IHSG Anjlok! Apa yang Terjadi dan Bagaimana Dampaknya?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan ketiga Januari 2026 dengan kembali terperosok ke zona merah. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026), IHSG tercatat anjlok 41 poin atau 0,46% menjadi 8.951,01, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun melalui RTI. Pelemahan ini memperpanjang koreksi mingguan indeks, yang secara akumulatif turun 1,37%.

Kepala Riset Surya Fajar Sekuritas, Raphon Prima, menjelaskan bahwa pergerakan IHSG sepanjang pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen negatif, baik dari ranah domestik maupun global. Beberapa faktor utama yang menekan kinerja indeks mencakup pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya tensi geopolitik dunia, serta kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

IHSG Anjlok ke Bawah 9.000, Net Sell Asing Mencapai Rp 1,33 Triliun Hari Ini (22/1)

Melihat kondisi pasar terkini, Raphon Prima memproyeksikan IHSG akan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Senin (26/1/2026), dengan rentang pergerakan antara 8.800-9.000. Menurutnya, sentimen kekhawatiran pasar terhadap tekanan rupiah akan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan IHSG selanjutnya.

Senada, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa koreksi IHSG juga didorong oleh aksi profit taking pada saham-saham konglomerasi. Selain itu, data ekonomi makro seperti pelemahan rupiah dan keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan turut menjadi sentimen penggerak IHSG. Indy memproyeksikan level IHSG akan bergerak dalam rentang yang lebih luas, yakni 8.837-9.174.

IHSG Anjlok 1,24% ke 9.021,5 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: UNTR, ASII, CTRA

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, turut mengamini bahwa pelemahan IHSG sepanjang sepekan terakhir terjadi seiring dengan meningkatnya tekanan jual di pasar. Ia juga mengidentifikasi sentimen eksternal dan domestik sebagai pendorong utama pergerakan indeks.

Dari kancah global, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Greenland, bersama ancaman pengenaan tarif impor terhadap negara-negara Eropa yang menentang kebijakan tersebut, sempat menjadi faktor penekan. Namun, Herditya menilai sentimen geopolitik ini kini sudah mulai mereda. Dalam kondisi ketidakpastian semacam ini, investor cenderung memilih sikap wait and see dan mengalihkan dana ke aset berisiko rendah seperti emas, yang pada gilirannya turut mendorong harga emas dunia mencetak rekor tertinggi baru (all time high).

IHSG Anjlok: Waspada, Investor Asing Catat Net Sell Rp1,9 Triliun!

Di samping itu, sentimen negatif dari dalam negeri juga berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan pada rupiah ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal Indonesia yang berpotensi mendekati ambang batas 3%. Tidak hanya itu, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) juga masih menjadi sorotan investor, khususnya terkait arah pelonggaran kebijakan di masa depan serta spekulasi mengenai pergantian Gubernur The Fed.

Faktor penting lainnya yang membebani IHSG adalah koreksi pada saham-saham konglomerasi. Koreksi ini disinyalir dipicu oleh antisipasi pasar terhadap potensi perubahan metodologi MSCI. Kekhawatiran muncul bahwa perubahan tersebut dapat memicu arus keluar dana asing atau outflow dari pasar saham domestik, menambah tekanan pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 0,46% menjadi 8.951,01 pada penutupan 23 Januari 2026, mencatat koreksi mingguan 1,37%. Pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi sentimen negatif domestik dan global. Faktor utamanya meliputi pelemahan nilai tukar rupiah, kekhawatiran defisit APBN, serta tekanan jual asing yang mencapai triliunan rupiah.

Koreksi IHSG juga dipicu oleh aksi *profit taking* pada saham konglomerasi dan antisipasi perubahan metodologi MSCI yang berpotensi memicu *outflow* dana asing. Selain itu, ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter The Federal Reserve turut menjadi perhatian pasar. Analis memproyeksikan IHSG akan melanjutkan pelemahan, mendorong investor untuk bersikap *wait and see*.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *