HRTA: Gejolak Geopolitik Pacu Permintaan Emas Hartadinata Abadi

Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melihat bahwa ketegangan geopolitik global kembali memicu minat pasar terhadap emas. Konflik yang meningkat di Timur Tengah, termasuk eskalasi antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pada awal Maret 2026, menjadi pemicu kenaikan harga emas global setelah sempat terkoreksi di awal tahun.

Sepanjang Februari 2026, harga rata-rata emas tercatat US$ 5.015 per ons troi atau sekitar Rp 2.710.000 per gram. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 17% secara tahunan dan 6% dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan, harga emas sempat menyentuh US$ 5.278 per ons troi, mendekati rekor tertinggi yang dicapai pada Januari lalu.

Sebagai informasi tambahan, harga HRTA Gold per 10 Maret 2026, pukul 08.40 WIB, tercatat sebesar Rp 2.893.000 per gram.

Kenaikan harga emas di pasar domestik turut dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) menilai rupiah berada dalam kondisi *undervalued* di tengah ketidakpastian global. Pelemahan ini berkontribusi pada harga emas yang lebih tinggi dalam rupiah, meskipun fundamental pasar emas global relatif stabil.

Arah kebijakan moneter AS juga menjadi faktor penting yang diperhatikan. The Federal Reserve kembali mempertahankan suku bunga pada bulan Februari, seiring dengan inflasi yang masih di atas target. Meskipun demikian, mereka tetap membuka peluang untuk penurunan suku bunga di masa depan.

Ketegangan geopolitik menjadi katalis terbaru dalam pergerakan harga emas. Serangan militer yang menewaskan seorang pemimpin Iran pada awal Maret memicu kenaikan harga emas sekitar 1%. Lonjakan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global semakin mendorong sebagian pelaku pasar untuk menjadikan emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk, Thendra Crisnanda, menyatakan bahwa dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini kembali mengukuhkan peran emas sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, seperti konflik geopolitik dan tekanan inflasi, masyarakat cenderung beralih ke emas sebagai sarana menjaga nilai aset yang relatif stabil.

“Kami melihat minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” ujar Thendra dalam siaran pers yang diterima Kontan, Selasa (10/3/2026).

Momentum musiman dari dalam negeri turut memperkuat permintaan emas. Perayaan Tahun Baru Imlek yang berdekatan dengan Ramadan dan Idulfitri secara tradisional menjadi periode peningkatan pembelian emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun emas batangan yang sering dijadikan hadiah atau tabungan keluarga.

Thendra menambahkan bahwa faktor musiman ini sering kali memberikan dorongan tambahan bagi permintaan emas di pasar domestik.

“Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, biasanya terjadi peningkatan aktivitas pembelian emas. Selain sebagai hadiah, masyarakat juga semakin melihat emas sebagai salah satu cara menabung untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang,” jelasnya.

Selain permintaan dari masyarakat, tren akumulasi emas oleh bank sentral juga memberikan sinyal kuat. BI menambah 7 ton emas ke dalam cadangan nasional sepanjang tahun 2025, sehingga total cadangan emas mencapai 85 ton pada akhir tahun. Pembelian kembali sekitar 2 ton emas pada Januari 2026 menandakan meningkatnya kepercayaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai dalam cadangan negara.

Dari sisi kebijakan, pemerintah juga berupaya memperkuat ekosistem emas domestik. Kementerian Keuangan mulai memberlakukan bea ekspor produk emas sejak Desember 2025, dengan tarif berkisar antara 7,5% hingga 12,5%. Tarif ini meningkat menjadi 10%–15% ketika harga emas melampaui US$ 3.200 per ons troi, dengan tujuan menjaga pasokan emas di dalam negeri dan mendorong pengolahan bernilai tambah.

Sementara itu, tarif PPh 22 untuk transaksi emas batangan ritel telah dipangkas menjadi 0,25%, yang diharapkan dapat menekan biaya perdagangan bagi konsumen.

Ke depannya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis utama dari AS, termasuk rilis data tenaga kerja, inflasi (CPI), serta keputusan FOMC yang berpotensi memengaruhi arah harga emas global.

Beberapa institusi keuangan global bahkan mulai menaikkan proyeksi harga emas. Goldman Sachs meningkatkan target harga emas menjadi US$ 5.400 per ons troi untuk tahun 2026, dari sebelumnya US$ 4.900 per ons troi. Sementara itu, JP Morgan memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$ 6.000 per ons troi dalam jangka panjang, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan institusi di tengah kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang global.

“Dengan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta momentum permintaan domestik menjelang Ramadan, emas diperkirakan akan tetap menjadi pilihan aset lindung nilai bagi masyarakat untuk ditabung dalam jangka panjang,” pungkas Thendra.

Ringkasan

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatat meningkatnya minat pasar terhadap emas akibat ketegangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah. Harga emas global mengalami peningkatan signifikan, didorong oleh ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) menilai rupiah dalam kondisi *undervalued* yang turut memengaruhi harga emas domestik.

Selain faktor geopolitik, momentum musiman menjelang Ramadan dan Idulfitri juga meningkatkan permintaan emas di Indonesia. Bank sentral, termasuk BI, terus mengakumulasi emas sebagai aset lindung nilai. Beberapa institusi keuangan global, seperti Goldman Sachs dan JP Morgan, menaikkan proyeksi harga emas di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *