IHSG Mei 2026 Terpuruk: Sektor Ini Jadi Peluang Investasi!

JAKARTA, KONTAN.CO.ID – Tekanan di pasar keuangan domestik tak kunjung reda hingga pengujung Mei 2026. Pelemahan nilai tukar rupiah, diperparah dengan arus modal asing yang keluar (outflow), membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus terperosok di zona merah. Bahkan, IHSG mencatatkan koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa IHSG menutup perdagangan akhir Mei 2026 di level 6.127,38. Angka ini merosot tajam sebesar 11,92% dibandingkan posisi akhir April yang berada di 6.956,8. Secara kumulatif, sejak awal tahun 2026, indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini telah terkoreksi hingga 29,14%.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG tak bisa dilepaskan dari tekanan terhadap rupiah. Hal ini memicu kekhawatiran investor asing terkait risiko nilai tukar.

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.805 Senin (1/6), Ini Sentimen Penggeraknya

“Kondisi tersebut memicu outflow modal asing secara masif, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar,” ungkap Nafan kepada Kontan, Senin (1/6).

Selain tekanan nilai tukar, volatilitas pasar juga meningkat akibat agenda rebalancing sejumlah indeks global. Penyesuaian komposisi indeks MSCI pada akhir Mei, misalnya, mendorong investor asing untuk melakukan penyesuaian portofolio mereka.

Dari sisi eksternal, Nafan melihat bahwa tingginya harga komoditas global berpotensi mempertahankan inflasi dunia tetap tinggi. Kondisi ini dapat memaksa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, yang pada akhirnya menekan aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, dari dalam negeri, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin dinilai turut memengaruhi sentimen pasar.

“Tujuan kenaikan BI Rate adalah meredam pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, kebijakan tersebut juga dapat memicu sikap yang lebih prudent dari pelaku pasar karena dikhawatirkan meningkatkan ekspektasi biaya modal korporasi,” jelas Nafan.

Kendati pasar saham sedang tertekan, Nafan berpendapat bahwa valuasi saham Indonesia saat ini sudah berada pada level yang menarik.

Menurutnya, rasio price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) pasar secara umum telah berada di bawah rata-rata historis lima tahun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa valuasi pasar saham Indonesia relatif murah atau undervalued.

Perkasa, Rupiah Spot Menguat 0,43% ke Rp 17.805 per Dolar AS pada Senin (1/6/2026)

Oleh karena itu, Nafan menyarankan agar investor mulai melakukan akumulasi saham secara bertahap, dibandingkan masuk sekaligus ke pasar.

Untuk pilihan sektor, Nafan masih merekomendasikan saham-saham perbankan besar, khususnya kelompok bank KBMI 4 seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Menurutnya, sektor ini memiliki fundamental yang kuat dan berpotensi kembali menjadi tujuan aliran dana asing ketika sentimen pasar membaik.

Selain perbankan, peluang juga dinilai masih terbuka pada sektor komoditas dan energi yang memperoleh dukungan dari program hilirisasi. Sementara itu, sektor konsumer tetap menarik karena ditopang oleh daya beli domestik yang relatif terjaga.

Strong domestic consumption masih valid dan relatif masih terjaga. Itu bisa menjadi penopang kinerja sektor konsumer, baik cyclicals maupun non-cyclicals,” papar Nafan.

Nafan menjelaskan bahwa pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan investor asing. Ketika nilai investasi dikonversi kembali ke dolar AS, depresiasi rupiah dapat menggerus keuntungan sehingga meningkatkan risiko investasi.

Maka dari itu, pelemahan rupiah yang tajam sering kali direspons dengan aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa koreksi IHSG saat ini lebih mencerminkan dinamika pasar keuangan dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

“Penurunan IHSG saat ini lebih mencerminkan koreksi pada instrumen pasar keuangan akibat dinamika likuiditas global dan nilai tukar, bukan kejatuhan fundamental ekonomi Indonesia secara struktural. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang baik,” tegasnya.

Dengan kondisi tersebut, Nafan menilai bahwa koreksi pasar saat ini justru dapat menjadi momentum bagi investor jangka panjang untuk mulai mengoleksi saham-saham berkualitas dengan harga yang lebih menarik.

“Bagi investor dengan horizon investasi di atas satu hingga tiga tahun, momentum penurunan IHSG ini dapat menjadi waktu yang menarik untuk menyeleksi saham-saham berkualitas dengan harga yang lebih murah,” pungkasnya.

Ringkasan

IHSG mengalami penurunan signifikan hingga akhir Mei 2026, mencapai level 6.127,38 atau merosot 11,92% dibandingkan akhir April. Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan rupiah, outflow modal asing, dan agenda rebalancing indeks global. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia juga turut memengaruhi sentimen pasar.

Meskipun IHSG tertekan, valuasi saham Indonesia dinilai menarik dan berada di bawah rata-rata historis. Sektor perbankan besar, komoditas, energi, dan konsumer direkomendasikan sebagai peluang investasi. Koreksi IHSG dianggap sebagai momentum bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham berkualitas dengan harga yang lebih murah, mengingat fundamental ekonomi Indonesia masih resilien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *