Shoesmart.co.id, JAKARTA — Sektor konsumer Indonesia diproyeksikan akan tetap menunjukkan performa prospektif yang kuat hingga sepanjang tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh sinergi antara kenaikan upah minimum nasional dan implementasi kebijakan fiskal pemerintah yang bersifat ekspansif.
Kombinasi faktor-faktor pendorong tersebut lantas membuat BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan positifnya terhadap prospek sektor konsumer ini. Mereka bahkan memproyeksikan adanya pertumbuhan laba per saham (EPS) yang mencapai 8,6% secara tahunan, sebuah indikator fundamental yang menjanjikan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim, menguraikan bahwa penetapan rata-rata kenaikan upah minimum nasional sebesar 5,7% untuk tahun fiskal 2026 menjadi elemen krusial dalam menjaga stabilitas dan kekuatan daya beli rumah tangga. Meskipun angka kenaikan ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang mencapai 6,5%, penyesuaian tersebut dinilai tetap signifikan untuk memberikan dukungan inkremental terhadap total konsumsi domestik, sekaligus menjaga stabilitas keseluruhan sektor konsumer.
Lebih lanjut, kebijakan fiskal ekspansif pemerintah juga diyakini akan menjadi penopang konsumsi secara bertahap sepanjang tahun ini. Christy menjelaskan, “Selain itu, kami tetap meyakini bahwa kebijakan fiskal yang lebih ekspansif pada tahun ini akan secara bertahap menopang konsumsi,” dalam riset terbaru yang dikutip pada Jumat (16/1/2026).
Sebagai bukti nyata dari komitmen pemerintah, alokasi anggaran perlindungan sosial pada tahun ini, di luar program Makan Bergizi Gratis (MBG), mengalami peningkatan sebesar 8,6% menjadi Rp508,2 triliun. Angka ini secara jelas mencerminkan dukungan kuat pemerintah terhadap belanja rumah tangga. Fleksibilitas dalam realokasi anggaran serta perluasan insentif Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah (PPh DTP) ke sektor pariwisata juga diharapkan dapat menyuntikkan stimulus tambahan bagi ekonomi rakyat, menguatkan fondasi sektor konsumer.
Dari perspektif fundamental emiten konsumer, pendapatan agregat sektor ini diperkirakan akan tumbuh 5,7%. Pertumbuhan ini ditopang oleh pemulihan volume penjualan yang solid serta kenaikan moderat pada harga jual rata-rata atau average selling price (ASP). Emiten-emiten dengan pangsa pasar dominan, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), dinilai memiliki kekuatan harga yang lebih tangguh untuk meneruskan kenaikan biaya input kepada konsumen mereka.
Situasi ini diperkuat oleh membaiknya dinamika pasokan komoditas global seperti gandum, kakao, dan kopi robusta. Kondisi pasar komoditas yang lebih stabil ini berpotensi besar untuk memperlebar marjin laba kotor emiten konsumer hingga sebesar 60 basis poin, menunjukkan efisiensi operasional yang meningkat.
“Kondisi tersebut diharapkan mendorong perbaikan margin secara luas, dengan margin laba kotor [gross profit margin/GPM] sektor diproyeksikan meningkat 60 basis poin dan margin operasional naik 50 basis poin,” tambah Christy, menyoroti potensi peningkatan profitabilitas yang signifikan bagi pelaku bisnis ritel dan konsumsi.
Melihat serangkaian faktor positif tersebut, BRI Danareksa Sekuritas dengan yakin mempertahankan peringkat overweight untuk sektor konsumer. Dalam rekomendasinya, saham ICBP dinobatkan sebagai pilihan utama (top pick) dengan target harga Rp11.500. Posisi kedua ditempati oleh saham MYOR, yang juga direkomendasikan dengan target harga Rp2.700 per saham, menggarisbawahi potensi investasi saham konsumer yang menarik.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Sektor konsumer Indonesia diproyeksikan tetap prospektif hingga tahun 2026, didorong oleh kenaikan upah minimum nasional dan kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan positif, memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 8,6%. Kenaikan upah minimum rata-rata 5,7% untuk 2026 dan peningkatan anggaran perlindungan sosial sebesar 8,6% menjadi Rp508,2 triliun diharapkan menopang daya beli rumah tangga dan konsumsi.
Dari sisi fundamental, pendapatan agregat emiten konsumer diperkirakan tumbuh 5,7% yang didukung pemulihan volume penjualan dan kenaikan harga. Perbaikan dinamika pasokan komoditas global juga berpotensi meningkatkan margin laba kotor hingga 60 basis poin. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight untuk sektor ini, merekomendasikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dengan target Rp11.500 dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) dengan target Rp2.700 sebagai pilihan utama.