KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Senin (26/1/2026) dengan penguatan tipis sebesar 0,27% ke level 8.975,33. Pergerakan ini terjadi setelah IHSG sempat mengalami fluktuasi yang cukup dinamis, dipengaruhi oleh sentimen global yang beragam.
Meskipun mencatatkan penguatan, analis menilai bahwa IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Hal ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik yang terus membayangi, pergerakan harga komoditas yang fluktuatif, hingga sikap investor yang cenderung wait and see menjelang pengumuman keputusan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa penguatan IHSG kali ini didorong oleh kenaikan harga saham di sektor basic materials, sejalan dengan rebound harga komoditas. Namun, tekanan justru datang dari sektor energi akibat koreksi yang dialami oleh saham-saham seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).
“Pelemahan pada saham-saham energi ini diduga kuat dipicu oleh antisipasi pasar terhadap pengumuman metodologi perhitungan free float oleh MSCI atas saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia,” ungkap Alrich kepada Kontan, Senin (26/1/2026).
SBN Ritel ORI029 Ditawarkan Mulai Hari Ini, Kupon Masih Menarik?
Dari sisi teknikal, Alrich menyoroti bahwa indikator Stochastic RSI masih berada di area oversold, meskipun belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat. Sementara itu, histogram negatif pada indikator MACD justru mengalami pelebaran.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa IHSG masih berpotensi untuk bergerak sideways dengan rentang konsolidasi di area support 8.850 dan resistance 9.100, dengan titik pivot di sekitar level 8.950,” jelasnya lebih lanjut.
Dari eksternal, sentimen global masih menunjukkan kecenderungan yang variatif. Rupiah di pasar spot terpantau menguat ke level Rp16.782 per dolar AS, seiring dengan pelemahan indeks dolar menjelang pertemuan The Fed pada pekan ini. Namun, di sisi lain, eskalasi ketegangan geopolitik turut mendorong lonjakan harga emas hingga mencetak rekor tertinggi baru, mendekati level US$5.100 per troy ounce, sebagai aset safe haven yang diburu investor.
Pergerakan bursa Asia juga ditutup dengan hasil yang beragam, dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait geopolitik serta isu perdagangan global, termasuk pernyataan dari Kanada yang menyatakan tidak berniat untuk melanjutkan perjanjian dagang dengan Tiongkok di tengah ancaman tarif tinggi dari Amerika Serikat.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai bahwa pergerakan IHSG saat ini masih cukup solid karena mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari (moving average 20).
“Pergerakan IHSG hari ini inline dengan analisis teknikal yang telah kami lakukan. Sentimen utama masih berasal dari bursa global yang variatif, isu potensi shutdown di Amerika Serikat, serta pasar yang tengah menantikan hasil FOMC Meeting pada hari Kamis nanti,” ujar Herditya.
Ia menambahkan bahwa penguatan harga emas dunia dan apresiasi nilai tukar rupiah turut menjadi penopang sentimen positif di pasar domestik.
Untuk perdagangan pada hari Selasa (27/1/2026), Herditya memproyeksikan bahwa IHSG berpeluang untuk mengalami penguatan terbatas, dengan area support di level 8.923 dan resistance di level 9.026.
“Namun, pergerakan harga komoditas emas global dan perkembangan isu fiskal di Amerika Serikat masih akan sangat memengaruhi volatilitas IHSG,” tegasnya.
Adapun saham-saham yang direkomendasikan untuk dicermati oleh investor antara lain adalah PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) di kisaran harga Rp1.365-Rp1.385, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) di rentang harga Rp2.300–Rp2.370, serta PT Jasa Marga Tbk (JSMR) pada area harga Rp3.680–Rp3.730.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebagai pilihan utama (top picks) untuk investasi jangka pendek.
Jelang Rapat FOMC, Begini Proyeksi Rupiah untuk Besok (27/1)
Ringkasan
IHSG ditutup menguat tipis 0,27% ke level 8.975,33, namun analis menilai masih dalam fase konsolidasi akibat sentimen global dan sikap wait and see investor menjelang keputusan suku bunga The Fed. Penguatan didorong sektor basic materials seiring rebound harga komoditas, sementara sektor energi tertekan. Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan support 8.850 dan resistance 9.100.
Untuk perdagangan selanjutnya, IHSG diproyeksikan menguat terbatas dengan support 8.923 dan resistance 9.026, namun volatilitas akan dipengaruhi harga emas dan isu fiskal AS. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain AKRA, BRIS, dan JSMR oleh MNC Sekuritas, serta PGEO, ERAA, JSMR, AKRA, dan MEDC oleh Phintraco Sekuritas.