Shoesmart.co.id, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada perdagangan minggu depan, berpotensi menguji level psikologis 7.000. Kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya mendukung menjadi penyebabnya.
Tim riset Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik di sekitar Selat Hormuz, menyebabkan harga energi bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan pasar. Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama tiga minggu, hal ini belum cukup meredakan kekhawatiran investor. Keraguan juga muncul mengenai peluang kembalinya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat, yang berpotensi memperpanjang volatilitas harga komoditas energi.
Baca Juga: IHSG Anjlok 6,61%, Kapitalisasi Pasar Menguap Rp899 Triliun dalam Seminggu
Secara teknikal, IHSG menunjukkan sinyal pelemahan berkelanjutan. Dengan kondisi ini, IHSG diprediksi akan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan menurun. Level *support* berada di 7.000, *pivot* di 7.200, dan *resistance* di 7.300.
“Di tengah dinamika pasar ini, investor disarankan untuk mengamati dengan seksama sejumlah saham yang berpotensi aktif diperdagangkan pada pekan depan, di antaranya ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ, dan SRTG,” demikian bunyi riset tersebut, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Baca Juga: Menelisik Fundamental IHSG di Balik Koreksi, Target 7.500 Masih Terjaga
Dari sisi global, perhatian investor pada minggu depan akan tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 29 April. Bank sentral Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%–3,75%.
Selain itu, serangkaian data ekonomi penting dari AS juga akan dirilis, meliputi kepercayaan konsumen (*consumer confidence*), data sektor perumahan, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026, serta indikator inflasi seperti indeks PCE dan aktivitas manufaktur (ISM). Data-data ini akan memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ekonomi AS.
Baca Juga: Top Gainers Sepekan, Saham WBSA Pendatang Baru IPO Langsung Meroket
Di Asia, pelaku pasar akan memantau keputusan suku bunga Bank of Japan pada 28 April. Bank sentral Jepang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 0,75%, meskipun tekanan inflasi di Jepang menunjukkan peningkatan.
Sementara itu, di Eropa, data PDB kuartal I-2026, inflasi, serta tingkat pengangguran akan menjadi fokus perhatian. Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga masing-masing di level 2,15% dan 3,75%. Keputusan ini akan memberikan sinyal tentang arah kebijakan moneter di kawasan tersebut.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
IHSG diperkirakan akan menghadapi tekanan dan berpotensi menguji level 7.000 pada minggu depan akibat sentimen global dan domestik yang belum mendukung. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi global dari AS, Asia, dan Eropa menjadi perhatian utama investor. Secara teknikal, IHSG menunjukkan sinyal pelemahan berkelanjutan dengan perkiraan rentang pergerakan terbatas cenderung menurun.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan investor untuk mengamati saham-saham yang berpotensi aktif diperdagangkan, termasuk ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ, dan SRTG. Fokus investor global tertuju pada hasil pertemuan FOMC, data ekonomi AS, keputusan suku bunga Bank of Japan, serta data PDB dan inflasi dari Eropa.