Shoesmart.co.id, JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan menutup sesi perdagangan pertama hari Kamis, 19 Februari 2026, di zona merah. Pergerakan ini menjadi perhatian para investor setelah beberapa hari sebelumnya IHSG menunjukkan tren positif.
Data dari RTI menunjukkan bahwa IHSG terkoreksi sebesar 0,25% atau 21,143 poin, sehingga berada di level 8.289,084. Pada sesi tersebut, tercatat 351 saham mengalami penurunan, sementara 293 saham berhasil mencatatkan kenaikan, dan 169 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan total volume mencapai 37,5 miliar saham, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 16,5 triliun. Angka ini mencerminkan dinamika pasar yang cukup tinggi meskipun IHSG mengalami koreksi.
Enam indeks sektoral menjadi pemberat utama bagi kinerja IHSG di sesi pagi. Sektor teknologi (IDX-Techno) memimpin penurunan dengan koreksi sebesar 1,39%, diikuti oleh sektor keuangan (IDX-Finance) yang melemah 0,76%, dan sektor industri (IDX-Industry) yang terkoreksi 0,66%. Penurunan ini memberikan gambaran sektor mana saja yang menjadi fokus perhatian investor.
Saham-saham yang mengalami penurunan terdalam (top losers) di kelompok LQ45 meliputi:
* PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 3,32% ke Rp 5.100
* PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 2,98% ke Rp 88.775
* PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 2,37% ke Rp 2.880
Di sisi lain, beberapa saham LQ45 berhasil mencatatkan kenaikan signifikan (top gainers):
* PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 15,92% ke Rp 910
* PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 7,60% ke Rp 3.540
* PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 7,04% ke Rp 304
Berbanding terbalik dengan kondisi IHSG yang melemah, bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan tren positif. Indeks saham utama Korea Selatan, Kospi, mencetak rekor tertinggi baru dengan lonjakan sebesar 2,84%. Kenaikan ini didorong oleh performa impresif saham-saham teknologi seperti Samsung Electronics yang naik 4,14% dan SK Hynix yang menguat 1,48%.
Goldman Sachs dalam riset terbarunya menyebut Korea Selatan kembali menjadi pasar unggulan di Asia Pasifik, setelah mencatatkan kenaikan hampir dua kali lipat sepanjang tahun 2025. Mereka memproyeksikan pertumbuhan pasar saham Korea mencapai 120% pada tahun 2026, melanjutkan tren positif setelah naik 36% pada tahun 2025. Indeks saham lapis kecil, Kosdaq, juga mengalami lonjakan signifikan sebesar 4,68%.
Di kawasan lain, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,93%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 menguat 0,72% dan Topix bertambah 1,12%.
Sebagai informasi tambahan, pasar saham Hong Kong dan China daratan masih ditutup karena libur perayaan Tahun Baru Imlek.
Ringkasan
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) ditutup melemah sebesar 0,25% atau 21,143 poin, berada di level 8.289,084 pada sesi pertama perdagangan tanggal 19 Februari 2026. Penurunan ini dipicu oleh koreksi pada beberapa sektor, terutama teknologi, keuangan, dan industri, meskipun aktivitas perdagangan tercatat ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 16,5 triliun.
Beberapa saham LQ45 mengalami penurunan signifikan seperti BMRI, DSSA, dan SMGR, sementara saham MBMA, MDKA, dan BUMI mencatatkan kenaikan. Berbeda dengan IHSG, bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan tren positif, terutama di Korea Selatan yang mencetak rekor tertinggi baru dan diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan oleh Goldman Sachs.