IHSG Melemah? Investor Ritel Santai, Ini Kata BEI!

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) meyakini bahwa gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pengumuman dari MSCI tidak menjadi persoalan serius bagi investor ritel.

Pada hari Rabu (28 Januari 2026), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 7,35% ke level 8.320,556. Bahkan, pada pukul 13.42 WIB, perdagangan saham sempat dihentikan sementara (trading halt) karena penurunan tajam hingga 8% setelah MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia, termasuk pembekuan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks.

Secara rinci, MSCI memutuskan untuk menangguhkan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) juga tidak akan diimplementasikan untuk sementara waktu.

IHSG Ditutup Anjlok 7,35% ke 8.320 pada Rabu (28/1), DSSA, EXCL, EMTK Top Losers LQ45

Lebih lanjut, MSCI meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk perpindahan saham dari kategori Small Cap ke Standard. Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko turnover indeks dan risiko investabilitas secara keseluruhan.

“Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” demikian bunyi pengumuman resmi MSCI yang dirilis pada Selasa (27 Januari 2026) malam.

Menanggapi situasi ini, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) BEI, Irvan Susandy, berpendapat bahwa pelemahan IHSG tidak terlalu mempengaruhi investor ritel. Ia menjelaskan bahwa mekanisme margin call, yaitu peringatan dari broker terkait kondisi IHSG, berperan penting dalam meredam dampak negatif.

Bursa menilai investor ritel domestik masih memiliki ketahanan yang cukup baik untuk menopang margin perdagangan IHSG pada hari tersebut.

“Beberapa saham yang masuk saham margin ada yang juga sudah lebih dari 7%. Lalu, (marginnya) ada yang 10%, ada yang 15%. Suka atau tidak suka, pasti ada kemungkinan besar juga sell,” ujarnya kepada awak media di Gedung BEI, Rabu (28/1).

Irvan juga mengungkapkan bahwa aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing mencapai Rp 3 triliun saat IHSG melemah di sesi I perdagangan. Fenomena ini dipicu oleh panic selling sebagai respons terhadap penurunan IHSG.

Kendati demikian, nilai net sell tersebut hanya merupakan sebagian kecil dari total transaksi pada perdagangan sesi I yang mencapai Rp 30 triliun. Ini mengindikasikan bahwa minat investor asing untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia masih cukup tinggi.

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.722 Per Dolar AS Hari Ini (28/1), Asia Melesat

“Cukup banyak belinya. Jadi impact dari margin kemungkinan besar,” imbuhnya.

Senada dengan Irvan, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyampaikan bahwa nilai transaksi bursa pada hari normal, tanpa adanya pengumuman dari MSCI, biasanya mencapai Rp 31 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik secara umum masih terjaga.

“Hari ini yang keluar Rp 3,6 triliun dari Rp 30 triliun. Jadi 90% masih percaya market kita,” pungkasnya.

Ringkasan

IHSG mengalami pelemahan signifikan sebesar 7,35% pada hari Rabu (28 Januari 2026) setelah pengumuman dari MSCI terkait penangguhan perubahan evaluasi indeks pasar Indonesia. Pelemahan ini sempat menyebabkan trading halt karena penurunan tajam hingga 8%. MSCI menangguhkan kenaikan FIF, NOS, dan penambahan saham baru ke dalam IMI, serta meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks.

BEI meyakini pelemahan IHSG tidak terlalu berdampak pada investor ritel karena adanya mekanisme margin call. BEI mencatat aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing mencapai Rp 3 triliun, namun nilai transaksi secara keseluruhan tetap tinggi, yaitu Rp 30 triliun. BEI menegaskan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik masih terjaga, dimana 90% masih mempercayai pasar modal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *