Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026. Momentum penguatan ini berhasil membawa IHSG naik 11,20 poin atau 0,13% dan ditutup kokoh di level 8.944,81 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Aktivitas perdagangan saham di BEI pada hari itu terbilang masif, dengan total volume mencapai 70,23 miliar saham dan nilai transaksi fantastis sebesar Rp 36,67 triliun. Meskipun demikian, dinamika pasar cukup beragam, tercatat ada 344 saham yang berhasil menguat, 362 saham melemah, dan 104 saham lainnya bergerak stagnan.
Menurut Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, pergerakan IHSG pada hari tersebut menunjukkan ketahanan meskipun diwarnai volatilitas. Penguatan pasar sebagian besar didorong oleh kinerja impresif sektor Basic Material, yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas global seperti timah dan nikel. Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mencatat bahwa sektor industri menjadi penyumbang penguatan terbesar, kontras dengan sektor transportasi yang mengalami koreksi paling signifikan.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahannya. Rupiah terdepresiasi ke level Rp16.780 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot, selaras dengan tren pelemahan mayoritas mata uang di Asia. Alrich menjelaskan bahwa depresiasi ini dipicu oleh meningkatnya risiko ketidakpastian geopolitik global, terutama setelah ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland.
Untuk perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, Herditya memproyeksikan IHSG berpotensi terkoreksi. Level support diperkirakan berada di 8.905, sementara resistance di 8.963. Sentimen yang patut dicermati adalah pergerakan harga komoditas global dan data pekerjaan dari AS. Dari perspektif teknikal, Alrich menyoroti indikator histogram positif MACD yang terus menguat, namun momentum beli mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Selain itu, indikator Stochastic RSI berada di area overbought, mengindikasikan potensi terjadinya aksi profit taking oleh investor, terutama jika ketegangan geopolitik global kembali memanas.
Dari dalam negeri, sentimen positif diharapkan datang dari kebijakan pemerintah untuk memangkas target produksi mineral dan batu bara yang tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk mengendalikan keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar, dengan harapan dapat memulihkan harga mineral dan batu bara yang sempat tertekan akibat kelebihan pasokan pada tahun sebelumnya. Kebijakan ini diproyeksikan akan memberikan dampak positif terhadap saham-saham terkait.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dalam kurun waktu satu tahun, serta rencana untuk merealisasikan swasembada komoditas pangan lainnya secara berturut-turut setiap tahun. Ini sejalan dengan program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan. Investor juga akan menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia untuk bulan Desember 2025 pada esok hari.
Sentimen global turut mewarnai prospek pasar. Dari Jepang, data kepercayaan konsumen bulan Desember diperkirakan akan membaik ke level 38.1 dari 37.5 pada November 2025. Sementara itu, Euro Area akan merilis sejumlah data ekonomi penting, meliputi sentimen ekonomi, tingkat pengangguran, dan kepercayaan konsumen.
Mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Alrich memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam area support 8.850-8.900 dan resistance 8.970-9.000 pada perdagangan esok hari. Herditya menyarankan investor untuk mencermati saham AUTO dengan target harga Rp 2.800 – Rp 2.860 per saham, JSMR Rp 3.590 – Rp 3.640 per saham, dan WIIM Rp 1.815 – Rp 1.890 per saham. Senada, Alrich merekomendasikan saham AADI, ADRO, JSMR, BUKA, dan PGEO untuk dicermati pada perdagangan berikutnya.
Ringkasan
Pada Rabu, 7 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, ditutup naik 0,13% di level 8.944,81 dengan total transaksi Rp 36,67 triliun. Penguatan ini sebagian besar didorong oleh sektor Basic Material dan industri, meskipun dinamika pasar beragam. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah ke Rp16.780 per dolar AS akibat meningkatnya risiko ketidakpastian geopolitik global.
Untuk perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, IHSG diproyeksikan berpotensi terkoreksi karena indikator teknikal menunjukkan tanda-tanda pelemahan dan aksi profit taking. Sentimen positif datang dari kebijakan pemangkasan target produksi mineral/batu bara dan keberhasilan swasembada beras domestik. Investor juga mencermati data pekerjaan AS, kepercayaan konsumen Jepang, serta data ekonomi Euro Area, dengan rekomendasi saham seperti AUTO, JSMR, dan ADRO.