IHSG Anjlok! OJK Waspadai Volatilitas Pasar 2026

Shoesmart.co.id – JAKARTA — Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang cukup tinggi dengan volatilitas yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam, hampir mencapai 17 persen hingga 1 April 2026.

“Per 1 April 2026, IHSG berada pada level 7.184,44, yang berarti telah terkoreksi sebesar 16,91 persen secara year to date (ytd),” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam konferensi pers mengenai capaian reformasi pasar modal Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Pelemahan kinerja IHSG ini dipicu oleh eskalasi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah, serta sentimen domestik terkait rilis pembaruan pemeringkatan internasional terhadap outlook pasar modal Indonesia. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini memberikan tekanan pada pergerakan indeks.

Meskipun demikian, Hasan menekankan bahwa koreksi ini bukan hanya fenomena yang terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami oleh sebagian besar bursa saham di tingkat regional maupun global. “Kondisi ini mencerminkan pengaruh dinamika eksternal yang lebih dominan dibandingkan respons terhadap fundamental ekonomi domestik semata,” tambahnya.

Menyikapi dinamika pasar yang terjadi, OJK bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan self regulatory organization (SRO) terus melakukan pemantauan ketat dari waktu ke waktu. Tujuannya adalah untuk mengukur dan memahami reaksi para investor terhadap perkembangan yang terjadi.

“Sejauh ini, kami melihat bahwa resiliensi atau daya tahan pasar domestik masih terjaga dengan baik. Aktivitas transaksi saham, misalnya, tetap menunjukkan angka yang solid dan tinggi, dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp 20,66 triliun selama bulan Maret 2026,” ungkap Hasan.

Likuiditas di pasar juga terpantau stabil, dengan rentang spread antara bid (harga beli tertinggi) dan ask (harga jual terendah) berada pada angka yang relatif baik, yaitu 1,55 kali. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih berfungsi dengan efisien.

Di sektor reksa dana, di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, Nilai Aktiva Bersih (NAB) masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. NAB reksa dana mencapai Rp 655,71 triliun, meningkat sebesar 3,02 persen secara year to date. Ini menandakan kepercayaan investor yang masih terjaga pada produk investasi ini.

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa pasar modal tetap menjalankan fungsinya sebagai sumber pembiayaan bagi korporasi. Hingga akhir Maret 2026, total pengumpulan dana korporasi melalui pasar modal mencapai Rp 51,96 triliun, menunjukkan vitalnya peran pasar modal dalam mendukung aktivitas bisnis.

IHSG Melemah di Tengah Wait and See Pidato Trump

Pada perdagangan Kamis pagi, IHSG BEI bergerak melemah. Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menantikan pidato nasional Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perkembangan konflik antara AS dan Iran pada Kamis (2/4) waktu AS.

Saat pembukaan, IHSG melemah 31,33 poin atau 0,44 persen ke posisi 7.153,11. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 mengalami penurunan sebesar 1,32 poin atau 0,18 persen ke posisi 725,47.

“Fokus pasar saat ini tertuju pada pidato resmi Trump, yang berpotensi menjadi katalis untuk menentukan arah pasar selanjutnya,” kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Dari sisi sentimen global, Liza menjelaskan bahwa terdapat pergeseran dari fase eskalasi menuju deeskalasi. AS menyatakan bahwa tujuan utama terhadap Iran telah tercapai dan membuka kemungkinan untuk keluar dari konflik dalam 2–3 minggu tanpa perlu kesepakatan formal.

Selain itu, terdapat laporan yang menyebutkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terbuka untuk mengakhiri konflik dengan syarat-syarat tertentu, seperti pengakuan hak Iran, pembayaran kompensasi, serta jaminan internasional terhadap agresi di masa depan.

Namun, ketidakpastian masih tinggi karena arah kebijakan AS dinilai masih inkonsisten, terutama terkait status Selat Hormuz, opsi militer lanjutan, hingga kemungkinan keterlibatan sekutu. Harga minyak mentah saat ini masih bertahan di atas level 100 dolar AS per barel di tengah optimisme deeskalasi.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur suplai sekitar 20 persen minyak global, saat ini masih tertutup dengan lalu lintas tanker yang sangat terbatas. Situasi ini menambah kompleksitas pada kondisi pasar global.

Dari data ekonomi dalam negeri, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar 1,28 miliar dolar AS. Namun, pertumbuhan ekspor melambat menjadi 1,01 persen (yoy), sementara impor masih tumbuh tinggi sebesar 10,85 persen (yoy), mencerminkan permintaan domestik yang tetap solid meskipun momentum eksternal melemah.

Sementara itu, inflasi pada Maret 2026 mengalami penurunan signifikan ke level 3,48 persen (yoy) dan 0,41 persen (mtm), keduanya di bawah ekspektasi. Inflasi inti juga melandai ke 2,52 persen (yoy). Penurunan inflasi ini terutama didorong oleh normalisasi harga pangan, pakaian, serta base effect pada perumahan dan utilitas, meskipun terdapat kenaikan terbatas pada transportasi dan sektor jasa.

Pada perdagangan Rabu (1/4) kemarin, bursa saham Eropa menunjukkan penguatan yang kompak. Euro Stoxx 50 menguat 3,05 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,85 persen, indeks DAX Jerman menguat 2,73 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 2,10 persen.

Bursa AS, Wall Street, juga kompak menguat pada perdagangan Rabu (1/4). Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,5 persen ke 46.565,86, indeks S&P 500 menguat 0,7 persen ke 6.573,89, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,2 persen ke 21.840,95.

Namun, berbeda dengan Eropa dan AS, bursa saham regional Asia pagi ini cenderung melemah. Indeks Nikkei melemah 991,68 poin atau 1,85 persen ke 52.748,00, indeks Shanghai melemah 9,61 poin atau 0,24 persen ke 3.938,94, indeks Hang Seng melemah 257,53 poin atau 1,01 persen ke 25.036,50, dan indeks Strait Times melemah 14,32 poin atau 0,29 persen ke 4.961,51.

Ringkasan

IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 16,91% hingga 1 April 2026, mencapai level 7.184,44. Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan sentimen domestik terkait pemeringkatan pasar modal Indonesia. Meskipun demikian, OJK menekankan bahwa koreksi ini juga dialami oleh bursa saham lain secara global dan resiliensi pasar domestik masih terjaga dengan baik.

OJK dan SRO terus memantau pasar, dengan aktivitas transaksi saham yang solid dan likuiditas yang stabil. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga menunjukkan pertumbuhan positif. IHSG pada perdagangan Kamis pagi melemah dan pelaku pasar bersikap wait and see menantikan pidato Presiden AS terkait konflik AS-Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *