JAKARTA, Shoesmart.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami fase konsolidasi sehat pada kuartal I-2026. Proyeksi ini muncul di tengah tekanan eksternal dan dinamika global yang masih bergejolak. Meski begitu, ketahanan ekonomi domestik dipandang sebagai fondasi utama yang menopang performa pasar saham Indonesia.
Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, mengungkapkan bahwa tekanan global seperti kebijakan tarif Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik, turut meningkatkan indeks risiko global. Namun, ia menekankan bahwa IHSG masih memiliki daya tahan berkat faktor-faktor internal yang kuat.
“Saya melihat kuartal pertama ini sebagai periode konsolidasi yang sehat. Sektor perbankan mungkin akan mengalami normalisasi margin dalam jangka pendek, namun pergeseran ke sektor konsumer dan telekomunikasi menjelang Ramadan berpotensi mempertahankan IHSG di zona positif,” jelas Wafi kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Akselerasi belanja pemerintah di awal tahun diyakini menjadi kunci penopang likuiditas pasar. Program-program strategis pemerintah, termasuk penguatan ketahanan pangan dan belanja sosial, diprediksi akan memberikan dampak langsung terhadap konsumsi masyarakat.
“Belanja fiskal di awal tahun ini menjadi game changer untuk likuiditas domestik. Dampaknya tidak hanya terasa pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga memperkuat fundamental emiten ritel dan perbankan melalui perbaikan kualitas aset,” paparnya.
Baca Juga: IHSG Melesat 1,19% ke 8.310, Top Gainers LQ45: MBMA, MEDC dan EMTK, Rabu (18/2)
Dari sisi aliran dana asing, Wafi memperkirakan potensi tekanan outflow dalam jangka pendek masih akan ada seiring dengan penguatan indeks dolar AS dan penyesuaian suku bunga global. Namun, dalam perspektif jangka menengah, Indonesia tetap dinilai menarik dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
“Setelah transmisi penurunan BI rate mulai terasa dan nilai tukar rupiah stabil, investor asing berpeluang untuk kembali masuk, terutama ke saham-saham blue chip yang valuasinya masih relatif diskon,” ujarnya.
Mengenai target IHSG di level 10.000 yang semakin sering dibicarakan oleh para pelaku pasar, Wafi menilai bahwa target tersebut tergolong ambisius, namun tetap realistis dalam jangka panjang, asalkan sejumlah asumsi dapat terpenuhi.
Baca Juga: IHSG Naik 0,89% ke 8.285 di Sesi I Rabu (18/2), Saham MBMA, EMTK, SCMA Top Gainers
Beberapa asumsi tersebut antara lain, pertumbuhan laba sektor perbankan yang kembali mencatatkan angka dua digit, stabilitas politik domestik yang terjaga sehingga penyerapan belanja infrastruktur dapat berjalan optimal, serta penurunan suku bunga global yang berlangsung lebih agresif dari ekspektasi saat ini.
Dengan proyeksi yang lebih moderat, Wafi memperkirakan IHSG berpotensi mencapai level 9.200 pada akhir tahun 2026. Ia menyarankan agar investor tetap selektif dalam menentukan strategi investasi.
“Fokus pada emiten dengan basis dana murah atau CASA yang kuat untuk memitigasi risiko margin, serta saham-saham yang menjadi penerima manfaat langsung dari belanja fiskal pemerintah,” imbuhnya.
Wafi juga merekomendasikan strategi akumulasi bertahap pada saham perbankan Himbara ketika terjadi koreksi teknikal, mengingat fundamental sektor tersebut dinilai semakin kokoh pasca restrukturisasi akibat pandemi.
Secara keseluruhan, IHSG masih memiliki potensi penguatan sepanjang tahun ini, meskipun pergerakannya diperkirakan akan bertahap, mengikuti dinamika global dan stabilitas kebijakan domestik.
Ringkasan
IHSG diprediksi akan mengalami konsolidasi sehat pada kuartal I-2026 di tengah tekanan global, namun ditopang oleh ketahanan ekonomi domestik. Akselerasi belanja pemerintah di awal tahun, terutama pada program ketahanan pangan dan belanja sosial, menjadi kunci penopang likuiditas pasar dan konsumsi masyarakat.
Meskipun potensi outflow dana asing masih ada, Indonesia dinilai tetap menarik dalam jangka menengah setelah transmisi penurunan BI rate terasa dan rupiah stabil. Analis memproyeksikan IHSG berpotensi mencapai level 9.200 pada akhir tahun 2026, dengan fokus investasi pada emiten dengan basis dana murah dan penerima manfaat belanja fiskal pemerintah.