Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (26 Mei 2026) dengan koreksi, tertekan oleh sentimen eksternal dan aksi ambil untung menjelang libur panjang.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG merosot 1,23% ke level 6.130,19 setelah sempat dibuka menguat. Analis menilai pelemahan ini dipicu oleh aksi profit taking dan penyesuaian (rebalancing) indeks MSCI.
Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, mengungkapkan bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah turut membebani pergerakan IHSG.
“Serangan terbaru Amerika Serikat di Iran selatan menjadi sentimen negatif bagi pasar, meskipun ada harapan terhadap proses perdamaian,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Kamis (21/5)
Secara sektoral, Alrich menjelaskan bahwa sektor industri mengalami penurunan terdalam, sementara sektor infrastruktur masih mampu mencatatkan penguatan terbatas.
“Sektor industri mencatatkan pelemahan terbesar, sedangkan sektor infrastruktur membukukan penguatan tipis,” jelasnya.
Dari sudut pandang teknikal, Alrich melihat adanya indikasi perbaikan pada IHSG, meskipun masih terbatas.
“Stochastic RSI menunjukkan potensi *reversal* ke arah *pivot* dan histogram MACD negatif mulai menyempit, sehingga IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200,” tambahnya.
Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah sebagai salah satu faktor yang membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
“Depresiasi rupiah berpotensi menekan IHSG, meskipun sifatnya jangka pendek, dengan pergerakan indeks yang cenderung fluktuatif,” ujarnya.
IHSG Berpeluang Bergerak Fluktuatif pada Jumat (22/5), Cek Saham Pilihan Analis
Nafan menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk penguatan dolar AS, dinamika geopolitik, serta periode repatriasi dividen oleh investor asing.
“Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti oleh aksi jual bersih investor asing,” katanya.
Lebih lanjut, Nafan menambahkan bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi penekan utama IHSG, mengingat bobotnya yang dominan dalam indeks.
“Namun demikian, fundamental perbankan domestik masih solid, dengan margin bunga bersih dan permodalan yang tetap kuat,” imbuhnya.
Dari sisi strategi investasi, Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dan mengedepankan manajemen risiko. “Fokus pada emiten berbasis ekspor, energi, serta saham defensif yang tidak bergantung pada bahan baku impor,” jelasnya.
IHSG Diproyeksikan Menguat di Perdagangan Senin (24/5), Ini Saham Rekomendasi Analis
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (29/5/2026) masih akan berada dalam rentang terbatas.
“IHSG diperkirakan bergerak dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286,” ujarnya.
Dengan berbagai sentimen yang ada, pergerakan IHSG pada akhir pekan ini diperkirakan masih akan cenderung volatil, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta dinamika geopolitik global.
Ringkasan
IHSG mengalami koreksi sebesar 1,23% ke level 6.130,19 pada perdagangan Selasa, dipicu aksi profit taking, rebalancing indeks MSCI, dan tensi geopolitik di Timur Tengah. Analis melihat potensi perbaikan terbatas pada IHSG dengan rentang pergerakan antara 6.000-6.200, meskipun pelemahan rupiah berpotensi menekan indeks dalam jangka pendek.
Investor disarankan selektif dan mengedepankan manajemen risiko, fokus pada emiten berbasis ekspor, energi, serta saham defensif. IHSG diperkirakan akan bergerak volatil dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286, seiring pelaku pasar mencermati nilai tukar rupiah, arus dana asing, dan geopolitik.