JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada sesi pertama perdagangan hari ini, setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara perubahan indeks terhadap pasar modal Indonesia. Keputusan ini memicu reaksi pasar yang cukup signifikan.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI menunjukkan bahwa pada pukul 11.19 WIB, IHSG merosot tajam sebesar 7,83% ke level 8.277,35. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang melanda pasar saham.
Hampir seluruh indeks sektoral mengalami penurunan, dengan sektor infrastruktur, energi, barang baku, properti dan real estate, transportasi, serta teknologi mencatatkan penurunan terdalam. Kondisi ini menggambarkan tekanan luas yang dihadapi oleh berbagai sektor ekonomi.
Volume perdagangan di BEI pagi ini mencapai 39,46 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp 27,35 triliun. Angka ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang tinggi di tengah gejolak pasar.
Sentimen MSCI Menekan IHSG, Risiko Aliran Dana Asing Diwaspadai
Dominasi saham yang mengalami penurunan sangat terasa, dengan 765 saham mencatatkan penurunan, hanya 26 saham yang naik, dan 12 saham yang stagnan. Kondisi ini menggambarkan sentimen pasar yang didominasi oleh aksi jual.
Tidak ada satu pun saham yang tergabung dalam indeks LQ45 yang berhasil mencatatkan kenaikan. Saham-saham yang mengalami penurunan terdalam (top losers) di LQ45 dipimpin oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang anjlok 15% ke harga Rp 98.600 per saham.
Selanjutnya, diikuti oleh saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang turun 14,92% ke Rp 3.820 per saham, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 14,81% ke Rp 2.300 per saham.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mengalami penurunan signifikan sebesar 14,53% ke Rp 294 per saham, serta PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang turun 13,46% ke Rp 900 per saham.
Keputusan MSCI untuk membekukan perubahan indeks ini meliputi penundaan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Langkah ini diambil untuk merespons kondisi pasar terkini.
IHSG Anjlok Usai MSCI Bekukan Perubahan Indeks, Rupiah Justru Menguat
Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk perpindahan saham dari Small Cap ke Standard. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk memitigasi risiko turnover indeks dan menjaga stabilitas investabilitas di pasar modal Indonesia. Meskipun IHSG tertekan, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan penguatan.
Ringkasan
IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 7,83% ke level 8.277,35 pada sesi pertama perdagangan setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara perubahan indeks terhadap pasar modal Indonesia. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan, dengan sektor infrastruktur, energi, dan barang baku mencatatkan penurunan terdalam. Volume perdagangan di BEI mencapai 39,46 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 27,35 triliun, menunjukkan aktivitas perdagangan yang tinggi.
Keputusan MSCI membekukan perubahan indeks meliputi penundaan kenaikan FIF dan NOS, serta tidak menambah saham baru ke dalam MSCI IMI, bertujuan memitigasi risiko turnover indeks dan menjaga stabilitas pasar. Tidak ada saham LQ45 yang mencatatkan kenaikan, dengan DSSA, EXCL, dan BRPT menjadi top losers. Meskipun IHSG anjlok, nilai tukar Rupiah justru menguat.