sebaliknya, empat sektor mengalami koreksi. Sektor keuangan mencatat penurunan terdalam sebesar 0,71 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor transportasi & logistik yang masing-masing turun sebesar 0,42 persen dan 0,31 persen.
Secara keseluruhan, frekuensi perdagangan saham pada hari ini tercatat sebanyak 2.526.942 kali transaksi dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 47,64 miliar lembar saham senilai Rp38,24 triliun. Terdapat 341 saham yang mengalami kenaikan harga, 315 saham yang menurun, dan 163 saham yang tidak mengalami perubahan harga.
Di bursa saham regional Asia, indeks Nikkei menguat 213,61 poin atau 0,36 persen ke 58.967,00, indeks Hang Seng naik 249,52 poin atau 0,95 persen ke 26.630,54, indeks Shanghai menguat 16,25 poin atau 0,39 persen ke 4.162,88, dan indeks Strait Times menguat 30,69 poin atau 0,62 persen ke 4.995,07.
Ringkasan
IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,00 persen ke level 8.235,49 pada perdagangan Jumat, sementara indeks LQ45 justru mengalami penurunan. Investor cenderung wait and see menantikan rilis data ekonomi penting baik dari dalam maupun luar negeri pada pekan depan. Beberapa faktor seperti ketidakpastian tarif AS dan rebalancing MSCI sempat membebani pergerakan indeks.
Pekan depan, pasar akan fokus pada data S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan, dan inflasi domestik, serta cadangan devisa. Dari global, investor mencermati data inflasi Euro, manufaktur Tiongkok, kepercayaan konsumen Jepang, dan penjualan ritel Euro. Sektor industri memimpin penguatan, sementara sektor keuangan mengalami penurunan terdalam.