JAKARTA, KONTAN.CO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (20/2/2026) dengan pelemahan tipis sebesar 0,02% ke level 8.271,76. Kendati masih dipengaruhi dinamika global, sejumlah sentimen dinilai mulai memberikan ruang stabilisasi bagi pasar saham domestik.
Hans Kwee, Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, berpendapat bahwa sentimen eksternal masih menjadi penggerak utama pasar. Menurutnya, keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump menjadi katalis positif bagi para investor.
“Keputusan Mahkamah Agung AS yang menilai kebijakan tarif besar-besaran melanggar hukum federal merupakan sentimen positif bagi pasar. Langkah penggunaan tarif global 10% selama 150 hari juga relatif tidak terlalu tinggi, sehingga tekanan ke pasar tidak sebesar yang dikhawatirkan,” jelasnya.
Drama Tarif Trump Berlanjut! Putusan SCOTUS Jadi Katalis Baru Penguatan IHSG
Dari sisi ekonomi AS, Hans Kwee melihat adanya kombinasi data yang masih beragam. “Data PDB AS melemah, tetapi inflasi PCE masih tinggi. Kondisi ini membuat probabilitas pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan Juni menurun, meskipun pelaku pasar masih berharap ada dua kali pemangkasan bunga tahun ini,” paparnya.
Lebih lanjut, Hans Kwee menambahkan bahwa volatilitas pasar global juga masih tinggi akibat kekhawatiran investor terhadap saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Rotasi dan ketidakpastian di sektor teknologi global membuat pergerakan pasar saham menjadi lebih sensitif terhadap sentimen eksternal.
Di tengah kondisi yang penuh tantangan ini, obligasi negara berkembang justru dinilai berada pada posisi yang menarik.
Saham Pembagi Dividen Tinggi Jadi Incaran, Cermati Saham Rekomendasi Analis
“Obligasi emerging market saat ini berada di level yang sangat menarik secara historis dan berpotensi memasuki periode kinerja yang kuat. Ini menjadi sentimen positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Selain itu, Hans Kwee juga menyoroti pergerakan harga minyak dunia yang masih fluktuatif. Menurutnya, volatilitas harga minyak dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, terutama potensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta pembahasan pasokan oleh aliansi produsen minyak OPEC+.
Dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan dinilai sesuai dengan ekspektasi pasar dan membantu menjaga stabilitas.
Tak hanya itu, langkah proaktif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization sebagai tindak lanjut ultimatum MSCI dinilai cukup efektif meredam kekhawatiran investor terhadap potensi reklasifikasi pasar Indonesia.
“Langkah regulator cukup membantu menjaga kepercayaan pasar, sehingga risiko downgrade dari emerging market dapat diminimalkan,” imbuhnya.
IHSG Diproyeksi Menguat pada Perdagangan Senin (23/2), Cek Saham Rekomendasi Analis
Secara teknikal, Hans Kwee memproyeksikan bahwa IHSG masih berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi menguat pada awal pekan.
“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan area support di kisaran 8.170 hingga 7.861 dan resistance pada level 8.251 sampai 8.596,” pungkasnya.
Ringkasan
IHSG ditutup melemah tipis pada hari Jumat, namun diprediksi berpeluang konsolidasi menguat di awal pekan. Sentimen eksternal, seperti keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif Trump dan data ekonomi AS yang beragam, masih menjadi penggerak utama pasar. Volatilitas pasar global juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap saham teknologi berbasis AI.
Obligasi emerging market dinilai menarik dan berpotensi memberikan kinerja yang kuat. Selain itu, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan dan langkah proaktif OJK membantu menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Secara teknikal, IHSG diproyeksikan memiliki support di kisaran 8.170-7.861 dan resistance di level 8.251-8.596.