JAKARTA, Shoesmart.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada semester II/2026 diprediksi masih akan diwarnai volatilitas jangka pendek. Hal ini dipicu oleh proses rebalancing sejumlah indeks global, seperti MSCI dan FTSE Russell, yang berpotensi menyebabkan aliran dana asing keluar dari pasar saham Indonesia.
FTSE Russell baru-baru ini melakukan penyesuaian terhadap sejumlah saham Indonesia dalam tinjauan kuartalan periode Juni 2026. Dalam laporan terbarunya, empat saham dikeluarkan dari indeks tersebut.
Saham-saham yang dimaksud adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ), PT Hillcon Tbk. (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA). Alasan dikeluarkan saham-saham ini adalah masalah konsentrasi kepemilikan serta tidak memenuhi kriteria free float atau surveillance stocks screen.
Baca Juga: IHSG Ditutup Turun 1,23% ke 6.130, Saham INCO, ASII hingga AMRT Kompak Lesu
Ajaib Sekuritas melalui laman resminya menjelaskan bahwa penghapusan beberapa saham dari indeks FTSE Russell akan menyebabkan penurunan bobot Indonesia, yang berpotensi memicu aksi jual bersih (net sell) dari passive fund global.
Berdasarkan data dari Ajaib, kapitalisasi pasar bersih free float dari 39 saham Indonesia dalam kategori large dan mid cap di indeks emerging markets FTSE Russell sebelumnya mencapai 0,88% dari total indeks.
Baca Juga: Cek Saham Jagoan Analis Pekan Ini saat IHSG Risiko Koreksi Lanjutan
Namun, setelah DSSA dikeluarkan dari indeks, bobot Indonesia turun menjadi 0,86% dari total indeks emerging markets FTSE Russell.
“Penurunan ini berisiko memicu outflow dari investor institusi global yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan investasi atau benchmark,” tulis Ajaib dalam pernyataan resminya, dikutip Selasa (26/5/2026).
Baca Juga: Saham RI Didepak FTSE, BEI: Risiko Jangka Pendek Reformasi Pasar Modal
Ajaib memperkirakan potensi outflow dari Vanguard FTSE Emerging Market ETF dapat mencapai US$27,72 juta atau sekitar Rp487,8 miliar. Secara keseluruhan, potensi outflow dari passive fund diprediksi dapat menembus US$297 juta atau sekitar Rp5,2 triliun.
“Tekanan jual diperkirakan akan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing pada 22 Juni 2026,” ungkap Ajaib.
Di sisi lain, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpendapat bahwa volatilitas pasar saham domestik masih akan berlanjut dalam jangka pendek hingga proses penyesuaian portofolio dana pasif global selesai.
“Terkait price-in, bisa jadi belum sepenuhnya selesai karena para pelaku pasar harus melewati fase krusial hingga efektivitas rebalancing MSCI pada 29 Mei, sedangkan FTSE efektifnya pada 22 Juni,” kata Nafan saat dihubungi, dikutip Selasa (26/5/2026).
Meskipun demikian, Nafan melihat peluang rebound IHSG pada semester II/2026 tetap terbuka lebar setelah fase rebalancing berakhir. Menurutnya, ada beberapa faktor yang dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.
Pertama, meredanya tensi geopolitik global, terutama konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, diyakini dapat memperbaiki sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham emerging markets seperti Indonesia.
Selain itu, kepastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga dianggap sebagai faktor penting. Apalagi, valuasi saham-saham domestik saat ini dinilai sudah berada pada level yang cukup menarik.
Kedua, reformasi pasar modal Indonesia dinilai mulai mendapatkan respons positif dari lembaga penyedia indeks global. Hal ini tercermin dari mulai diterapkannya metode HSC BEI untuk menyaring saham-saham dengan kualitas free float dan likuiditas yang dinilai kurang memadai.
“Nanti persepsi investor global dalam jangka panjang tentu akan baik karena pasar kita akan menjadi jauh lebih kredibel, tidak mudah dimanipulasi, dan terhindar dari harga saham yang ekstrem akibat likuiditas semu,” tambahnya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
IHSG pada semester II/2026 diprediksi mengalami volatilitas jangka pendek akibat rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. FTSE Russell baru-baru ini mengeluarkan empat saham Indonesia (DSSA, DAAZ, HILL, MLIA) dari indeksnya karena masalah konsentrasi kepemilikan dan kriteria free float, yang berpotensi memicu outflow dari passive fund global.
Meskipun demikian, peluang rebound IHSG tetap terbuka lebar setelah fase rebalancing selesai. Faktor-faktor seperti meredanya tensi geopolitik, kepastian arah suku bunga The Fed, dan respons positif terhadap reformasi pasar modal Indonesia dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham. Reformasi ini diharapkan membuat pasar lebih kredibel dan terhindar dari manipulasi.