Jakarta, IDN Times — Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah kian memperkeruh suasana ekonomi global. Lonjakan harga minyak sebagai imbasnya, kini memicu kekhawatiran serius terhadap prospek inflasi di Amerika Serikat. Situasi pelik ini turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Ketegangan yang melibatkan Iran, serta instabilitas yang terus membayangi kawasan Teluk Persia, telah menyebabkan disrupsi pada jalur energi global. Selat Hormuz, urat nadi perdagangan minyak dunia, turut merasakan dampaknya. Akibatnya, harga minyak melonjak tajam, memaksa para pelaku pasar untuk mengevaluasi ulang asumsi-asumsi mereka terkait inflasi dan potensi pemangkasan suku bunga di AS.
1. Harga Minyak Meroket, Ekspektasi Suku Bunga Berubah

Kenaikan harga minyak yang signifikan memaksa pelaku pasar untuk kembali menimbang dampaknya terhadap inflasi di Amerika Serikat. Beberapa hari terakhir, imbal hasil obligasi Treasury AS menunjukkan peningkatan, sementara harapan akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin meredup.
Para analis dan trader meyakini bahwa lonjakan harga minyak mentah berpotensi memperlambat upaya The Fed untuk mencapai target inflasi 2 persen. Kondisi ini menempatkan bank sentral AS dalam posisi sulit, di mana mereka harus cermat mengukur seberapa besar tekanan inflasi yang mungkin timbul jika harga energi bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lama.
Thierry Wizman dari Macquarie menyoroti bahwa konflik bersenjata sering kali menjadi pemicu tekanan inflasi karena mengganggu rantai pasokan global.
“Seperti yang kita saksikan pada tahun 2022, perang terbukti bersifat ‘inflasioner’ karena berkaitan erat dengan guncangan pasokan yang bersifat negatif,” tulis Wizman dalam sebuah catatan kepada kliennya.
Wizman menambahkan bahwa situasi peperangan dapat mempersulit tugas bank sentral dalam mengendalikan inflasi. “‘Anjing-anjing’ perang ini bisa menggigit tangan para bankir sentral, karena prospek inflasi yang kembali meningkat dapat memicu sinyal kebijakan moneter yang lebih hawkish,” imbuhnya.
2. Selat Hormuz: Titik Krusial Pasokan Energi Dunia

Lonjakan harga minyak tak lepas dari kekhawatiran mendalam terhadap keamanan jalur energi di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah ini dapat berakibat fatal bagi pasokan global.
Menurut para analis energi, sekitar 20 juta barel minyak per hari, serta sekitar 10 miliar kaki kubik gas alam cair (LNG), melewati kawasan strategis ini setiap harinya. Angka ini menunjukkan betapa krusialnya Selat Hormuz bagi stabilitas pasokan energi dunia.
Clay Seigle, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengungkapkan bahwa pasar saat ini menghadapi dua potensi gangguan utama: kemampuan kapal untuk melewati selat dengan aman, dan kelancaran operasional terminal ekspor energi di kawasan tersebut.
“Kita mulai melihat dua titik potensi kegagalan yang memengaruhi pasar saat ini,” kata Seigle, seperti dilansir Yahoo Finance.
Ia menggambarkan kondisi yang ada sebagai kombinasi risiko yang sangat besar bagi pasokan minyak global. “Ini semacam badai sempurna bagi gangguan pasokan minyak,” tambahnya.
Seiring meningkatnya kekhawatiran tersebut, harga minyak Brent—yang menjadi acuan internasional—telah melonjak sekitar 15 persen dari penutupan perdagangan Jumat minggu lalu. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di AS juga mengalami peningkatan signifikan, yakni sekitar 14 persen.
3. Dampak Berantai ke Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Lonjakan harga minyak juga diperkirakan akan memberikan dampak yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi di Amerika Serikat. Goldman Sachs memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 dolar AS per barel secara berkelanjutan, berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2026 sekitar 0,1 poin persentase. Hal ini terutama disebabkan oleh tekanan yang diberikan pada pendapatan riil konsumen.
Dalam hal inflasi, dampaknya diperkirakan akan muncul lebih cepat. Goldman Sachs memprediksi bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan inflasi inti (core CPI) sekitar 4 basis poin, dan inflasi utama (headline CPI) sekitar 28 basis poin. Jika harga minyak bertahan tinggi selama beberapa bulan, inflasi tahunan dapat kembali mendekati angka 3 persen untuk sementara waktu.
Torsten Sløk dari Apollo Global bahkan memperkirakan skenario yang lebih ekstrem. Menurutnya, jika harga minyak naik hingga 50 dolar AS per barel, inflasi pada kuartal kedua bisa meningkat satu poin persentase dibandingkan dengan proyeksi dasar.
Kyle Rodda dari Capital juga menilai bahwa lonjakan harga energi semakin memperkuat kekhawatiran pasar bahwa inflasi di Amerika Serikat dapat tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. “Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran yang sudah ada di pasar bahwa inflasi, setidaknya di Amerika Serikat, bisa cukup sulit untuk diturunkan,” ujar Rodda.
4. Pejabat The Fed Mulai Mencermati Dampaknya

Beberapa pejabat Federal Reserve juga mulai memberikan perhatian khusus terhadap dampak konflik geopolitik terhadap prospek ekonomi. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan bahwa konflik di Iran berpotensi memengaruhi proyeksi inflasi serta menambah ketidakpastian ekonomi.
“Kenaikan harga energi jelas merupakan sesuatu yang akan memengaruhi prospek inflasi dalam jangka pendek,” ujar Williams, seperti dilansir Bloomberg.
“Kita harus melihat seberapa lama dan seberapa persisten kondisi ini, tetapi hal tersebut akan berdampak pada inflasi secara keseluruhan,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bahwa dirinya kini tidak lagi seoptimistis sebelumnya mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
“Dengan peristiwa geopolitik ini, kita perlu mendapatkan lebih banyak data,” kata Kashkari.
Saat ini, mayoritas pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen dalam pertemuan bulan Maret mendatang. Bahkan, semakin banyak prediksi yang menyebutkan bahwa suku bunga mungkin akan tetap tidak berubah hingga bulan Juni.
Luhut Waspadai Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS Purbaya Jamin APBN Masih Kuat Tahan Harga Minyak hingga 92 Dolar AS Harga Minyak Dunia Naik Imbas Serangan AS-Israel ke Iran
Ringkasan
Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat dan mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Ketegangan di kawasan Teluk Persia mengganggu jalur energi global, khususnya Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak dunia. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlambat upaya The Fed mencapai target inflasi 2 persen dan menempatkan bank sentral AS dalam posisi sulit.
Para analis memperkirakan kenaikan harga minyak dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatkan inflasi. Beberapa pejabat The Fed mulai mencermati dampak konflik geopolitik terhadap prospek ekonomi dan kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan hingga setidaknya bulan Juni.