IHSG Hari Ini: Peluang Menguat! Cek Kisaran Target & Analisis

Shoesmart.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi penguatan yang berkelanjutan di awal tahun 2026, meskipun bergerak dalam fase konsolidasi. Dinamika sentimen global dan domestik menjadi poros utama yang menentukan arah pergerakan pasar saham.

Pengamat pasar modal, Hans Kwee, menyoroti beberapa faktor eksternal yang memengaruhi pasar. Pujian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap penasihat ekonominya, Kevin Hassett, dipercaya meredakan spekulasi Hassett sebagai Ketua The Fed. Hal ini disambut positif pasar karena Hassett dikenal sebagai figur yang kurang independen dan cenderung dovish, selaras dengan keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif.

Namun, di sisi lain, rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi justru menunda proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed hingga Juni 2026. Meskipun demikian, pelaku pasar masih memperkirakan akan ada dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. Hans menambahkan, “Di pasar AS masih terjadi rotasi dari saham teknologi berkapitalisasi besar ke saham-saham yang dinilai masih undervalued yang berkapitalisasi menengah dan kecil,” pada Minggu (18/1).

Tak hanya itu, harga minyak dunia turut bergerak fluktuatif, dipicu oleh potensi campur tangan AS dalam gejolak unjuk rasa di Iran. Meski pernyataan Trump sempat meredakan ketegangan serangan AS dalam jangka pendek, penarikan sebagian personel militer AS dari Timur Tengah dan pergerakan kapal induk AS masih menyisakan risiko eskalasi konflik, walau tidak dalam waktu dekat.

Dari ranah domestik, prospek pelebaran defisit fiskal Indonesia menjadi salah satu tekanan bagi pergerakan nilai tukar rupiah di awal tahun. Dalam mengantisipasi hal tersebut, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan guna memperkuat nilai tukar rupiah. “Pekan depan pelaku pasar menantikan data Inflasi AS yang diperkirakan turun tipis dan dari dalam negeri keputusan suku bunga Indonesia, yang diperkirakan ditahan atau tidak berubah,” jelas Hans.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Hans Kwee memperkirakan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan level support di 9.000 hingga 8.715, serta level resistance di 9.100 sampai 9.199.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Kautsar Primadi Nurahmad, melaporkan sejumlah pencapaian signifikan. Selama periode 12-15 Januari 2026, BEI mencatat satu obligasi baru. Pada Rabu (14/1), Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap I Tahun 2025 senilai Rp 1,5 triliun, yang diterbitkan oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk, resmi dicatatkan. Obligasi ini memperoleh peringkat idAA- (double A minus) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sebagai wali amanatnya.

Secara kumulatif, sepanjang tahun 2026 hingga saat ini, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat mencapai tujuh emisi dari enam emiten, dengan nilai Rp 218,90 triliun. Secara keseluruhan, BEI telah mencatatkan 665 emisi obligasi dan sukuk dengan nilai outstanding mencapai Rp 542,85 triliun dan USD 134,01 juta dari 137 emiten. Ditambah lagi, terdapat 190 seri Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 6.484,29 triliun dan USD 352,10 juta, serta enam emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 3,99 triliun.

Pekan lalu juga diwarnai dengan rekor baru. “Pada Kamis (15/1), IHSG dan kapitalisasi pasar bursa kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). IHSG mencapai level 9.075,406, sementara kapitalisasi pasar menembus Rp 16.512 triliun,” papar Kautsar.

Data perdagangan sepekan di BEI menunjukkan dominasi indikator positif. Rata-rata nilai transaksi harian melesat 3,87 persen menjadi Rp 32,68 triliun, naik dari Rp 31,46 triliun pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI juga menguat 1,29 persen, mencapai Rp 16.512 triliun dari Rp 16.301 triliun pada pekan sebelumnya. “Pergerakan IHSG turut mengalami peningkatan pada pekan ini sebesar 1,55 persen dan ditutup pada level 9.075,406 dari posisi 8.936,754 pada pekan lalu,” tambah Kautsar.

Meski demikian, terdapat sedikit penurunan pada beberapa indikator lain. Rata-rata volume transaksi harian bursa tercatat turun 2,68 persen menjadi 60,13 miliar lembar saham dari 61,79 miliar lembar saham di pekan sebelumnya. Frekuensi transaksi harian juga menurun 3,24 persen menjadi 3,86 juta kali transaksi dari 3,99 juta kali transaksi. Namun, investor asing tetap membukukan nilai beli bersih yang signifikan, mencapai Rp 947,45 miliar pada hari Kamis (15/1) dan secara kumulatif sepanjang tahun 2026 mencatatkan beli bersih sebesar Rp 7,30 triliun.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi penguatan di awal 2026, meskipun bergerak dalam konsolidasi, dipengaruhi sentimen global dan domestik. Pujian Trump meredakan spekulasi Ketua The Fed, namun data tenaga kerja AS yang kuat menunda pemangkasan suku bunga hingga Juni. Dari dalam negeri, prospek defisit fiskal menekan rupiah, sehingga Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan. Pengamat pasar Hans Kwee memprediksi IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support 9.000-8.715 dan resistance 9.100-9.199.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat beberapa pencapaian signifikan, termasuk pencatatan obligasi baru senilai Rp 1,5 triliun. Pada 15 Januari, IHSG dan kapitalisasi pasar bursa mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) masing-masing pada level 9.075,406 dan Rp 16.512 triliun. Data perdagangan sepekan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai transaksi harian sebesar 3,87% dan penguatan kapitalisasi pasar 1,29%. Meskipun volume dan frekuensi transaksi harian menurun, investor asing tetap membukukan nilai beli bersih signifikan mencapai Rp 7,30 triliun secara kumulatif tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *