
Shoesmart.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali tahun 2026 dengan performa yang luar biasa, berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).
Pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026, IHSG melesat signifikan sebesar 111,06 poin atau setara 1,27%, menutup sesi di level 8.859,19. Momentum penguatan ini turut ditopang oleh aktivitas beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp 38,87 miliar di seluruh pasar, menandakan kepercayaan global terhadap pasar modal Indonesia.
Fenomena serupa juga terlihat di bursa regional, menunjukkan optimisme yang lebih luas. Indeks bursa saham Jepang, Nikkei225, ditutup menguat impresif 2,97%, sementara Shanghai Composite Index juga membukukan kenaikan 1,38%.
Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, laju penguatan IHSG dan bursa regional ini didorong oleh geliat optimisme pasar terhadap prospek perekonomian Asia. Meskipun demikian, investor tetap mencermati dengan saksama dampak dari aksi militer Amerika Serikat di Venezuela, sembari menantikan rilis data ekonomi penting dari AS yang dijadwalkan pekan ini.
Di ranah domestik, data inflasi Indonesia pada Desember menunjukkan aktivitas yang signifikan. Inflasi utama mencapai puncaknya dalam 20 bulan terakhir di level 2,95%, dan inflasi inti juga menembus level tertinggi bulanan. Kendati demikian, kedua angka inflasi ini masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%–3,5%, sehingga membatasi urgensi untuk pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Meski Lesu, Saham Big Caps LQ45 Masih Punya Peluang Bangkit di 2026
Senada, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menambahkan bahwa serangan AS terhadap Venezuela, meski tidak berdampak signifikan langsung pada pasar modal, justru memicu kenaikan harga mayoritas komoditas logam. Valdy menyoroti bahwa penguatan IHSG secara spesifik ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas, dengan indeks sektor bahan baku memimpin kenaikan sektoral sebesar 2,62% sepanjang perdagangan.
Namun, di tengah euforia pasar saham, sentimen tersebut justru memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Pada hari yang sama, rupiah di pasar spot terpantau melemah Rp 15 atau 0,09%, ditutup pada level Rp 16.740 per dolar Amerika Serikat.
Secara analisis teknikal, Valdy menjelaskan bahwa indikator MACD telah membentuk Golden Cross, didukung oleh penguatan Stochastic RSI di area pivot, serta kenaikan volume beli. Dengan demikian, Valdy memprediksi bahwa IHSG berpeluang besar untuk melanjutkan penguatannya menuju level 8.000. Ia memproyeksikan IHSG akan menguji level resistance di 8.900 dan level support di 8.700.
Melengkapi pandangan tersebut, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati posisi IHSG yang diperkirakan sedang berada dalam bagian dari wave (v) dari wave [iii]. Hal ini mengindikasikan bahwa IHSG masih memiliki potensi untuk bergerak menguat ke rentang area 8.852–8.905. Untuk perdagangan selanjutnya, IHSG diproyeksikan akan menguji level support di 8.705 dan 8.584, dengan level resistance di 8.822 dan 8.870.
Dalam menghadapi perdagangan Selasa, 6 Januari 2026, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham-saham ENRG, PSAB, dan WIFI. Selain itu, speculative buy juga disarankan untuk saham TPIA.
Cermati Rekomendasi Teknikal Saham TPIA, AMMN, AMRT untuk Selasa (6/1)
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali tahun 2026 dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, ditutup di level 8.859,19 pada 5 Januari setelah melesat 1,27%. Kenaikan signifikan ini didukung oleh aksi beli bersih investor asing senilai Rp 38,87 miliar serta optimisme pasar terhadap prospek perekonomian Asia, yang juga tercermin dari penguatan bursa regional. Meskipun konflik AS-Venezuela tidak berdampak langsung signifikan pada pasar modal, ia memicu kenaikan harga komoditas logam, sehingga penguatan IHSG banyak ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas.
Di ranah domestik, inflasi Indonesia pada Desember mencapai puncaknya dalam 20 bulan terakhir di 2,95%, namun masih berada dalam rentang target Bank Indonesia. Di tengah euforia pasar saham, sentimen tersebut justru menekan nilai tukar rupiah yang melemah ke Rp 16.740 per dolar AS. Secara analisis teknikal, IHSG diproyeksikan memiliki potensi besar untuk melanjutkan penguatannya, dengan target resistance di kisaran 8.900.