Shoesmart.co.id, JAKARTA. PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menatap tahun 2026 dengan strategi jitu untuk menjaga kinerja perusahaan di tengah fluktuasi harga nikel global. Emiten yang bergerak di sektor pertambangan mineral ini berfokus pada disiplin produksi, optimalisasi izin usaha pertambangan (IUP), dan pengembangan sumber-sumber pertumbuhan baru.
Berdiri sejak tahun 1971 dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 19 Desember 2019, IFSH memfokuskan diri pada bisnis penambangan bijih nikel dan silika, yang seluruhnya dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri.
Pusat produksi IFSH berada di wilayah timur Indonesia, sebuah kawasan yang dikenal kaya akan cadangan mineral. Aktivitas penambangan nikel IFSH tersebar di beberapa lokasi strategis, meliputi Tinanggea, Konawe Selatan, Kolaka Utara, serta Luwu Timur.
Dengan sebaran konsesi yang luas, IFSH berada dalam posisi kunci dalam rantai pasok nikel nasional. Pada tahun 2025, kebutuhan nikel Indonesia diperkirakan mencapai angka fantastis, yaitu 220 juta metrik ton.
IFSH Kucurkan Pinjaman Rp 92 Miliar kepada Anak Usaha, Ini Tujuannya
Saat ini, kontribusi produksi IFSH terhadap total produksi nikel nasional adalah sekitar 1%, setara dengan 1,3 juta metrik ton. Angka ini membuka peluang pertumbuhan yang signifikan seiring dengan terus berjalannya program hilirisasi nikel yang dicanangkan pemerintah.
Namun, industri nikel global saat ini tengah menghadapi tantangan berupa tekanan harga. Manajemen IFSH mencatat bahwa harga rata-rata nikel mengalami penurunan dari US$ 16.918 per metrik ton pada tahun 2024 menjadi US$ 15.177 per metrik ton pada tahun 2025.
Koreksi harga nikel global ini berdampak pada kinerja keuangan IFSH. Pendapatan bersih perusahaan hingga September 2025 tercatat turun 6% menjadi Rp 668,8 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tekanan yang lebih besar terasa pada sisi profitabilitas. Laba usaha IFSH mengalami penurunan tajam sebesar 45% secara tahunan, menjadi Rp 56,09 miliar per September 2025. Hal ini disebabkan oleh kenaikan beban operasional dan penyesuaian strategi penjualan yang dilakukan perusahaan.
Meskipun demikian, manajemen IFSH berpendapat bahwa pelemahan kinerja ini tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan fundamental perusahaan. Oleh karena itu, IFSH akan menyesuaikan tingkat produksi untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Direktur Utama Ifishdeco, Muhammad Ishaq, menjelaskan bahwa perencanaan produksi perusahaan akan dikaitkan secara langsung dengan pergerakan harga nikel di pasar global. Strategi ini diambil untuk memastikan keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang.
Fokus ke Segmen Midstream dan Downstream, PGN (PGAS) Siapkan Langkah Transformasi
“Kami mengaitkan produksi dengan harga nikel dan cadangan yang kami miliki, sehingga strategi penambangan menjadi lebih selaras dan berkelanjutan,” jelas Ishaq dalam paparannya beberapa waktu lalu.
Hingga kuartal III-2025, realisasi penjualan nikel IFSH mencapai 42% dari kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahunan sebesar 2,2 juta metrik ton. Realisasi ini meningkat menjadi sekitar 59% hingga akhir Desember 2025.
Selain faktor harga, Ishaq juga menyebutkan bahwa faktor cuaca dan perubahan kebijakan terkait RKAB turut memengaruhi operasional perusahaan. Sejak tahun 2025, penyusunan RKAB kembali dilakukan secara tahunan sesuai dengan regulasi terbaru.
Diversifikasi ke Perkebunan Kelapa
Memasuki tahun 2026, IFSH menargetkan pemulihan kinerja seiring dengan stabilisasi harga komoditas nikel. Target pendapatan yang dipatok adalah sekitar Rp 1 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 100 miliar.
Target ini akan ditopang oleh optimalisasi izin tambang yang dimiliki serta pengajuan RKAB nikel dan silika. Penerapan good mining practice akan diintensifkan untuk menjaga efisiensi dan margin keuntungan perusahaan.
Di tengah volatilitas harga komoditas, IFSH juga menyiapkan sumber pertumbuhan di luar sektor pertambangan. Emiten ini mulai mengembangkan bisnis perkebunan kelapa sebagai langkah diversifikasi usaha.
Langkah diversifikasi ini didukung oleh kepemilikan aset lahan yang signifikan. IFSH memiliki sekitar 900 hektare lahan tambang serta hak guna usaha (HGU) sekitar 1.500 hektare.
Dalam Sepekan, Rupiah Menguat 0,20% ke Rp 16.786 per Dolar AS
Ishaq menjelaskan bahwa IFSH melihat komoditas kelapa memiliki pasar yang relatif stabil dan defensif. Usaha ini diharapkan dapat menjadi bantalan pendapatan bagi perusahaan saat siklus harga nikel mengalami pelemahan.
Ia menambahkan bahwa pengembangan kebun kelapa bertujuan untuk mengoptimalkan aset lahan yang belum produktif. Strategi ini juga menjadi bagian dari perluasan basis bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
“Perkebunan kelapa kami kembangkan untuk memaksimalkan aset lahan yang kami miliki dan menciptakan pendapatan di luar sektor pertambangan,” kata Ishaq.
Meskipun bersifat jangka panjang, manajemen IFSH telah memetakan horizon hasil dari investasi di perkebunan kelapa ini. IFSH memperkirakan kontribusi kebun kelapa akan mulai terasa sekitar empat tahun mendatang.
Selain diversifikasi, IFSH juga membuka peluang ekspansi anorganik. Penjajakan akuisisi tambang baru telah dilakukan dan ditargetkan akan terealisasi secara bertahap pada tahun 2026.
Dengan kombinasi optimalisasi tambang dan ekspansi yang selektif, IFSH menyiapkan fondasi pertumbuhan yang kuat untuk masa depan. Emiten ini berupaya untuk menjaga kinerja perusahaan di tengah dinamika siklus harga nikel.
Suspensi Saham Dibuka
Perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) kembali dibuka setelah sempat disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) selama lebih dari dua pekan. BEI secara resmi membuka perdagangan saham IFSH mulai sesi I pada Kamis (29/1/2026).
Sebelumnya, suspensi terhadap saham IFSH dilakukan karena terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Suspensi diberlakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai sejak 14 Januari 2026 sebagai bentuk perlindungan terhadap investor.
Pada akhir perdagangan Jumat (30/1), saham IFSH berada di level Rp 1.705 per saham atau melemah 9,79% secara harian. Namun, dalam sebulan terakhir, saham IFSH telah melesat 115,82%.
Dari sisi kepemilikan, kepemilikan saham IFSH terbesar masih dipegang oleh PT Fajar Mining Resources yang menguasai 40,8% saham, disusul PT Wahana Trilintas Mining dengan 39,2%, sementara porsi publik sekitar 10%.
Ringkasan
PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi koreksi harga nikel di tahun 2026, dengan fokus pada disiplin produksi, optimalisasi IUP, dan pengembangan sumber pertumbuhan baru. Penurunan harga nikel global telah berdampak pada penurunan pendapatan dan laba usaha IFSH pada tahun 2025, meskipun perusahaan berpendapat fundamentalnya tetap kuat.
Strategi IFSH termasuk mengaitkan produksi dengan harga nikel, diversifikasi ke perkebunan kelapa untuk stabilisasi pendapatan, dan penjajakan akuisisi tambang baru. Saham IFSH kembali diperdagangkan setelah sempat disuspensi akibat peningkatan harga yang signifikan. Kepemilikan saham terbesar dipegang oleh PT Fajar Mining Resources dan PT Wahana Trilintas Mining.