Shoesmart.co.id JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami tekanan atau bearish pada perdagangan pekan depan. Sentimen global yang masih kurang kondusif menjadi faktor utama yang membebani pergerakan indeks.
Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management, memproyeksikan rentang pergerakan IHSG pada pekan mendatang berada di kisaran 6.700 hingga 7.000. Secara umum, ia menilai bahwa IHSG saat ini berada dalam kondisi volatilitas tinggi dengan kecenderungan sideways-bearish.
“Namun, IHSG masih berpotensi mengalami rebound terbatas dalam jangka pendek,” ujar Edwin, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga: IHSG April Dipengaruhi Rebalancing Portofolio dan Musim Dividen
Menurut Edwin, sejumlah sentimen global masih akan memberikan tekanan pada pasar saham pekan depan. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan arus dana asing yang cenderung keluar (outflow) menjadi perhatian utama.
Selain itu, lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan Fitch yang menurunkan prospek (outlook) Indonesia menjadi negatif, turut memperburuk sentimen. Hal ini meningkatkan persepsi risiko di mata investor asing.
Baca Juga: Cek Saham Jagoan MNC Sekuritas saat IHSG Lesu
Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah keputusan dari MSCI. Edwin menyebutkan bahwa pasar saat ini tengah menanti pengumuman penting dari MSCI, yang dapat menjadi salah satu katalis signifikan bagi IHSG dalam waktu dekat.
Edwin menjelaskan bahwa reformasi free float oleh regulator, serta potensi peningkatan pasokan saham di pasar, berpotensi menekan harga saham dalam jangka pendek karena peningkatan suplai. Namun, ia menambahkan bahwa dalam jangka menengah, hal ini akan berdampak positif karena dapat meningkatkan kualitas pasar.
Baca Juga: Rapor Merah IHSG, Pasar Menanti Tuah Data PMI Manufaktur hingga Inflasi
Lebih lanjut, Edwin mencermati bahwa laporan keuangan emiten memang memegang peranan penting bagi IHSG, namun dampaknya lebih terasa secara sektoral daripada secara keseluruhan terhadap indeks.
Dengan kinerja emiten yang bervariasi, terdapat emiten yang mencatatkan pertumbuhan solid, sementara yang lain mengalami tekanan biaya. Kondisi ini menyebabkan tidak terjadi pertumbuhan laba yang merata (broad-based earnings growth), sehingga IHSG tidak mendapatkan dorongan kuat secara agregat.
Dengan kondisi laporan kinerja seperti ini, pasar dalam jangka pendek akan lebih fokus pada emiten yang memberikan kejutan positif (earnings surprise), dibandingkan hanya melihat pertumbuhan tahunan. Akibatnya, saham dengan kinerja baik berpotensi mengalami kenaikan harga yang signifikan, sementara saham dengan kinerja di bawah ekspektasi dapat terkoreksi tajam.
Meskipun demikian, dengan sentimen global yang masih mendominasi, Edwin melihat bahwa dampak kinerja emiten terhadap IHSG cenderung terbatas.
“Saat ini, IHSG diperdagangkan di bawah rata-rata historis P/E, sehingga secara valuasi masih relatif menarik dan membuka ruang untuk re-rating,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa data-data ekonomi di awal bulan dapat menjadi penggerak pasar. Jika data ekonomi menunjukkan hasil yang positif, hal ini akan meningkatkan kepercayaan investor, memicu rebound jangka pendek pada IHSG, dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Sebaliknya, jika data ekonomi negatif, sentimen risk-off akan menguat, potensi foreign outflow meningkat, dan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level 6.700.
“Untuk pekan depan, pergerakan IHSG akan lebih dipengaruhi oleh gejolak geopolitik, sentimen makro, dan data ekonomi jangka pendek,” pungkas Edwin.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, dengan menggunakan Skenario Bull, prospek IHSG masih cukup positif dengan target optimistis di kisaran 8.200–8.700 seiring dengan stabilitas ekonomi domestik.
Ringkasan
IHSG diperkirakan akan mengalami tekanan bearish pada pekan depan akibat sentimen global yang kurang kondusif. Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 6.700 hingga 7.000, dengan volatilitas tinggi dan kecenderungan sideways-bearish. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan outflow dana asing menjadi perhatian utama, ditambah dengan penurunan prospek Indonesia oleh lembaga pemeringkat global.
Pasar juga menanti pengumuman penting dari MSCI yang dapat mempengaruhi IHSG. Meskipun laporan keuangan emiten penting, dampaknya lebih terasa secara sektoral. Data ekonomi di awal bulan akan menjadi penggerak pasar, dengan hasil positif memicu rebound jangka pendek dan mengurangi tekanan pada Rupiah, sementara data negatif dapat memperlemah IHSG menuju level 6.700. Dalam jangka menengah hingga panjang, prospek IHSG masih positif dengan target optimistis di kisaran 8.200–8.700 seiring stabilitas ekonomi domestik.