SINGAPURA, Shoesmart.co.id – Pasar saham Indonesia mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini, melanjutkan tren negatif dari pekan sebelumnya. Pemicunya adalah peringatan keras dari MSCI mengenai transparansi pasar modal Indonesia, yang memicu aksi jual besar-besaran dan kerugian hingga mencapai US$ 80 miliar. Selain itu, pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi di sektor keuangan juga memperkeruh suasana.
Pada hari Senin (2 Februari 2026) pukul 09.30 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok lebih dari 4% di sesi pembukaan. Padahal, pekan sebelumnya IHSG sudah mencatatkan penurunan tajam hampir 7%, yang merupakan penurunan mingguan terdalam dalam setahun terakhir. Sempat ada harapan setelah pemerintah meluncurkan serangkaian langkah pada hari Jumat (30 Januari 2026) untuk meredakan kekhawatiran MSCI, namun upaya ini belum sepenuhnya berhasil memulihkan kepercayaan investor.
Gelombang pengunduran diri pejabat tinggi menjadi sorotan utama. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan pengunduran diri kepala OJK beserta tiga pejabat senior lainnya, termasuk wakilnya dan kepala pasar modal, pada Jumat (30 Januari 2026) malam. Sebelumnya, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, juga telah mengundurkan diri pada hari yang sama.
Rentetan pengunduran diri ini merupakan buntut dari kekhawatiran yang diungkapkan MSCI pada hari Rabu. MSCI menyoroti masalah kepemilikan dan transparansi perdagangan saham di Indonesia. Mereka bahkan memperingatkan bahwa status pasar saham Indonesia berpotensi diturunkan menjadi “pasar perbatasan” jika masalah-masalah ini tidak segera diselesaikan sebelum bulan Mei.
Update, IHSG Anjlok Lebih dari 4%, Saham-Saham Ini Turun Dalam
Jeffrosenberg Lim, kepala riset di Maybank Sekuritas, menilai bahwa pasar mungkin bereaksi negatif terhadap pengunduran diri tersebut karena menciptakan “ketidakpastian dan pertanyaan.”
“Ini bisa menjadi katalis negatif jangka pendek di awal perdagangan. Kecepatan pemulihan optimisme pasar akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menunjuk kepemimpinan yang kredibel dan menyusun peta jalan reformasi yang jelas dan komprehensif demi pasar modal yang lebih sehat,” ujar Lim.
KEKHAWATIRAN FISKAL MENGGUNCANG INVESTOR GLOBAL
Selain masalah transparansi, kekhawatiran fiskal juga menjadi momok bagi investor global. Mereka berbondong-bondong menarik dana dari pasar saham Indonesia karena meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap berpotensi memperlebar defisit fiskal dan meningkatkan intervensi negara di pasar keuangan.
Independensi Bank Indonesia (BI) juga menjadi sorotan setelah pengangkatan keponakan Prabowo sebagai salah satu pejabat tinggi di BI pada Januari lalu. Nilai tukar rupiah pun terus tertekan, berada di dekat level terendah sepanjang masa di Rp 16.985 per dolar AS, yang sempat tercapai pada Januari. Pada Senin (2 Februari 2026) pagi, rupiah dibuka pada level Rp 16.775 per dolar AS.
Data dari bursa saham menunjukkan bahwa investor asing telah melakukan aksi jual bersih (net sell) saham senilai sekitar US$ 736 juta sejak Rabu (28 Januari 2026). Secara kumulatif, sepanjang tahun 2025, investor asing telah menarik dana sebesar US$ 1 miliar dari pasar saham Indonesia.
IHSG Melemah pada Perdagangan Senin (2/2) Pagi, MDKA, AMMN, ANTM Top Losers LQ45
Sebagai respons terhadap situasi ini, regulator keuangan Indonesia pada hari Sabtu (31 Januari 2026) menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai kepala sementara dan Hasan Fawzi sebagai kepala eksekutif untuk pasar modal. Langkah ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor dan memulihkan kepercayaan pasar.
“Kami melihat penunjukan ini sebagai langkah positif, karena kepemimpinan baru memiliki pengalaman langsung di bidang perdagangan, kliring, penyelesaian, dan kustodian – area-area kunci yang disoroti oleh MSCI. Hal ini diharapkan memungkinkan mereka untuk bergerak cepat dalam melakukan perbaikan,” tulis para ahli strategi Citi dalam sebuah catatan.
“Volatilitas jangka pendek mungkin akan terus berlanjut, tetapi pilar-pilar pendukung seharusnya membantu menstabilkan pasar. Kami percaya bahwa reformasi, ditambah dengan arus dana domestik, akan menopang sentimen pasar. Hal ini menunjukkan bahwa potensi penurunan status oleh MSCI mungkin bersifat sementara.”
Ringkasan
IHSG mengalami penurunan tajam pada 2 Februari 2026, melanjutkan tren negatif akibat peringatan MSCI mengenai transparansi pasar modal Indonesia dan pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi OJK dan BEI. Penurunan IHSG mencapai lebih dari 4% di sesi pembukaan, memperdalam penurunan mingguan sebelumnya yang sudah mencapai hampir 7%. Investor asing melakukan aksi jual bersih saham senilai ratusan juta dolar AS.
Kekhawatiran fiskal terkait kebijakan Presiden terpilih dan independensi Bank Indonesia juga memicu aksi jual. Pemerintah telah menunjuk kepala sementara dan kepala eksekutif baru untuk pasar modal sebagai respons untuk meredakan kekhawatiran investor dan memulihkan kepercayaan pasar. Para ahli menilai penunjukan ini sebagai langkah positif yang diharapkan dapat mempercepat perbaikan meskipun volatilitas jangka pendek mungkin masih berlanjut.